Arsip

Archive for Februari, 2012

28 Feb 2012 3 komentar
Iklan
Kategori:Uncategorized

HIKMAH DI BALIK SABAR

26 Feb 2012 40 komentar

Kesabaran merupakan sebuah amalan yang memiliki keutamaan disisi Allah karena dengan kesabaran inilah para nabi dan rasul berhasil mengajak umat manusia untuk beribadah hanya kepada Allah semata, walaupun dengan banyaknya musibah dan cobaan yang datang dari orang-orang yang menentangnya. Demikian juga kesabaran yang dimiliki orang-orang pada masa sekarang ini, hanyalah orang yang bersabar yang memiliki kedudukan yang tinggi dibanding orang-orang yang tidak sabar, berbagai problem dalam kehidupan bermasyarakat telah menjadi tolok ukur untuk menyaring siapa saja yang sanggup menghadapi berbagai permasalahan yang menimpa dan hanya orang-orang yang mampu bersabar yang akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Allah l berfirman di dalam surah Muhammad ayat 31 yang artinya: “Dan Sesungguhnya kami benar-benar akan menguji kamu agar kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu”.

Dalam hal ini ada dua golongan manusia ketika musibah datang sebagaimana banyaknya musibah yang terjadi akhir-akhir ini dari berbagai bencana alam baik tsunami, banjr, tanah longsor, gempa, dan erupsi gunung berapi yang telah membinasakan semua harta benda yang selama ini dijadikan kebanggaan sebagian orang Baca selengkapnya…

Kategori:Uncategorized

INDAHNYA KEBERSAMAAN DALAM ISLAM

Sebuah harapan yang sangat mulia, disaat kita hidup dalam masyarakat yang berbeda-beda suku, agama dan tradisi adalah indahnya kebersamaan dalam perbedaan. Islam adalah agama rohmatan lilalamin. Maknanya adalah bahwa Islam itu indah dan dihadirkan dengan keindahan untuk menuai keindahan. Islam bukan agama yang mendoktrin pengikutnya agar bembinasakan yang berbeda dengannya. Sungguh sangat berbeda dengan agama lain yang prinsip utama dalam menjaga kelestarianya adalah membinasakan semua yang berbeda dengannya dalam idiologi. Artinya menurutnya hidup bersama agama lain adalah butuh suatu toleransi. Maknanya adalah menyambut hidup dalam bersama dalam perbedaan adalah hanya sebatas perkenan atau toleransi yang artinya sebenarnya tidak boleh hidup bersamanya akan tetapi karna satu hal maka menjadi boleh.

Berbeda dengan Islam, menyambut keragaman dalam bermasyrakat adalah kewajiban bukan sekedar toleransi. Perbedaan agama bukan berarti harus membinasakan. Maka dari itu bisa dilahat ketetapan hukum dalam Islam bahwa dalam hidup bertetangga kita wajib memperhatikan tetangga kita biarpun ia berbeda agama dengan kita. Jika sakit kita wajib memberinya obat dan jika kelaparan kita wajib memberinya makan bahkan jika ada yang menggangunya kita harus menolongnya.

Akan tetapi ada hal yan harus diperhatikan bagi orang yang ingin menjalin kebersamaan dalam perbedaan yaitu pendirian dan prinsip. Orang yang tidak punya prinsip atau yang prinsip dalam beragamanya adalah membinasakan yang berbeda tidak akan bisa menjalin hidup bersama dalam berbedaan.

Jadi ada dua kelompok manusia yang mereka itu adalah musuh-musuh dalam kebersamaan
• Orang yang prinsip dan doktin agamanya tidak bisa menerima keberadaan agama lain. Seperti agama yahudi yang doktrin agama ini adalah manusia ini adalah lebih rendah dari binatang yang tidak boleh diberi kesempatan hidup, berkembang dan maju. Maka konflik yang terjadi antara yahudi dan Islam adalah konflik tidak mungkin diselesaikan dengan damai. Ketidak mungkinan ini bukan Karena Islam tidak memperkenankan atu tidak mau. Akan tetapi hal itu karena memang doktrin agama yahudi adalah agar membinasakan orang selain yahudi. Maka seandainya ada yahudi yang bersepakat untuk berdamai hal itu bukan berarti benar-benar akan memperjuangkan perdamain. Akan tetapi hal itu akan dijadikan kesempatan oleh mereka untuk mempersiapkan pembinasaan kepada yang berbeda. Maka perdamaian atau menjalin hidup indah dengan yahudi atau agama lain yang prinsip kelestarianya adalah membinasakan yang lain adalah mustahil kecuali mereka telah merubah semua doktrin pembinasaan yang amat mereka pegang dan yakini.

• Orang yang tidak punyak prinsip dalam beragama. Artinya ia sendiri tidak meyakini kebenaran agama yang dipeluknya. Sehingga mereka cenderung mengatakan semua agama sama-sama benar. Ini adalah sekelompok manusia yang tidak akan bisa hidup bersama dalam pebedaaan. Karena ia tidak tahu perbedaan maka iapun tidak mengerti bagaimana menyikapi perbedaan. Orang seperti ini akan sangat berbahaya kepada teman-temannya yang seiman. Orang ini akan mudah bergandengan dengan orang yang tidak seiman dengannya akan tetapi amat mudah membuat permusuhan kepada orang yang seiman. Ia akan selalu menjadi duri didalam daging bagi sahabat-sahabatnya. Dalam hal ini bisa kita lihat dalam Islam liberal. Orang yang bergabung dengan kelompok ini akan kehilangan prinsip dalam beragama. Tidak punya ketegasan dalam menentukan sebuah keyakinan. Bahkan hampir ia tidak mengerti kesesatan dalam beragama atau pelanggaran dalam beragama. Maka banyak orang yang melanggar agama justru dibelanya. Karna ia belum mengerti perbedaan yang harus disadari sebagai hal yang tidak harus menjadikanya bermusuhan dan beradu fisik. Sangat berbeda dengan ajaran Islam yang prinsip dasarnya adalah rahmatan lilalamin (membuat keindahan di jagat raya).

Maka didalam Islam ada prinsip ketegasan dalam menentukan perbedaan untuk kemudian disikapi dengan bijak dan benar sesuai dengan prinsip rahmatan lilalamin. Disaat agama Islam mengatakan agama lain adalah kafir dan salah bukan berati harus membinasakanya. Bahkan didalam Islam dilarang memerangi agama lain kecuali mereka memulai peperangan tersebut. Kita tidak boleh memulai membuat keributan dengan orang yahudi atau yang lainya, akan tetapi jika mereka telah memulai seperti yang terjadi di palestina saat ini maka kitapuan harus bangkit melawan mereka. Begitu juga dengan sesama yang seagama, Islam mengajarkan kemesraan yang sesungguhnya. Sungguh suatu yang mengherankan jika ada orang bisa mesra dengan orang lain akan tetapi dengan keluarga sendiri bermusuhan, maka belumlah ia menjadi pejuang keindahan dalam kebersamaan. Biasanya hal itu muncul dari musuh keindahan kelompok kedua yaitu orang-orang yang tidak punya prinsip.
Wallahu a’lam bishshowab.

Kategori:Uncategorized

MAULID NABI

1
Peringatan Maulid Nabi shallallahu `alaihi Wasallam
(Tinjauan Sejarah dan Hukumnya menurut islam) *
a. Sejarah peringatan maulid:
Seluruh ulama sepakat bahwa maulid Nabi tidak pernah diperingati pada masa Nabi
shallallahu `alaihi wasallam hidup dan tidak juga pada masa pemerintahan
khulafaurrasyidin.
Lalu kapan dimulainya peringatan maulid Nabi dan siapa yang pertama kali
mengadakannya?
Al Maqrizy (seorang ahli sejarah islam) dalam bukunya “Al khutath” menjelaskan
bahwa maulid Nabi mulai diperingati pada abad IV Hijriyah oleh Dinasti Fathimiyyun di
Mesir.
Dynasti Fathimiyyun mulai menguasai mesir pada tahun 362 H dengan raja
pertamanya Al Muiz lidinillah, di awal tahun menaklukkan Mesir dia membuat enam
perayaan hari lahir sekaligus; hari lahir ( maulid ) Nabi, hari lahir Ali bin Abi Thalib, hari
lahir Fatimah, hari lahir Hasan, hari lahir Husein dan hari lahir raja yang berkuasa.
Kemudian pada tahun 487 H pada masa pemerintahan Al Afdhal peringatan enam
hari lahir tersebut dihapuskan dan tidak diperingati, raja ini meninggal pada tahun 515 H.
Pada tahun 515 H dilantik Raja yang baru bergelar Al amir liahkamillah, dia
menghidupkan kembali peringatan enam maulid tersebut, begitulah seterusnya peringatan
maulid Nabi shallallahu `alaihi wasallam yang jatuh pada bulan Rabiul awal diperingati
dari tahun ke tahun hingga zaman sekarang dan meluas hampir ke seluruh dunia.
b.Hakikat Dynasti Fathimiyyun:
Abu Syamah (ahli hadist dan tarikh wafat th 665 H) Baca selengkapnya…

Kategori:Uncategorized

HUKUM AIR MADZI

Para ulama fiqih mengartikan air madzi di antaranya sebagai berikut:

المذى هو ماء أبيض رقيق يخرج بلا شهوة قوية عند ثورانها

Artinya: Air madzi adalah air yang berwarna putih, lembut (tidak terlalu kental), ia keluar bukan karena syahwat yang kuat (ada syahwat tapi tidak terlalu kuat).

Di antara ciri-ciri air madzi adalah:

Berwarna putih, lembut dan tidak kental.
Apabila dipegang terasa sedikit kasar
Keluar bukan karena syahwat yang kuat tapi syahwat yang kecil dan biasa. Misalnya, seseorang karena melihat sesuatu yang merangsang, tiba-tiba ada cairan di kemaluannya.
Keluarnya tidak menimbulkan kenikmatan dan tidak mengurangi syahwat, kebalikan dari air mani.
Keluarnya tidak terpancar, tapi keluar biasa seperti air mengalir
Setelah air ini keluar, badan tidak terasa letih dan tidak terasa lemas.

