IDUL Fitri secara harfiah adalah berbuka atau berhenti puasa. Tetapi hari bersejarah setiap tanggal 1 Syawal termasuk tahun 1433 H/2012 tahun ini tentunya maksudnya lebih dalam. Bukan hanya merayakanya dengan makan-minum bersama sanak keluarga baik di kampung maupun di perantauan, melainkan etiap umat Islam jelas juga akan berhitung apa yang telah dilakukan selama ini sudah baik atau justru sebaliknya, dan puasa sebulan penuh selama Ramadhan ini diharapkan melahirkan perubahan.

Puasa tidak hanya melaksanakan kewajiban yang diperintahkan Allah Yang Maha Kuasa. Puasa juga untuk melatih diri, termasuk kejujuran. Benar tidaknya seseorang itu berpuasa terpulang pada diri yang bersangkutan. Bisa saja seseorang mengaku berpuasa, tetapi secara diam-diam makan di sebuah warung bertutup layar/terpal. Jadi, puasa melatih kejujuran.

Puasa adalah urusan masing-masing manusia dengan Allah Yang Maha Mengetahui. Karena itu, siapa pun umat Islam, terutama yang telah dewasa, dapat menjadikan kewajiban berpuasa sebulan penuh untuk mengoreksi diri, kemudian tidak mengulangi kesalahan dan terus memupuk perbuatan yang berguna bagi diri, keluarga, dan masyarakat.

Terlebih bagi para pengambil kebijakan-eksekutif, legislatif, dan yudikatif-jika saja Idul Fitri mampu menjadikan mereka “kembali” kepada fitrah yang suci, layaknya ketika baru dilahirkan, dijamin negeri ini akan berubah 180 derajat. Apa yang diprogramkan tentunya akan mudah menjadi kenyataan, termasuk memakmurkan bangsa.

Idul Fitri, yang insya Allah akan kita lalui (di Indonesia) Minggu (19/8) besok, semoga saja mampu melahirkan dan menciptakan pembaruan. Mudah-mudahan Idul Fiti mengembalikan atau mengantar kita pada naluri kemanusiaan murni, kembali kepada kejujuran, jauh dari keserakahan, dan tidak hanya mementingkan diri sendiri.

Mudah-mudahan pula Ramadhan yang segera berakhir ini tidak hanya sekadar menahan haus dan lapar, tetapi juga menyadarkan untuk berbuat lebih terbaik. Apalagi Idul Fitri tahun ini sangat berdekatan dengan hari ulang tahun ke-67 Kemerdekaan Republik Indonesia, Jumat (17/8) kemarin. Semoga saja itu tidak hanya suatu kebetulan, tetapi benar-benar merupakan momen penting untuk mengantar negara dan bangsa ke arah lebih baik.

Kita berharap, Idul Fitri mendorong kita dan terlebih pemimpin bangsa melakukan perubahan, melakukan yang terbaik. Mudah-mudahan pula pemimpin tertinggi di Republik ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, mampu memimpin bangsa dan negara dengan menjalankan amanah. Bukan saja tetap menjaga keutuhan bangsa dan negara, melainkan juga tegas menumpas kebatilan dan segala kemungkaran, termasuk perbuatan korupsi. Jangan biarkan Indonesia disandera para koruptor.