Perlu juga saya sampaikan, sering keluar air madzi adalah wajar, normal, bukan kelainan kelamin. Umumnya terjadi kepada laki-laki atau perempuan yang sudah masuk puber dan belum menikah. Biasanya, begitu sudah menikah, jarang lagi keluar madzi. Dan perlu diketahui, perempuan jauh lebih banyak keluar madzi dari pada laki-laki.
Saya katakan bukan kelainan kelamin, karena ini juga pernah menimpa Imam Ali bin Abi Thalib. Perhatikan dalam hadits muttafaq ‘alaih berikut ini:

عَنْ عَلِىٍّ بن أبي طالب قَالَ: كُنْتُ رَجُلاً مَذَّاءً، وَكُنْتُ أَسْتَحْيِى أَنْ أَسْأَلَ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم لِمَكَانِ ابْنَتِهِ، فَأَمَرْتُ الْمِقْدَادَ بْنَ الأَسْوَدِ فَسَأَلَهُ، فَقَالَ: ((يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَيَتَوَضَّأُ)) [متفق عليه]

Artinya: “Ali bin Abi Thalib berkata: “Saya adalah seseorang yang banyak keluar air madzi. Saya malu bertanya kepada Rasulullah saw karena kedudukan putrinya (maksudnya karena putri Rasulullah saw adalah istri Ali). Saya lalu meminta al-Miqdad bin al-Aswad untuk menanyakannya, dan Rasulullah saw menjawab: “Kemaluannya dicuci dan berwudhu” (HR. Muttafaq a’laih).

Dari hadits ini para ulama mengambil beberapa kesimpulan hukum, seperti misalnya yang disampaikan oleh Imam Nawawi dalan Syarah-nya terhadap Shahih Muslim:
Pertama, para ulama telah Ijma’ (sepakat), orang yang keluar madzi tidak wajib mandi besar. Yang mandi wajib besar adalah jika keluar air mani.
Kedua, air madzi adalah najis, dan karenanya harus dicuci. Jika air madzi tersebut mengena celana, atau baju, maka bagian celana atau baju yang terkena madzi tersebut harus dicuci, syukur-syukur diganti dengan celana atau baju lainnya. Jika air madzi tersebut tidak mengenai baju atau celana masih berada di ujung kemaluan, maka ujung kemaluan itu harus dicuci.
Ketiga, karena air madzi adalah najis, maka ia membatalkan wudhu. Artinya, ia harus berwudhu kembali jika hendak melakukan shalat.

Perlu juga diketahui, bahwa shalat lima waktu adalah kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah yang sudah balig. Selama dia hidup, apapun keadaannya, tetap diwajibkan melakukan shalat. Termasuk yang sering keluar air madzi, tetap wajib shalat. Apabila yang sakit parah dan sekarat saja, selama masih ingat, masih tetap wajib shalat, maka apalagi yang hanya sering keluar air madzi. Demikian Mas, terima kasih.

Hanya, seperti yang saya jelaskan di atas, setiap kali keluar air madzi, maka cuci bagian yang terkena, lalu wudhu lagi lalu shalat.
Namun, jika air madzi nya itu keluar di luar normal, misalnya bukan karena melihat sesuatu yang merangsang sedikit, akan tetapi sudah seperti penyakit, bahwa ia keluar kapan saja dan terus menerus sekalipun tidak ada sedikit syahwat, maka yang demikian dikategorikan ‘udzur syar’i. Sebagaimana dengan darah istihadhah.

Untuk yang ‘udzur ini, maka begitu ia melihat ada air madzi keluar, cuci terlebih dahulu bagian yang terkena air madzi tersebut, lalu shalatlah. Jika di tengah shalat air itu keluar lagi, maka teruskan shalat dan tidak perlu mengulangi wudhu. Hanya, perlu juga diketahui, untuk yang kondisi ‘udzur ini, satu wudhu hanya dapat dipakai untuk satu shalat. Tidak boleh satu wudhu untuk dua shalat. Misalnya, wudhu untuk shalat zhuhur, hanya dapat dipakai untuk shalat zhuhur saja. Begitu hendak shalat Ashar, ia harus mencuci bagian yang terkena madzi lagi dan harus wudhu lagi. Demikian seterusnya.

Perlu juga diketahui, kata madzi boleh dibaca dengan tiga bacaan.
Pertama, boleh dibaca madzyi (dengan membaca fathah huruf mim dan membaca sukun huruf dza).
Kedua, boleh dibaca madziyy (dengan membaca kasrah huruf dza, dan mentasydid huruf ya).
Ketiga, boleh juga dibaca madzi (dengan membaca kasrah huruf dza dan membaca sukun huruf ya).

Hanya, dari ketiga bacaan di atas, menurut Imam Nawawi, bacaan yang paling masyhur dan tepat adalah bacaan pertama, yaitu madzyi. Demikian, semoga bermanfaat, wallâhu a’lam bis shawâb.

sumber
http://www.penerbitzaman.com

Kategori:Uncategorized

BOLEHKAH MERUQIYAH DIRI SENDIRI?

Sumber: Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, Darul Haq Cetakan: VI. 2011.

Pertanyaan:
Apakah mungkin bagi seorang muslim mengobati dirinya dengan dirinya sendiri dengan cara membaca dan meludah sedikit di air?

Jawaban:
Meruqyah Diri Sendiri

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam apabila merasakan sakit, meludah sedikit di tangannya (tiga kali) dengan membaca Qulhuwallahu Ahad dan Mu’awwidzatain (An Nas dan Al Falaq), beliau mengusap dengan kedua tangannya pada setiap kali apa yang bisa disentuh dari bagian tubuhnya ketika beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam akan tidur, dimulai dengan kepala, wajah dan dadanya. Sebagaimana yang diberitakan Aisyah dalam hadis yang shahih. Jibril merquyah beliau di air ketika sakit dengan ucapannya, “Dengan nama Allah aku meruqyahmu, dari setiap penyakit yang menyakitimu, dari kejahatan setiap jiwa atau ‘ain orang yang dengki, Allah akan menyembuhkanmu, dengan nama Allah aku meruqyahmu.” (tiga kali) dan ruqyah ini disyariatkan dan bermanfaat.

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam membaca di air untuk Tsabit Qais dan memerintahkan menyiramkan air tersebut untuknya, sebagaimana Abu Daud meriwayatkan hal itu dalam Ath-Thib dengan isnad yang hasan, dan berbagai macam ruqyah lainnya selain ruqyah ini yang terjadi di masanya. Di antaranya bahwa beliau meruqyah sebagaian orang yang sakit dengan doa beliau, “Ya Allah, Rab manusia, hilangkanlah penyakit dan sembuhkanlah, Engkaulah Yang Maha Menyembuhkan, tidak ada kesembuhan selain kesembuhan (yang berasal dari)Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan sakit yang lain.”

Kategori:Uncategorized

BAGAIMANA HUKUM ORANG YANG TDK BERHUKUM ALLAH?

Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdur Rahman Al-Jibrin hafizhahullah. Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Al-Syaikh rahimahullah dalam risalahnya berjudul: “Penerapan Hukum Sekuler”, menyatakan bahwa menerapkan hukum selain hukum Allah adalah kekafiran yang berat. Beliau berkata: “Hal ini merupakan kekafiran yang paling berat, paling menyeluruh, paling jelas perlawanannya terhadap syariat, keangkuhannya terhadap hukum Allah, penentangannya terhadap hukum Allah dan Rasul-Nya, serta pelecehannya terhadap peradilan-peradilan syariat, baik sebagai lembaga, pengawasan, bentuk formalitas, hukum dan penerapan, serta sumber dan landasannya.

Sebagaimana peradilan-peradilan syariat memiliki sumber-sumber dan landasan-landasan, yaitu seluruhnya bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka peradilan-peradilan sekuler juga mempunyai sumber-sumber, yaitu undang-undang yang diramu dari berbagai macam hukum dan banyak undang-undang, seperti Hukum Perancis, Hukum Amerika, Hukum Inggris, dan hukum-hukum lain, juga bersumber pada aliran-aliran bid’ah yang mengatasnamakan syariat dan lain-lainnya.

Peradilan-peradilan seperti ini sekarang banyak terdapat di negeri-negeri Islam. Pintunya terbuka sehingga banyak orang pergi ke peradilan ini. Mereka bagaikan meneguk air fatamorgana. Para hakimnya memutuskan perkara mereka dengan hukum yang menyalahi Al-Qur’an dan Sunnah karena mereka mengambil hukum dan berpegang kepada undang-undang sekuler dan menerapkannya kepada mereka. Maka dari itu, kekafiran manakah yang lebih berat daripada kekafiran ini?” [1]

Pada jawabannya yang lain beliau rahimahullah berkata: “Adapun terhadap orang yang berkata bahwa kekafiran dalam hal ini bukanlah kekafiran yang hakiki bilamana seseorang yang menerapkan hukum selain hukum Allah tetap berkeyakinan bahwa perbuatannya ia adalah perbuatan durhaka dan hukum yang benar adalah hukum Allah, maka dapat dikatakan bahwa inilah yang dinamakan perbuatan iblir. Adapun orang yang membuat undang-undang sekuler maka ia telah kafir sekalipun mereka mengakui bahwa mereka telah berbuat salah dan hukum syariat lebih adil.” [2]

Syaikh yang terhormat, bukankah perkataan Syaikh Muhammad bin Ibrahim itu benar sejalan dan selaras dengan kaidah-kaidah Ahlus Sunnah? Adakah perkataan lain dari Syaikh Muhammad bin Ibrahim yang bertentangan dengan perkataannya terdahulu? Hal ini karena salah seorang teman kami orang Mesir bernama Khalid Al-Anbari di dalam bukunya berjudul: “Menerapkan Hukum Selain Hukum Allah dan Dasar-dasar Berpikir”, menulis bahwa Syaikh Muhammad bin Ibrahim menyatakan perkataan lain dan hal itu dikaitkan kepada anda. Di dalam bukunya itu ia berkata: “Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdur Rahman Al-Jibrin menceritakan kepada saya bahwa Syaikh Muhammad bin Ibrahim telah menyatakan pendapat lain…” (hlm. 131)

Kami mengharap dari anda jawaban yang cukup jelas dalam masalah ini. Semoga Allah memberi balasan kebaikan kepada anda.

Jawab:

Segala pernyaaan syukur bagi Allah semata. Selanjutnya, Syaikh kita dan ayah kami Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Al-Syaikh adalah seorang yang sangat keras menolak hal-hal yang dibuat-buat dan perkara-perkara bid’ah. Perkataan beliau sebagaimana yang telah disebutkan adalah hal yang paling jelas berkenaan pendapat beliau tentang undang-undang atau hukum sekuler. Kami pernah mendengar perkataan beliau tentang suatu keputusan bahwa beliau mencela dan bersikap keras kepada ahli bid’ah, termasuk mereka yang menyalahi syariat dan membuat hukum atau undang-undang yang menyaingi hukum Allah. Beliau berlepas diri dari perbuatan-perbuatan mereka dan menyatakan bahwa mereka itu telah murtad serta keluar dari Islam, karena orang-orang seperti ini telah melecehkan syariat, termasuk hukum-hukumnya, dan menganggap syariat sebagai hukum kejam, seperti hukum qishash pada perkara pembunuhan, hukum potong tangan pada perkara pencurian, hukum rajam pada perkara perzinaan. Mereka membolehkan manusia melakukan perbuatan zina selama suka sama suka, dan sebagainya. Amat sering beliau menyatakan penentangannya terhadap hal ini ketika beliau menyampaikan pelajaran fiqh, aqidah, dan tauhid.

Saya tidak pernah ingat bahwa beliau mencabut pendapatnya itu atau beliau mempunyai pernyataan yang membenarkan penerapan hukum selain hukum Allah atau memberikan jalan kepada manusia untuk menerapkan hukum thaghut dengan menjalankan hukum selain hukum Allah. Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab menganggap mereka ini sebagai tokoh-tokoh thaghut. Barangsiapa yang menceritakan dari saya bahwa beliau telah mencabut pernyataan beliau, maka ceritanya itu sungguh salah. Rujukan bagi hal seperti ini adalah ketetapan-ketetapan syariat dalam Al-Qur’an dan Sunnah serta pernyataan ulama-ulama terkemuka seperti yang tersebut dalam Kitaabut Tauhiid, bab firman Allah: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu?” (QS. An-Nisaa’: 60) dan penjelasan-penjelasannya yang disusun oleh para tokoh dakwah Islam serta buku-buku lain yang memberi penjelasan secara gamblang mengenai masalah ini. Wallaahu a’lam.

Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarganya, dan para shahabatnya. [Fatwa Syaikh Ibnu Jibrin pada 14/5/1417 H]

Soal: Apakah orang yang tidak menerapkan hukum Allah dinyatakan kafir dengan kekafiran yang berat tetapi amal-amalnya masih diterima?

Jawab:

Segala pernyataan syukur bagi Allah semata. Shalawat dan salam untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarganya, dan para shahabatnya. Allah berfirman:

“… Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Maaidah: 44)

“… Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah maka mereka itu adalah orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Maaidah: 45)

“… Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Maaidah: 47)

Jika orang itu beranggapan halal berbuat demikian dan berkeyakinan boleh menerapkan hukum selain hukum Allah, maka ia telah kafir dengan kekafiran yang berat, melakukan kezhaliman yang berat, dan melakukan kefasikan yang amat berat, yang mengeluarkannya dari Islam. Akan tetapi, bila ia berbuat demikian itu karena suap atau maksud lain sedangkan dirinya tetap berkeyakinan bahwa menerapkan hukum selain hukum Allah adalah haram maka ia telah berbuat dosa dan dianggap melakukan kekafiran ringan, kezhaliman ringan, dan kefasikan ringan, tidak menyebabkannya keluar dari Islam. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh para ahli ilmu dalam menafsirkan ayat-ayat tersebut.

Billaahit taufiiq. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarganya, dan para shahabatnya. [Fataawa Lajnah Daaimah lil Buhutsil Ilmiyyah wal Ifta’, hlm. 540]

Soal: Apakah para hakim yang memutuskan perkara dengan hukum-hukum selain hukum Allah dikategorikan kafir? Jika kita mengatakan bahwa mereka itu muslim, bagaimanakah penjelasan kita tentang firman Allah:

“… Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Maaidah: 44)

Jawab:

Para hakim yang memutuskan perkara dengan hukum selain hukum Allah ada beberapa macam. Keadaan mereka berbeda-beda sesuai dengan keyakinan mereka dan perbuatan mereka.

Hakim yang memutuskan perkara menggunakan hukum selain hukum Allah dengan anggapan bahwa hukum yang diterapkannya itu lebih baik daripada syariat Allah maka ia telah kafir berdasarkan pendapat segenap kaum muslim. Begitu pula orang yang menetapkan hukum-hukum sekuler sebagai ganti dari hukum Allah dan beranggapan bahwa hal seperti itu boleh dilakukan maka ia telah kafir. Demikianlah, karena orang ini telah menghalalkan apa yang diharamkan Allah, sekalipun ia beranggapan bahwa hukum syariat lebih baik daripada hukum sekuler.

Adapun hakim yang menerapkan hukum selain syariat Allah guna mengikuti hawa nafsu atau suap atau rasa permusuhan antara dirinya dengan terdakwa atau terhukum atau sebab-sebab lain dan menyadari bahwa dirinya telah melakukan tindakan durhaka kepada Allah dan dirinya wajib melaksanakan syariat Allah, maka orang seperti ini dikategorikan sebagai pelaku kedurhakaan dan dosa besar. Ia juga dianggap telah melakukan kekafiran ringan, kezhaliman ringan, dan kefasikan ringan, seperti yang dimaksud dalam pernyataan Ibnu ‘Abbas, Thawus, dan sejumlah ulama salaf yang shalih serta hal ini telah populer di kalangan ahli ilmu. Wallahu waliyyut taufiiq. [Syaikh Bin Baz, Majallatud Dakwah, no. 963, 1405 H]

Soal: Bagaimana hukumnya orang yang menetapkan hukum dengan selain hukum Allah?

Jawab:

Menetapkan hukum dengan hukum Allah termasuk melaksanakan tauhid rububiyyah karena menerapkan hukum Allah merupakan tuntutan dari rububiyyah Allah, kesempurnaan kekuasaan-Nya, dan pengendalian-Nya terhadap makhluk-Nya. Oleh karena itu, orang-orang yang menjadi panutan dalam menetapkan hukum di luar hukum Allah, Allah namakan sebagai sesembahan (arbaab) bagi pengikut merek. Allah berfirman:

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mempertuhankan) Al-Masih putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At-Taubah: 31)

Para panutan ini Allah namakan arbaab (sesembahan) karena mereka ini dijadikan sebagai pembuat hukum di samping Allah; dan para pengikutnya disebut sebagai penyembah karena mereka mendudukkan diri dan menaati mereka dalam mengingkari hukum Allah.

Ady bin Hatim berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya mereka tidak menyembah para pemimpin mereka.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda:

“Bukankah mereka itu mengharamkan hal yang halal dan menghalalkan hal yang haram kepada pengikutnya lalu para pengikut itu mengikuti mereka? Itulah yang dinamakan mereka menyembah para pemimpin mereka.” [3]

Jika anda memahami hal ini maka ketahuilah bahwa orang yang tidak menghukum dengan hukum Allah dan berkehendak berhukum kepada selain Allah dan Rasul-Nya maka beberapa ayat Al-Qur’an menyatakan bahwa orang seperti ini tidak beriman dan beberapa ayat lain mengatakan bahwa ia kafir, zhalim, dan fasik.

Adapun golongan pertama, contohnya tersebut pada firman Allah:

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.

Apabila dikatakan kepada mereka: ‘Marilah kalian (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul,’ niscaya kamu lihat oraog-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.

Maka dari itu, bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa suatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: ‘Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna.’

Mereka itu adalah orang-orang yang diketahui Allah apa yang ada dalam hati mereka. Oleh karena itu, berpalinglah kamu dari mereka dan berilah mereka pelajaran dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.

Kami tidak mengutus seorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allag. Sungguh jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu lalu memohon ampun kepada Allah dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Maka dari itu, demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian dalam hati mereka tidak merasa keberatan terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerimanya dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisaa’: 60-65)

Allah menyebutkan orang yang mengaku beriman tetapi sebenarnya munafik dengan ciri-ciri sebagai berikut:

1. Mereka menghendaki berhukum kepada thaghut, yaitu setiap ketentuan yang menyalahi hukum Allah dan Rasul-Nya. Setiap perbuatan yang menyalahi hukum Allah dan Rasul-Nya dikatakan sebagai kedurhakaan dan permusuhan terhadap hukum dari pihak yang berhak menetapkan hukum dan menjadi tempat kembali semua urusan, yaitu Allah. Allah berfirman:

“… Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-A’raaf: 54)

2. Mereka berpaling dan menjauh bila dipanggil untuk mengikuti hukum Allah dan Rasul-Nya.

3. Bila mereka mendapat musibah karena perbuatan mereka sendiri, mereka datang ke hadapan kaum muslim dengan bersumpah bahwa mereka hanya menghendaki kebaikan dan taufik dari Allah. Hal ini sebagaimana sifat orang-orang sekarang yang menolak hukum Islam dan menerapkan undang-undang sekuler yang menyalahi syariat Islam karena beranggapan bahwa hal ini merupakan suatu kebaikan yang sejalan dengan keadaan masa kini.

Allah kemudian mengingatkan orang-orang beriman terhadap orang-orang dengan ciri-ciri tersebut di atas bahwa Allah mengetahui isi hati dan perbuatan-perbuatan mereka yang bertentangan dengan pernyataan mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh agar tetap berlaku baik dan berkata kepada mereka dengan kata-kata yang menyentuh hati. Allah kemudian menjelaskan hikmah pengiriman Rasul-Nya yaitu supaya beliau dijadikan panutan ditaati dan diikuti, bukan mengikuti orang lain, sekalipun orang lain itu pemikirannya kuat dan pengetahuannya luas. Selanjutnya, Allah bersumpah kepada Rasul-Nya dengan sifat rububiyyah-Nya yang merupakan sifat khusus rububiyyah yang mengandung isyarat bahwa kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah benar. Allah bersumpah dengan kerasulan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ini sebagai sumpah yang menegaskan bahwa tidaklah patut seseorang dinyatakan benar-benar beriman kecuali memenuhi tiga syarat:

1. Harus senantiasa berhakim kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam setiap perselisihan yang terjadi.

2. Lapang dada menerima keputusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan hatinya sedikit pun tidak merasa berat dan sempit.

3. Menerima sepenuh hati apa yang diputuskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan melaksanakannya tanpa penundaan atau pun penyimpangan.

Adapun golongan kedua, contohnya tersebut pada firman Allah:

“… Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Maaidah: 44)

“… Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah maka mereka itu adalah orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Maaidah: 45)

“… Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Maaidah: 47)

Apakah tiga macam ciri yang tersebut pada ayat di atas terkena pada satu orang? Maksudnya, apakah setiap orang yang tidak menerapkan hukum Allah disebut kafir, zhalim, dan fasik sekaligus? Karena Allah menyebutkam orang kafir itu zhalim dan fasik seperti pada firman-Nya:

“… Orang-orang kafir itulah orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Baqarah: 254)

“… Sungguh mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.” (QS. At-Taubah: 84)

Apakah setiap orang kafir itu zhalim lagi fasik atau ciri-ciri tersebut ditujukan kepada beberapa orang sesuai dengan keadaan mereka yang tidak melaksanakan hukum Allah? Menurut saya, pendapat kedualah yang lebih dekat kepada kebenaran. Wallahu a’lam.

Maka dari itu, kami katakan bahwa orang yang tidak menghukum dengan hukum Allah karena meremehkannya atau merendahkannya atau menganggap bahwa hukum lain lebih baik dan lebih bermanfaat bagi manusia berarti telah kafir dengan kekafiran yang menjadikannya keluar dari Islam. Termasuk dalam golongan ini adalah orang-orang yang membuat undang-undang yang menyalahi syariat Islam sehingga menjadi pegangan bagi manusia dalam kehidupannya. Mereka tidaklah membuat undang-undang yang menyalahi syariat Islam itu melainkan karena adanya keyakinan bahwa undang-undang tersebut lebih baik dan bermanfaat bagi manusia daripada syariat Islam. Demikianlah, karena telah sesuai akal, fitrah, dan tabiat manusia bahwa manusia tidak akan meninggalkan suatu cara untuk berpindah kepada cara lain kecuali adanya keyakinan bahwa cara yang lain itu lebig baik dan cara yang ditinggalkan itu memiliki kekurangan.

Barangsiapa tidak menghukum dengan hukum Allah tetapi tidak ada perasaan merendahkan atau meremehkan dan tidak pula beranggapan bahwa hukum lain lebih baik dan lebih bermanfaat bagi manusia, tetapi ia menerapkan hukum lain karena didorong oleh keinginan membalas dendam atau menunjukkan kekuasaannya kepada terhukum atau terdakwa atau dorongan lainnya, maka orang seperti ini termasuk orang zhalim, bukan kafir. Tingkat kezhalimannya berbeda-beda sesuai dengan keputusan hukum dan cara-caranya menghukum.

Barangsiapa tidak menghukum dengan hukum Allah bukan karena meremehkan hukum Allah atau merendahkannya dan tidak pulaberanggapan bahwa hukum lain lebih baik dan lebih bermanfaat bagi manusia, tetapi ia menerapkan hukum lain itu karena cintanya kepada terdakwa atau terhukum atau karena suap dan kesenangan duniawi lainnya, maka orang seperti ini termasuk orang fasik, bukan kafir. Tingkat kefasikannya berbeda-beda sesuai dengan keputusan hukum dan cara-caranya menetapkan hukum.

Syaikh Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyatakan bahwa orang-orang yang menjadikan pendeta dan ulama mereka sebagai sesembahan selain Allah terbagi kd dalam dua golongan:

1. Mereka yang menyadari bahwa ulama mereka telah menukar agama Allah dan mereka mengikuti peraturannya yang menyimpang dari agama Allah. Mereka menghalalkan yang diharamkan atau mengharamkan yang dihalalkan Allah karena mengikuti ulama mereka padahal mereka menyadari bahwa ulama itu menyalahi agama Rasul Allah; maka orang seperti ini telah kafir dan mereka telah menjadikan para ulama sederajat atau sekutu bagi Allah dan Rasul-Nya.

2. Mereka yang yakin dan percaya bahwa ulama mereka tidak berhak menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal -demikian kalimat yang dinukil dari beliau- tetapi mereka tetap menaati para ulama yang berbuat durhaka kepada Allah, seperti halnya seorang muslim yang melakukan perbuatan maksiat yang diyakininya memang maksiat, maka orang seperti ini dihukumkan seperti golongan yang berbuat dosa. [Syaikh Ibnu Utsaimin, Fataawal ‘Aqiidah, hlm. 208-212]

Catatan kaki:

[1] Fataawa, Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Al-Syaikh, juz 12, hlm. 289-290.

[2] Fataawa, Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Al-Syaikh, juz 12, hlm. 280.

[3] Tirmidzi no. 3095 dalam Kitaabut Tafsiir. Thabari dalam Kitab Tafsir-nya, juz 6/80-81. Baihaqi dalam Kitab Syuabul Iman, juz 10/116. Thabarani dalam Al-Kabiir, juz 17/218-219. Hadits ini mempunyai syawahid yang menguatkannya menjadi berderajat hasan.

Sumber: Fatwa Kontemporer Ulama Besar Tanah Suci, oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin dan Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan, penyusun: Khalid Al-Juraisy (penerjemah: Ustadz Muhammad Thalib), penerbit: Media Hidayah, cet. Pertama Rajab 1424 H / September 2003, hal. 99-110.

Kategori:Uncategorized

Makna Aqidah Dan Urgensinya

Kitab Tauhid 1
oleh: Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al fauzan

Aqidah Secara Etimologi
Aqidah berasal dari kata ‘aqd yang berarti pengikatan. Kalimat “Saya ber-i’tiqad begini” maksudnya: saya mengikat hati terhadap hal tersebut.

Aqidah adalah apa yang diyakini oleh seseorang. Jika dikatakan “Dia mempunyai aqidah yang benar” berarti aqidahnya bebas dari keraguan. Aqidah merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan hati dan pembenarannya kepada sesuatu.

Aqidah Secara Syara’
Yaitu iman kepada Allah, para MalaikatNya, Kitab-kitabNya, para RasulNya dan kepada Hari Akhir serta kepada qadar yang baik maupun yang buruk. Hal ini disebut juga sebagai rukun iman.

Syari’at terbagi menjadi dua: i’tiqadiyah dan amaliyah.

I’tiqadiyah adalah hal-hal yang tidak berhubungan dengan tata cara amal. Seperti i’tiqad (kepercayaan) terhadap rububiyah Allah dan kewajiban beribadah kepadaNya, juga beri’tiqad terhadap rukun-ru­kun iman yang lain. Hal ini disebut ashliyah (pokok agama). (1)

Sedangkan amaliyah adalah segala apa yang berhubungan dengan tata cara amal. Seperti shalat, zakat, puasa dan seluruh hukum-hukum amaliyah. Bagian ini disebut far’iyah (cabang agama), karena ia di­bangun di atas i’tiqadiyah. Benar dan rusaknya amaliyah tergantung dari benar dan rusaknya i’tiqadiyah.

Maka aqidah yang benar adalah fundamen bagi bangunan agama serta merupakan syarat sahnya amal. Sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta’ala:
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhan­nya.” (Al-Kahfi: 110)

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu ter­masuk orang-orang yang merugi.” (Az-Zumar: 65)

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allahlah agama yang bersih (dari syirik).” (Az-Zumar: 2-3)

Ayat-ayat di atas dan yang senada, yang jumlahnya banyak, menunjukkan bahwa segala amal tidak diterima jika tidak bersih dari syirik. Karena itulah perhatian Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam yang pertama kali adalah pelu­rusan aqidah. Dan hal pertama yang didakwahkan para rasul kepada umatnya adalah menyembah Allah semata dan meninggalkan segala yang dituhankan selain Dia.

Sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta’ala: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu’, …” (An-Nahl: 36)

Dan setiap rasul selalu mengucapkan pada awal dakwahnya: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada tuhan bagimu selainNya.” (Al-A’raf: 59, 65, 73, 85)

Pernyataan tersebut diucapkan oleh Nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib dan seluruh rasul. Selama 13 tahun di Makkah -sesudah bi’tsah- Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam mengajak manusia kepada tauhid dan pelurusan aqidah, karena hal itu merupakan landasan bangunan Islam. Para da’i dan para pelurus agama dalam setiap masa telah mengikuti jejak para rasul dalam berdakwah. Sehingga mereka memulai dengan dakwah kepada tauhid dan pelurusan aqidah, setelah itu mereka mengajak kepada se­luruh perintah agama yang lain.

(1) Syarah Aqidah Safariniyah, I, hal. 4.

Kategori:Uncategorized

PONDASI ISLAM ITU TAUHID

“Dan sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang Rasul (untuk menyeru) agar beribadah hanya kepada Allah saja (yaitu mentauhidkan-Nya) dan menjauhi thaghut…” [An-Nahl: 36]

Tauhid menurut bahasa (etimologi) diambil dari kata: æóÍøóÏó¡ íõæóÍöøÏõ¡ ÊóæúÍöíúÏðÇ artinya menjadikan sesuatu itu satu.

Sedangkan menurut ilmu syar’i (terminologi), tauhid berarti mengesakan Allah Azza wa Jalla terhdap sesuatu yang khusus bagi-Nya, baik dalam Uluhiyyah, Rububiyyah, maupun Asma’ dan Sifat-Nya.

Tauhid berarti beribadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla saja.

[A]. Macam-Macam Tauhid

[1]. Tauhid Rububiyyah
Tauhid Rububiyyah berarti mentauhidkan segala apa yang dikerjakan Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik mencipta, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan. Allah adalah Raja, Penguasa dan Rabb yang mengatur segala sesuatu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“… Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam.” [Al-A’raaf: 54]

Allah Azza wa Jalla berfirman.

“…Yang (berbuat) demikian itulah Allah Rabb-mu, kepunyaanNya-lah segala kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah, tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.” [Faathir: 13]

Kaum musyrikin pun mengakui sifat Rububiyyah Allah. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla.

“Katakanlah (Muhammad): ‘Siapakah yang memberi rizki kepadamu, dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka, mereka menjawab: ‘Allah.’ Maka, katakanlah, ‘Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?’ Maka, (Dzat yang demikian) itulah Allah, Rabb kamu yang sebenarnya, maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka, mengapa kamu masih berpaling (dari kebenaran)?” [Yunus: 31-32]

Firman Allah Azza wa Jalla.

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ Pastilah mereka akan menjawab, ‘Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Mahamengetahui.’” [Az-Zukhruuf: 9] [1]

Kaum musyrikin pun mengakui bahwasanya hanya Allah semata Pencipta segala sesuatu, Pemberi rizki, Pemilik langit dan bumi, dan Pengatur alam semesta. Namun mereka juga menetapkan berhala-berhala yang mereka anggap sebagai penolong, mereka bertawassul dengannya (berhala tersebut) dan menjadikan mereka sebagai pemberi syafa’at, sebagai-mana yang disebutkan dalam beberapa ayat.[2]

Dengan perbuatan tersebut, mereka tetap dalam keadaan musyrik, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Dan kebanyakan dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sesembahan-sesembahan lain).” [Yusuf: 106]

Sebagian ulama Salaf berkata, “Jika kalian bertanya kepada mereka, ‘Siapa yang menciptakan langit dan bumi?’ Mereka pasti menjawab, ‘Allah.’ Walaupun demikian mereka tetap saja menyembah kepada selain-Nya.” [3]

[2]. Tauhid Uluhiyyah
Tauhid Uluhiyyah artinya mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui segala pekerjaan hamba, yang dengan cara itu mereka bisa mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala apabila hal itu disyari’atkan oleh-Nya, seperti berdo’a, khauf (takut), raja’ (harap), mahabbah (cinta), dzabh (penyembelihan), bernadzar, isti’aanah (minta pertolongan), istighatsah (minta pertolongan di saat sulit), isti’adzah (meminta perlindungan) dan segala apa yang disyari’atkan dan diperintahkan Allah Azza wa Jalla dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Semua ibadah ini dan lainnya harus dilakukan hanya kepada Allah semata dan ikhlas karena-Nya. Dan ibadah tersebut tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah.

Sungguh Allah tidak akan ridha bila dipersekutukan dengan sesuatu apa pun. Bila ibadah tersebut dipalingkan kepada selain Allah, maka pelakunya jatuh kepada Syirkun Akbar (syirik yang besar) dan tidak diampuni dosanya (apabila dia mati dalam keadaan tidak bertaubat kepada Allah atas perbuatan syiriknya). (An-Nisaa: 48, 116)[4]

Al-ilaah artinya al-ma’luuh, yaitu sesuatu yang disembah dengan penuh kecintaan serta pengagungan.

Allah Azza wa Jalla berfirman.

“Dan Rabb-mu adalah Allah Yang Maha Esa, tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Dia. Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” [Al-Baqarah: 163]

Syaikh al-‘Allamah ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di (wafat th. 1376 H) rahimahullah berkata, “Bahwasanya Allah itu tunggal Dzat-Nya, Nama-Nama, Sifat-Sifat dan perbuatan-Nya. Tidak ada sekutu bagi-Nya, baik dalam Dzat-Nya, Nama-Nama, dan Sifat-Sifat-Nya. Tidak ada yang sama dengan-Nya, tidak ada yang sebanding, tidak ada yang setara dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Tidak ada yang menciptakan dan mengatur alam semesta ini kecuali hanya Allah. Apabila demikian, maka Dia adalah satu-satunya yang berhak untuk diibadahi dan Allah tidak boleh disekutukan dengan seorang pun dari makhluk-Nya.” [5]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Allah menyatakan bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Dia, (demikian pula) para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (yang menegakkan keadilan). Tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar selain Dia, Yang Maha Perkasa lagi Mahabijaksana.” [Ali ‘Imran: 18]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai Laata, ‘Uzza dan Manaat yang disebut sebagai ilah (sesembahan), namun tidak diberi hak Uluhiyyah.

“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu mengada-adakannya, Allah tidak menurunkan satu keterangan pun untuk (menyembah)-nya…” [An-Najm: 23]

Setiap sesuatu yang disembah selain Allah l adalah bathil, dalilnya adalah firman Allah Azza wa Jalla.

“Demikianlah (kebesaran Allah) karena sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang bathil, dan sesung-guhnya Allah, Dia-lah Yang Mahatinggi, Mahabesar.” [Al-Hajj: 62]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman tentang Nabi Yusuf ‘Alaihis sallam, yang berkata kepada kedua temannya di penjara:

“Wahai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Apa yang kamu sembah selain Dia hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang (nama-nama) itu…” [Yusuf: 39-40]

Oleh karena itu, para Rasul Alaihimus sallam menyeru kepada kaumnya agar beribadah hanya kepada Allah saja. [6]

”… Sembahlah Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada ilah yang haq selain Dia. Maka, mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” [Al-Mukminuun: 32]

Orang-orang musyrik tetap saja mengingkarinya. Mereka masih saja mengambil sesembahan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka menyembah, meminta bantuan dan pertolongan kepada sesembahan-sesembahan itu dengan menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pengambilan sesembahan-sesembahan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik ini telah dibatalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan dua bukti:

Pertama.
Sesembahan-sesembahan yang diambil itu tidak mempunyai keistimewaan Uluhiyyah sedikit pun, karena mereka adalah makhluk, tidak dapat menciptakan, tidak dapat memberi manfaat, tidak dapat menolak bahaya, tidak dapat menghidupkan dan mematikan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Namun mereka mengambil tuhan-tuhan selain Dia (untuk disembah), padahal mereka itu tidak menciptakan apa pun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) bahaya terhadap dirinya dan tidak dapat memberi manfaat serta tidak kuasa mematikan dan menghidupkan juga tidak (pula) dapat membangkitkan.” [Al-Furqaan: 3]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Katakanlah (Muhammad), ‘Serulah mereka yang kalian anggap (sebagai sesembahan) selain Allah! Mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat dzarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka sama sekali tidak mempunyai suatu saham (peran) pun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya. Dan tidaklah berguna syafa’at di sisi Allah, melainkan bagi orang yang telah diizinkan oleh-Nya (memperoleh syafa’at)…” [Saba’: 22-23]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Mengapa mereka mempersekutukan (Allah dengan) sesuatu (berhala) yang tidak dapat menciptakan sesuatu apa pun? Padahal berhala itu sendiri diciptakan dan (berhala itu) tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya bahkan berhala itu tidak dapat memberi pertolongan kepada dirinya sendiri.” [Al-A’raaf: 191-192]

Apabila demikian keadaan berhala-berhala itu, maka sungguh sangat bodoh, bathil dan zhalim apabila menjadi-kan mereka sebagai ilah (sesembahan) dan tempat meminta pertolongan.

Kedua.
Sebenarnya orang-orang musyrik mengakui bahwa Allah l adalah satu-satunya Rabb, Pencipta, yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu. Mereka pun mengakui bahwa hanya Allah yang dapat melindungi dan tidak ada yang dapat memberi-Nya perlindungan. Hal ini mengharuskan pengesaan Uluhiyyah (penghambaan), seperti mereka mengesakan Rububiyyah (ketuhanan) Allah. Tauhid Rububiyyah mengharuskan adanya konsekuensi untuk melaksanakan Tauhid Uluhiyyah (beribadah hanya kepada Allah saja).

“Wahai manusia, beribadahlah hanya kepada Rabb-mu yang telah menciptakan dirimu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. (Dia-lah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan hujan itu buah-buahan sebagai rizki untukmu, karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” [Al-Baqarah: 21-22]

[3]. Tauhid Asma’ wa Shifat Allah
Ahlus Sunnah menetapkan apa-apa yang Allah Subhanhu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah tetapkan atas diri-Nya, baik itu berupa Nama-Nama maupun Sifat-Sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mensucikan-Nya dari segala aib dan kekurangan, sebagaimana hal tersebut telah disucikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita wajib menetapkan Sifat-Sifat Allah, baik yang terdapat di dalam Al-Qur’an maupun dalam As-Sunnah, dan tidak boleh ditakwil.

Al-Walid bin Muslim pernah bertanya kepada Imam Malik bin Anas, al-Auza’i, al-Laits bin Sa’d dan Sufyan ats-Tsauri Radhiyallahu ‘anhum tentang berita yang datang mengenai Sifat-Sifat Allah, mereka semua menjawab:

ÃóãöÑøõæú åóÇ ßóãóÇ ÌóÇÁóÊú ÈöáÇó ßóíúÝó.

“Perlakukanlah (ayat-ayat tentang Sifat-Sifat Allah) seperti datangnya dan janganlah engkau persoalkan (jangan engkau tanya tentang bagaimana sifat itu).” [7]
Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata

ÂãóäúÊõ ÈöÇááåö¡ æóÈöãóÇ ÌóÇÁó Úóäö Çááåö Úóáóì ãõÑóÇÏö Çááåö¡ æóÂãóäúÊõ ÈöÑóÓõæúáö Çááåö æóÈöãóÇ ÌóÇÁó Úóäú ÑóÓõæúáö Çááåö Úóáóì ãõÑóÇÏö ÑóÓõæúáö Çááåö.

“Aku beriman kepada Allah dan kepada apa-apa yang datang dari Allah sesuai dengan apa yang dimaksud oleh Allah, dan aku beriman kepada Rasulullah dan kepada apa-apa yang datang dari beliau, sesuai dengan apa yang dimaksud oleh Rasulullah.” [8]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Manhaj Salaf dan para Imam Ahlus Sunnah adalah mengimani Tauhid al-Asma’ wash Shifat dengan menetapkan apa-apa yang Allah telah tetapkan atas diri-Nya dan apa-apa yang telah ditetapkan oleh Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk diri-Nya, tanpa tahrif[9] dan ta’thil[10] serta tanpa takyif[11] dan tamtsil[12]. Menetap-kan tanpa tamtsil, menyucikan tanpa ta’thil, menetapkan semua Sifat-Sifat Allah dan menafikan persamaan Sifat-Sifat Allah dengan makhluk-Nya.”

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [Asy-Syuuraa: 11]

Lafazh ayat: áóíúÓó ßóãöËúáöåö ÔóìúÁñ “Tidak ada yang sesuatu pun yang serupa dengan-Nya,” merupakan bantahan terhadap golongan yang menyamakan Sifat-Sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sifat makhluk-Nya.

Sedangkan lafazh ayat: æóåõæó ÇáÓøóãöíÚõ ÇáúÈóÕöí “Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat,” adalah bantahan terhadap orang-orang yang menafikan atau mengingkari Sifat-Sifat Allah.

[Disalin dari buku Prinsip Dasar Islam Menutut Al-Qur’an dan As-Sunnah yang Shahih, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan ke 2]

Kategori:Uncategorized

Nasihat Kholid Bin Walid

Suatu ketika Syaikh Ibrahim bin Adham melewati sebuah pasar di Bashrah (Iraq-sekarang-red) , kemudian ketika melihat beliau orang-orang yang berada di sekitar pasar datang mengerumuninya seraya berkata: “ya aba ishaq, kami sudah sangat sering berdo’a meminta kepada Allah namun sampai saat ini belum terkabul pula permintaan kami?! Adakah yang salah dengan do’a dan permintaan kami?” kemudian syaikh Ibrahim menjawab: “taukah kalian apa yang menjadi penghalang do’a kalian? Karena hati kalian sudah mati dan terkotori oleh sepuluh hal”:
Pertama, kalian mengenal Allah (mengakui bahwa Allah adalah Rab kalian) namun kalian tidak pernah menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Kedua, kalian mengaku bahwa kalian mencintai Rasulullah saw. Namun kalian meninggalkan dan tidak mengikuti Sunnahnya.
Ketiga, kalian mengaku sering membaca Al-Qur’an tapi kalian tidak pernah mengerjakan apa yang ada di dalamnya.
Keempat, kalian sering mendapat kenikmatan dari Allah swt. Tapi kalian tidak pernah mensyukurinya.
Kelima, kalian tau bahwa syetan la’natullah alaih adalah musuh kalian akan tetapi kalian tidak pernah berani melawan ajakan dan rayuan gombalnya.
Keenam, kalian mengatakan bahwa syurga itu benar adanya akan tetapi kalian tidak pernah berlomba-lomba untuk mendapatkannya.
Ketujuh, kalian mengatakan bahwa neraka benar adanya tapi kalian tidak pernah takut dan tidak pernah mengindar darinya.
Kedelapan, kalian mengatakan bahwa kematian benar dan akan menjemput kalian kapanpun dan dimanapun kalian berada akan tetapi kalian tidak pernah mempersiapkan bekal untuk menghadapinya.
Kesembilan, kalian sangat sibuk mengoreksi kesalahan orang lain akan tetapi kalian lupa dengan kesalahan yang kalian perbuat.
Dan yang kesepuluh, kalian sering ikut menguburkan mayat saudara-sauda kalian akan tetapi kalian tidak pernah mengambil ‘ ibrah (pelajaran) dari kematian tersebut.
Maka dari itu wahai saudaraku, mari kita koreksi diri kita masing-masing untuk menjadi makhluk yang sempurna di mata Allah swt.
يؤخذهذا التنبيه من لطائف المعارف, لسيد مجدي سيد عبد العزيز
الاندلس للنشر و التوزيع

Kategori:Uncategorized

“SINGA ALLAH” Itu, Ialah Hamzah bin Abdul Muthalib

Pada tahun tiga hijriah, tepatnya di pertengahan bulan syawal, berkecamuklah perang Uhud, antara kaum muslim yang dipimpin oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam dengan kaum kuffar Mekkah. Dalam peperangan menegakkan kalimatulhaq ini, banyak dari kalangan shahabat Nabi Shalallahu alaihi wa salam yang mendapatkan anugerah Syahaadah. Menurut perhitungan ulama sirah, Ibnu Ishaq rahimahullah, tercatat 65 shahabat Rasulullah yang menemui syahid. Peperangan ini disulut oleh kaum musyrikin Mekkah yang ingin menuntaskan dendam kekalahan mereka atas kaum muslimin di perang Badr yang terjadi pada tahun sebelumnya. Adapun pada perang Uhud ini Allah Ta’ala menakdirkan kekalahan bagi kaum muslimin, setelah sebelumnya kemenangan sudah di depan mata.

Berikut ini, sebagian nama nama shahabat Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam dari kalangan muhajirin yang menemui syahid tersebut kami ulas secara ringkas. Diadaptasi dari risalah Syuhadaa Uhud alladziina DzakarahumullahuIbnu Ishaq fii Maghaazihi, karya Dr. Muhammad bin Abdullah bin Ghabbaan ash-shubhi, Majallatul-Jami’atil-Islamiyyah, Madinah, KSA, Edisi 124, th XXXVI, 1424 H. Diterjemahkan oleh M Rizal dan M. Ashim. Selamat menyimak.

Hamzah bin Abdul Muthalib

Siapakah beliau ini? Lengkapnya, ia bernama Hamzah Abu ‘Amaarah bin ‘abdul Muthalib bin Hasyim bin ‘abdi Manaaf al Quraisy al Haasyimi, Ibunya bernama Halah binti Wuhaib bin abdu manaf bin Zuhrah. Beliau merupakan paman Nabi Shalallahu alaihi wa salam, sekaligus saudara sepersusuan, serta kerabat dekatnya dari jalur ibu. Dilahirkan dua tahun sebelum Nabi Shalallahu alaihi wa salam. Memeluk Islam pada tahun ke-delapan dari kenabian atau pada tahun ke-enam kenabian setelah nabi memasuki Darul Arqaam, berdasarkan riwayat lain.

Terkenal dengan sebutan Asadullah (singa Allah) dan Sayyidusy-Syuhadaa’ (penghulu para syuhada’). Di perang badar beliau berhasil menghempaskan beberapa tokoh musyrikin. Seperti Syaibah bin Rabi’ah, Thu’aimah bin Adi dan ‘Utbah bin Rabi’ah. Begitu pula pada perang Uhud. Beliau berhasil menewaskan 30 orang lebih. Sebelum akhirnya gugur di tangan Wahsyi, budak milik Jubair bin Muth’im.

Di dalam kitab shahihnya (Shahihul Bukhari (7/367-368), dengan ringkas), Imam bukhari menyebutkan kisah tentang kesyahidan Hamzah radhiallahu anhu secara rinci, sebagaimana yang diriwayatkan oleh sang pembunuhnya sendiri, yang akhirnya masuk Islam.

Wahsyi bertutur :
Sesungguhnya Hamzah telah membunuh Thu’aimah bin ‘adi bin al Khiyar (paman Jubair bin Muth’im) di perang Badr. Majikanku, Jubair bin Muth’im, menawariku :”Jika engkau sanggup membunuh Hamzah, maka engkau merdeka”.

Wahsyi melanjutkan kisahnya :
Tatkala orang-orang bergerak pada tahun ‘Inin (peristiwa perang Uhud, penamaan ‘Inin didasarkan pada sebuah bukit di samping gunung Uhud yang dibatasi dengan sebuah lembah), aku pergi bersama mereka untuk berperang. Ketika mereka telah berbaris rapi, siap memulai peperangan majulah Siba’ (dari barisan kaum musyrikin, pent), seraya sesumbar menyerukan tantangan,”Adakah yang ingin beradu tanding denganku?”

Maka keluarlah Hamzah dan menyahut, “Wahai Siba’, anak wanita pemotong kelamin wanita! apakah engkau bersikeras menentang Allah dan RasulNya?”. Dengan gesit Hamzah berhasil menghabisinya. (sementara) Aku bersembunyi mengintai Hamzah di balik batu besar. Begitu jangkauan mata tombakku berada pada posisi yang tepat, maka aku lemparkan ke arah perutnya bagian bawah hingga tembus melalui kedua pangkal pahanya. Itulah saat kematiannya.

(pasca keislamanku) Ketika Nabi Shalallahu alaihi wa salam telah wafat, dan kemudian muncul Musailamah al kadzzab, Wahsyi berkata :”aku akan pergi mencarinya, semoga aku bisa membunuhnya sebagai tebusanku atas Hamzah”. Dan ia pun pergi ikut mencari musailamah bersama kaum muslimin lainnya.

Tatkala menemukan Musailamah, maka aku lemparkan tombakku tepat mengenai dada Musailamah hingga tembus diantara dua pundaknya. Bersamaan dengan itu seorang Anshar ikut memukulkan pedangnya di kepala Musailamah”.

(kembali ke kisah Hamzah di perang Uhud-pen)
Ketika itu, jasad Hamzah radhiallahu anhu sudah dalam keadaan tercincang. Hindun binti ‘Utbah telah membelah perutnya, lalu mengeluarkan hatinya dan mengunyahnya, dan memuntahkannya kembali.

Ibnu ‘abdil Barr rahimahullah meriwayatkan, “Sesungguhnya Nabi Shalallahu alaihi wa salam berdiri di hadapan Hamzah yagng telah syahid. Beliau Shalallahu alaihi wa salam menitikkan air mata. dan ketika melihatnya menjadi korban kebiadaban, beliau Shalallahu alaihi wa salam menarik napasnya. Tidak ada yang lebih menyakitkan hati beliau Shalallahu alaihi wa salam daripadanya. Lalu beliau Shalallahu alaihi wa salam melanjutkan ucapannya :”semoga Allah merahmatimu, wahai paman. Padahal dulu engkau orang yang menyambung tali silaturahim dan banyak melakukan kebajikan”.

Hamzah radhiallahu anhu, sang singa Allah ini dikuburkan bersama ‘Abdullah bin Jahsy, dalam satu liang lahat.

Kategori:Uncategorized

INDAHNYA NASIHAT ‘ULAMA

Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Diantara bentuk ketulusan dalam persaudaraan adalah engkau menerima kekurangannya, menutupinya dan memaafkan kesalahannya.”
(Muqaddimah kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab I/31, karya Imam an-Nawawi, tahqiq: Muhammad Najib al-Muthi’i, cet. Maktabah Ibn Taimiyah)

Jika sampai kepadamu kabar tentang saudaramu yang tidak kau sukai, maka berusahalah mencari udzur baginya semampumu. Jika kau tidak mampu mendapatkan udzur baginya, maka katakanlah dalam hati, “Mungkin saudaraku memiliki udzur yang tidak ku…ketahui.”
(Abu Qilabah ‘Abdullah bin Zaid al-Jarmi dalam Hilyatul Auliya’ II/285)

Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Seorang mukmin adalah orang yang menutupi aib dan menasihati. Sedangkan orang fasik adalah orang yang merusak dan mencela.”
[Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam, Ibnu Rajab]

Ummu Darda’ radhiyallahu’anha berkata: “Barang siapa menasihati saudaranya secara sembunyi-sembunyi, maka ia telah memuliakannya, dan barang siapa menasihati saudaranya secara terang-terangan (di depan umum), maka ia telah mencemarkan (kehormatan) saudaranya.”
[Al-Amru bil Ma’ruuf wa An-Nahyu ‘anil Munkar, Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah, cet. Daarul ‘Uluum al-Islamiyyah, thn. 1409 H]

Kategori:Uncategorized

BISAKAH ANDA MENERIMA APA ADANYA?

Membaca kehidupan, adalah berlayar dalam kancah yang tak kita pahami sebelumnya. Tak jarang pelayaran harus mengalami amukan badai. Pelayaran dalam kehidupan semakin rumit dengan berbagai kesulitan yang membentang di depannya, jika dihadapi dengan sikap yang tak semestinya. Ketika itulah, manusia diuji ketangguhannya dalam menghadapi masalah.

Terkadang ingatan kita kembali ke masa lalu, sekedar mengingat-ingat setiap tindakan yang telah kita tempuh di masa itu, saat kita terbentur masalah yang mirip atau bahkan sama dengan masalah yang sedang kita hadapi saat ini. Untuk bahan pertimbangan agar langkah penyelesaian masalah yang ditempuh tidak keliru.

Lalu, setelah segenap kemampuan telah dikerahkan…segala ide telah diujikan. Bagaimana hasil yang tercapai?. Kadang berhasil dan sesuai dengan kemauan atau berhasil namun tidak seperti yang diinginkan. Bagaimana perasaan kita ya? Puas? Atau malah kecewa.

Bahwa manusia harus berikhtiar untuk setiap detik hidupnya. Tapi setelah semua ikhtiar itu. Kita harus tawakal, menyadari manusia hanyalah mampu berusaha sementara Allah-lah yang menetapkan segalanya. Di sanalah saat Qona’ah (menerima apa adanya) dibutuhkan untuk menyejukkan kepenatan kita setelah melakukan sekian banyak manuver untuk merubah hidup lebih baik.

Menerima apa adanya..karena kita menyadari hidup berjalan sesuai ketetapan Allah. Sehingga kita tidak akan menyesali nasib saat yang didapat tak seperti yang dimaui. Kita pun takkan sibuk mencari kambing hitam, menyalah-nyalahkan orang atas kegagalan yang kita alami. Sebab kita punya qona’ah itu. Dan qona’ah takkan terwujud tanpa sikap ridha terhadap takdir-Nya. Adakah pilihan lain bagi kita sebagai seorang hamba selain ridha atas segala ketetapan-Nya? Sebab setelah ridha kita akan bersabar, kemudian bersyukur, lalu…menerima apa adanya.

Pernah penulis membaca buku almarhum Imam Samudra (Aku Melawan Teroris). Terlepas dari segala ketidaksetujuan penulis terhadap pemikirannya tentang Bom Bali..namun ada satu kalimat di dalam buku itu yang menyentuh saya: ujian itu pasti, sabar itu pilihan.

Ujian adalah sebuah kepastian. Sementara kita punya pilihan untuk bersabar atau tidak. Tetapi, sabar adalah pilihan terbaik. Berangkat dari kesabaran, kita menjadi hamba yang pandai bersyukur, hamba yang pandai bersyukur akan mencapai qona’ah…menerima apa adanya.

Kategori:Uncategorized

MEMERANGI ORANG YANG MEMERANGI ORANG MUSLIM APAKAH WAJIB??

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, penguasa alam semesta. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada hamba-dan utusan-Nya, Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya. Ambon belum kondusif. Pihak salibis masih haus darah umat Islam. Berbagai siasat dan makar mereka siapkan untuk menyerang perkampungan muslim. Sebagaimana yang diberitakan voa-islam “Salibis Ambon Siapkan Pasukan Perang, Allah Turunkan ‘Tentara’ Hujan”, pada Kamis (20/10/2011) perusuh salibis berusaha menyerang dan membakar kampung Islam di Jalan Baru, Ambon. Dengan persiapan yang matang, baik untuk membuat kerusuhan maupun untuk memerangi umat Islam, Allah menggagalkan niat jahat mereka. Turunlah hujan dengan izin-Nya untuk menggagalkan siasat dan makar mereka. وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ “Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (QS. Al-Anfal: 30) Kedengkian salibis terhadap kaum muslimin bukan isapan jempol. Kebencian mereka kepada dienullah juga bukan sesuatu yang diada-adakan. Tapi jelas sebuah fakta dan realita yang hanya akan diingkari oleh orang buta. Nash Syar’i telah banyak menjelaskan tentang tabiat mereka yang membenci Islam dan kaum muslimin hingga mereka berpindah agama. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآَيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS. Ali Imran: 118) وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ “Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri.” (QS. Al-Baqarah: 109) وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (QS. Al-Baqarah: 120) وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا “Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.” (QS. Al-Baqarah: 217) Dalam ayat di atas, QS. Al-Baqarah: 217, Syaikh al-Sa’di -sesudah menjelaskan sifat buruk kafir Qurays dan tujuan mereka dalam memerangi orang-orang beriman- menuturkan, “Sifat ini berlaku umum bagi setiap orang kafir, mereka tidak henti-hentinya memerangi golongan di luar mereka sehingga memurtadkan dari agama mereka. Khususnya, Ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nashrani yang telah mendirikan organisasi-organisasi, menyebar misionaris, menempatkan para dokter, mendirikan sekolahan-sekolahan untuk menarik umat kepada agama mereka, membuat berbagai propaganda untuk menanamkan keraguan dalam diri mereka akan kebenaran agama mereka (Islam).” Masih banyak ayat lain yang mengungkapkan kebencian dan permusuhan orang kafir terhadap Islam. Jika mereka mampu, pasti akan melakukan gerakan-gerakan untuk memurtadkan kaum muslimin atau menghabisi mereka sehingga punah dari muka bumi ini. Karenanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan umat Islam untuk selalu mempersiapkan kekuatan fisik dan persenjataan untuk menghadapi kedengkian dan permusuhan mereka. Allah Ta’ala berfirman, وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآَخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya.” (QS. Al Anfal: 60) Bukti Salibis Ambon Memerangi Muslimin Permusuhan kaum Salibis Ambon terhadap muslimin di sana tidak hanya dalam dalam dada mereka, tapi sudah diwujudkan dalam bentuk teror, penyerangan, pembunuhan, membakar perkampungan, dan usaha mengusir kaum muslimin dari kampung halamanan mereka. Peristiwa 11 Sepetember bulan lalu adalah buktinya. Dan penyerangan susulan pada tanggal 20 Oktober kemarin semakin menguatkan. Belum lagi provokasi-provokasi dan penghinaan mereka lontarkan untuk memancing kamarahan kaum muslimin. Dilihat dari kerusuhan yang diawali dari bulan September lalu dan iikuti dengan kerusuhan sesudahnya, tergambar kesiapan kaum salibis untuk melancarkan perang. “Peristiwa penyerangan pemukiman muslim di Jalan Baru pada Kamis (20/10/2011) lalu, membuka mata dunia bahwa perusuh Salibis Ambon lebih siap perang daripada kaum muslimin. Baik dari sisi jumlah pasukan maupun perlengkapan kaum Nasrani lebih unggul daripada kaum Muslimin. Pihak Salibis selaku penyerang yang aktif sedangkan kaum muslimin hanya bertahan dengan kekuatan apa adanya,” tulis voa-islam.com dalam, ” Salibis Ambon Siapkan Pasukan Perang, Allah Turunkan ‘Tentara’ Hujan”. Keseriusan salibis untuk melibas muslimin Ambon dibuktikan dengan beberapa fakta lapangan yang ditemukan dalam penyerangan tanggal 20 kemarin, antara lain: 1. Tiga hari sebelum para Salibis melancarkan penyerangan terhadap warga Muslim di Jalan Baru, aparat keamanan mendapatkan 24 bom rakitan dari sebuah rumah di kampung Kristen Kudamati, tepatnya di Lorong Farmasi. 2. Adanya pengangkatan Panglima Perang Salibis berinisial NH di desa Kudamati. Penobatan Panglima Perang ini mempertegas bahwa pihak Salibis benar-benar telah mempersiapkan perang dengan matang baik dari sisi organisasi paramiliter yang didukung oleh perlengkapan dan logistik. 3. Dua anggota Laskar Kristus tertangkap tangan membawa senjata api rakitan dan amunisi. Franky siwalete dan Raimon Tenu –keduanya adalah anggota Laskar Kristus yang berdomisili di Kampung Kristen Batu Gantung Dalam– tertangkap di depan Rumah makan Coto Anda jalan AY Patty Ambon dengan membawa 2 pucuk senjata api rakitan, sepuluh butir amunisi kaliber 38 mm dan uang tunai 7 juta rupiah. Perlu diketahui bahwa jalan AY Patty Ambon ini berdekatan dengan pemukiman muslim, dan merupakan jalan yang langsung menuju Masjid Al-Fatah, desa Waihaong dan Talake. Islam telah memberikan tuntutan yang tegas terhadap mereka yang memerangi kaum muslimin, yaitu dengan memerangi mereka yang arogan dan semena-mena menyerang perkampungan muslim, berusaha membunuh mereka, membakar rumah-rumah mereka. . . Tuntunan Islam Menyikapi Perang Salibis Islam telah memberikan tuntutan yang tegas terhadap mereka yang memerangi kaum muslimin, yaitu dengan memerangi mereka yang arogan dan semena-mena menyerang perkampungan muslim, berusaha membunuh mereka, membakar rumah-rumah mereka, dan mengusir mereka dari tanah kelahiran mereka itu. Allah Ta’ala berfirman, وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah: 190) Ayat ini, menurut Ibnu Katsir rahimahullah, membangkitkan dan menganjurkan melawan musuh yang berambisi memerangi Islam dan kaum muslimin. Maksudnya: sebagaimana mereka memerangi kalian, maka perangilah mereka oleh kalian. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً “Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya.” (QS. Al-Taubah: 36) Sementara menurut Syaikh al-Sa’di, ayat ini mengandung perintah berperang Fi Sabilillah. Dan makna “Orang-orang yang memerangi kalian” adalah orang-orang yang bersiaga (bersiap) untuk memerangi kalian, mereka itu adalah para lelaki dewasa, bukan kakek-kakek yang tidak ikut memberikan ide dan tidak ikut berperang. Sedangkan keterangan yang didapatkan dalam tafsir al-Alusi, berjihadlah untuk memuliakan agama Allah dan meninggikan kalimat-Nya. “Orang-orang yang memerangi kalian” maksudnya: orang-orang kafir yang menantang perang kalian. Lebih tegas kewajiban melawan orang-orang kafir yang menyerang muslimin adalah apa yang disimpulkan oleh Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi dalam tafsirnya “Aisar al-Tafasir”, dalam memeras sari dari ayat di atas, “Wajib memerangi orang yang memerangi kaum muslimin. . .” Karenanya, jika kafir Salibis di Ambon tidak berhenti dari perbuatan jahat mereka tersebut, maka kaum muslimin di mana saja WAJIB bersatu-padu bersama muslimin Ambon untuk membela saudara seislamnya dalam menghadapi kejahatan Salibis tersebut. Jika kondisi mereka sudah demikian, maka tidak boleh lagi ada sikap lembut terhadap mereka dan berbaik-baik kepada mereka. Allah tegaskan tentang menyikapi kafirin yang jahat tersebut dalam firman-Nya, وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ “Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan.” (QS. Al-Baqarah: 191) “Wajib memerangi orang yang memerangi kaum muslimin. . .” Syaikh Abu Bakar Jabir al-jazairi Sikap tegas kaum muslimin terhadap orang-orang kafir yang agresif memerangi kaum muslimin adalah sebagai qishah (pembalas). Yang maknanya, “Hendaknya semangat kalian bangkit untuk memerangi mereka sebagaimana semangat mereka bangkit untuk memerangi kalian. Dan untuk mengusir mereka dari tempat tinggal mereka sebagaimana mereka telah mengusir kalian darinya, sebagai qishah (pembalasan). (Disarikan dari Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah) Tidak boleh lagi ada muka manis dan berbelas kasih terhadap mereka yang sudah berbuat jahat dan bersemangat menghabisi Islam dan kaum muslimin dari bumi yang telah Allah ciptakan. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ “Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Mumtahanah: 9) Maka orang-orang yang mengobarkan permusuhan dan perang terhadap kaum muslimin tidak boleh diberi sikap baik dan dikasihi. Sebaliknya, wajib dimusuhi dan diperangi, karena mereka telah berbuat jahat dengan memerangi umat Islam dan mengusir dari tanah kelahiran mereka. Semoga Allah menolong para tentara-Nya dari kalangan mujahidin dalam melawan salibis kafir di kota Ambon dan tempat-tempat jihad lainnya. Dan siapa yang sudah ditolong oleh Allah, tak ada seorangpun yang bisa mengalahkannya. Karena Allah adalah sebaik-baik penolong. Wallahu Ta’ala A’lam.

Kategori:Uncategorized

Di Antara Akhlaq Muslim Itu Apa Aja? JUJUR..

Sesungguhnya kejujuran mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan kepada surga. Sesungguhnya seseorang biasa berlaku jujur hingga ia disebut shiddiq (orang yang senantiasa jujur). Sedang dusta mengantarkan kepada perilaku menyimpang (dzalim) darn perilaku menyimpang mengantarkan kepada neraka. Sesungguhnya seseorang biasa berlaku dusta hingga ia disebut pendusta besar.

Untaian kata-kata diatas adalah hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud RadhiyAllohu ‘anhu yang terhimpun dalam Kitab Hadits Bukhari, Muslim dan Tirmidzi. (HR Bukhari dalam shahihnya bab Adab subbab 69, jilid VII, hal 95. HR Muslim dalam shahihnya bab Al-Birr subbab 29, hadits nomor 104, jilid IV hal 2012-2013, dan HR Tirmidzi dalam sunannya bab Al-Birr subbab 46 hadits nomor 1971 jilid IV hal 347)

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman,bertaqwalah kepada dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur” (QS: At-Taubah: 119). Dalam ayat lain, Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Jikalau mereka jujur kepada Alloh, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka” (QS: Muhammad: 21)

Jujur ialah kesesuaian ucapan dengan hati kecil dan kenyataan objek yang dikatakan (Fathul Baari, jilid X, hal 507).

Berkaitan dengan makna hadits di atas, ulama mengatakan bahwa sikap jujur dapat mengantarkan kepada amal shaleh yang murni dan selamat dari celaan. Sedang kata “al-birr” (kebaikan) adalah istilah yang mencakup seluruh kebaikan. Pendapat lain mengatakan bahwa “al-birr” berarti surga. sedangkan dusta dapat mengantarkan kepada perilaku menyimpang (kedzaliman).

Sikap jujur termasuk keharusan di antara sekian keharusan yang harus diterapkan oleh masyarakat, dia menjadi fundamen penting dalam membangun komunitas masyarakat. Tanpa sikap jujur, seluruh ikatan masyarakat akan terlepas. Karena tidak mungkin membentuk suatu komunitas masyarakat sedang mereka tidak berhubungan sesamanya dengan jujur.

Sikap jujur sebetulnya merupakan naluri setiap manusia. Cukup sebagai bukti bahwa anak kecil jika diceritakan tentang sosok seorang yang jujur di satu sisi dan di sisi lain diceritakan sosok seorang pendusta, engkau lihat, dia akan menyukai orang jujur dan membenci pendusta.

Al Marudzi bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal. “Dengan apakah seorang tokoh meraih reputasi hingga terus dikenang?”. Imam Ahmad menjawab singkat: “Dengan perilaku jujur”. Beliau melanjutkan bahwa ”Sesungguhnya perilaku jujur terkait dengan sikap murah tangan (dermawan).” (Thabaqatul Habilah, jilid I, hal 58).

Imam Fudhail bin Iyadh berkata: “Seseorang tidak berhias dengan sesuatu yang lebih utama daripada kejujuran (Hilyatul Auliya, jilid VIII,hal 109).

Sahabat Bilal melamar wanita Quraisy (suku terhormat-red) untuk dinikahkan dengan saudaranya. Dia berkata kepada keluarga wanita Quraisy: “Kalian telah mengetahui keberadaan kami. Dahulu kami adalah para hamba sahaya lalu dimerdekakan Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Kami dahulu adalah orang-orang tersesat lalu diberikan hidayah oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Kami dulunya fakir lalu dijadikan kaya oleh-Nya. Kini akan melamar wanita fulanah ini untuk dijodohkan dengan saudaraku. Jika kalian menerimanya, maka segala puji bagi Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Dan bila kalian menolak, maka Alloh Subhanahu wa Ta’ala Dzat Yang Maha Besar.

Anggota keluarga wanita itu tampak memandang satu dengan yang lainnya. Mereka lalu berkata: “Bilal termasuk orang yang kita kenal kepeloporan, kepahlawanan, dan kedudukannya di sisi Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa sallam. Maka nikahkanlah saudara dengan puteri kita”. Mereka lalu menikahkan saudara Bilal dengan wanita Quraisy tersebut. Usai itu saudara Bilal berkata kepada Bilal: “Mudah-mudahan Alloh Subhanahu wa Ta’ala mengampuni. Apa engkau menuturkan kepeloporan dan kepahlawanan kami bersama dengan Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam, sedang engkau tidak menuturkan hal-hal selain itu? Bilal menjawab: “Diamlah saudaraku, kamu jujur, dan kejujuran itulah yang menjadikan kamu menikah dengannnya”. (Al Mustathraf, jilid I, hal 356).

Ismail bin Abdullah Al-Makhzumi berkata: “Khalifah Abdul Malik bin Marwan menyuruh aku mengajari anak-anaknya dengan kejujuran sebagaimana dia menyuruh aku membaca tulis Al-Qur’an serta menyuruh aku menghindarkan mereka dari dusta walaupun harus mati” (Makarimul Akhlaq, hadits nomor 122, hal 27).

Rib’i bin Hirasy dikenal tidak pernah berdusta sama sekali. Suatu hari dua puteranya tiba dari Khurasan berkumpul dengannya., sedang keduanya adalah anak durhaka (nakal). Barangkali kedua anaknya menjadi pemberontak pemerintah. Seorang mata-mata lalu memberi kabar kepada Hajjaj. Katanya: “Wahai pimpinanku, masyarakat seluruhnya menganggap Rib’i bin Hirasy tidak pernah berdusta selamanya. Sementara saat ini kedua anaknya yang durhaka dan nakal datang dari Khurasan dan berkumpul dengannya”.

Hajjaj berkata: “Serahkan ia kepadaku”. Rib’i bin Hirasy lalu dibawa ke hadapan Hajjaj. Hajjaj bertanya: “Wahai orangtua….”.
“Apa yang kau mau?” tanya Rib’i.
“Saat ini apakah yang dilakukan oleh kedua puteramu?” tanya Hajjaj dengan selidik.
Rib’i berkata jujur: “Tempat bermohon adalah Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Aku meninggalkan keduanya di rumah”.
“Tidak ada pidana. Demi Alloh Subhanahu wa Ta’ala, aku tidak menuduh buruk kepadamu mengenai dua anakmu. Sekarang kedua anakmu terserah padamu. Keduanya bebas dari tuduhan pidana”. (Makarimul Akhlaq, hadits nomor 135, hal 29-30).

Kategori:Uncategorized
%d blogger menyukai ini: