Beranda > Uncategorized > MENGHINDARI MURKA ALLAH, BERLINDUNG DARI ALIRAN SESAT

MENGHINDARI MURKA ALLAH, BERLINDUNG DARI ALIRAN SESAT

Sudahkah doa memohon petunjuk di atas —yang mana telah sering dan banyak anda ucapkan— berpengaruh pada diri dan kehidupan anda? Apa pengaruhnya terhadap diri dan kehidupan anda? Bagaimanakah kualitas pengaruhnya? Apakah do’a tersebut telah efektif membentengi diri anda dari serangan virus-virus aliran, paham dan pemikiran sesat? Jika telah terinfeksi, apakah do’a tersebut efektif menghilangkan virus-virus tersebut? Jika jawaban dari semua pertanyaan tersebut adalah belum, tidak atau masih sedikit pengaruhnya, anda mesti mempertanyakan keimanan anda lalu menginstall ulang iman anda. Bagaimana caranya?

Setiap Muslim setiap hari minimal membaca do’a memohon petunjuk tersebut di atas sebanyak jumlah rakaat shalat wajib yakni tujuh belas kali. Berapa jumlahnya sejak pertama kali menjalankan shalat ketika mencapai usia baligh hingga saat ini? Tinggal dikalikan. Jumlahnya akan mencapai ratusan ribu. Seseorang Muslim yang katakanlah mencapai usia baligh di usia 15 tahun dan telah berumur 60 tahun minimal telah memanjatkan do’a tersebut 275.400 kali (17x360x(60-15)). Namun apakah do’a yang telah dipanjatkan sebanyak itu telah efektif? Apakah kualitas dan efektifitasnya sebanding dengan kuantitasnya? Hanya Allah swt Yang Maha Tahu. Namun sebagai manusia kita tetap bisa berusaha mengukur keefektifan doa tersebut dari tanda-tanda yang nampak secara lahiriahnya. Bagaimana cara mengukurnya?

Keutamaan Do’a Memohon Petunjuk Kepada Jalan Yang Lurus

Do’a ini memiliki fungsi dan kedudukan yang istemewa. Do’a ini adalah satu-satunya do’a di dalam Al-Qur’an yang berfungsi untuk memohon petunjuk kepada jalan yang lurus. Do’a ini merupakan do’a yang pertama kali Allah turunkan dan ajarkan kepada Rasulullah saw karena surat Al-Fatihah merupakan surat kelima yang pertama kali diturunkan dan di empat surat sebelumnya tidak terdapat ayat-ayat do’a.

Do’a ini istimewa disebabkan keistimewaan Surat Al-Fatihah. Al-Fatihah istimewa karena merupakan pembuka Al-Qur’an, kandungannya merupakan inti sari Al-Qur’an, salah satu cahaya yang Allah berikan kepada Rasulullah saw yang tidak diberikan kepada nabi-nabi dan rasul-rasul sebelum beliau, tidak ada surat yang sebanding dan serupa di Zabur, Taurat, Injil dan Al-Qur’an, serta karena Allah menjawab setiap kalimat yang diucapkan oleh seorang hamba ketika membacanya dalam setiap shalat (yakni ayat kedua hingga ketujuh).

“Allah berfirman:’Shalat dibagi dua antara Aku dan hamba-Ku. Bagi hamba-Ku ialah apa yang dia pinta. Bila seorang hamba mengatakan ‘Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam,’ maka Allah berfirman,’Hambaku memuji-Ku’. Bila hamba mengatakan,’Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,’ maka Allah berfirman,’hamba-Ku menyanjung-Ku.’ Apabila dia berkata,’Yang Menguasai hari pembalasan,’maka Allah berfirman, ‘Hamba-Ku memuliakan-Ku. Atau lain kali Dia berfirman,’Hamba-Ku berserah diri pada-Ku.’ Apabila dia berkata,’Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan,’ maka Allah berfirman,’Bacaan itu menyangkut Aku dan hamba-Ku. Bagi hamba-Ku adalah apa yang dia minta.’ Apabila dia berkata,’Tunjukkanlah kami kepada jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) orang-orang yang Engkau murkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat,’ maka Allah berfirman,’Pahala ayat ini untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku pula apa yang dia minta,”” (HR. Muslim)

Do’a ini istemewa karena terdapat di dalam Surat Al-Fatihah yang merupakan surat istemewa. Imam Ahmad bin Hambal ra. meriwayakan dari Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah saw menyatakan tidak ada surat lain yang serupa dengan Al-Fatihah baik di dalam Al-Qur’an maupun kitab-kitab suci samawi lainnya.

Keistimewaan lainnya adalah surat ini merupakan satu dari cahaya yang diberikan kepada Rasulullah saw dan tidak pernah diberikan kepada seorang nabi sebelum beliau (HR. Muslim).

Keistimewaan lain yang dapat dikemukakan di sini adalah ketika surat ini dibaca oleh seorang hamba dalam shalatnya Allah menjawab setiap kalimat yang diucapkannya yakni ayat kedua hingga ketujuh.

“Allah berfirman:’Shalat dibagi dua antara Aku dan hamba-Ku. Bagi hamba-Ku ialah apa yang dia pinta. Bila seorang hamba mengatakan ‘Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam,’ maka Allah berfirman,’Hambaku memuji-Ku’. Bila hamba mengatakan,’Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,’ maka Allah berfirman,’hamba-Ku menyanjung-Ku.’ Apabila dia berkata,’Yang Menguasai hari pembalasan,’maka Allah berfirman, ‘Hamba-Ku memuliakan-Ku. Atau lain kali Dia berfirman,’Hamba-Ku berserah diri pada-Ku.’ Apabila dia berkata,’Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan,’ maka Allah berfirman,’Bacaan itu menyangkut Aku dan hamba-Ku. Bagi hamba-Ku adalah apa yang dia minta.’ Apabila dia berkata,’Tunjukkanlah kami kepada jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) orang-orang yang Engkau murkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat,’ maka Allah berfirman,’Pahala ayat ini untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku pula apa yang dia minta,”” (HR. Muslim)

Do’a memohon petunjuk ini diajarkan Allah swt untuk selalu dibaca hamba-Nya yang Muslim bukan berarti pengetahuan tentang jalan yang lurus belum jelas dan diketahui, dan bukan berarti siapa yang sesat siapa yang tidak sesat juga belum jelas dan diketahui. Pengetahuan tentang jalan yang lurus sudah jelas dan bisa diketahui, siapa yang sesat dan siapa yang tidak sesat juga sudah jelas dan bisa diketahui karena Allah telah memberi tahu jalan yang lurus dan siapakah yang sesat. Allah telah mewahyukannya kepada para nabi dan rasul-Nya, dan mereka telah menyampaikannya kepada umat-umat mereka. Tinggal manusia sendiri apakah berkemauan atau tidak untuk mengetahuinya dengan cara membaca dan mengkaji Kitabullah lalu mengimaninya.
“Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal shaleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar,” (QS. Al-Israa’ [17]:9)

“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (QS. Al-Baqarah [2]:213)

Do’a ini istimewa karena permohonan hidayah ke jalan yang lurus adalah do’a yang paling utama, penting dan berharga dibanding do’a-do’a lainnya. Apa sebabnya? Karena hidayah ke jalan yang lurus merupakan hal yang paling utama, penting dan berharga dalam kehidupan. Tak ada sesuatupun hal yang lebih utama, penting dan berharga selainnya karena hal itu merupakan sarana untuk mencapai keislaman, keimanan dan ketakwaan, yang mana ketiga hal tersebut merupakan sarana untuk menggapai kebahagiaan, keselamatan dan kesejahteraan di dunia dan akhirat.

Hikmah Diwajibkannya Membaca Al-Fatihah Dalam Setiap Shalat

Al-Fatihah merupakan salah satu rukun shalat. Artinya Al-Fatihah wajib hukumnya dibaca dalam setiap shalat. Jika ketika menjalankan shalat tidak membacanya meskipun hanya satu kali saja shalatnya tidak sah.

“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Beberapa hikmah diwajibkannya membacanya dalam shalat agar pertama, setiap Muslim setiap harinya siang dan malam tidak lepas dari berdo’a memohon petunjuk ke jalan yang lurus. Kedua, agar setiap Muslim setiap harinya siang dan malam teringat dan termotivasi untuk berupaya memperbaiki, meningkatkan, mempertebal, memperkokoh dan menginstall ulang imannya, serta berupaya membentengi, menangkal, membunuh atau menghilangkan virus-virus yang merusak pemikiran dan iman.

Allah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk selalu memohon agar Allah berkenan memberi hidayah dan taufik-Nya sehingga mereka bisa, mampu dan tetap berada pada jalan yang lurus karena hanyalah Allah yang mempunyai kemampuan dan wewewang memberikan hadayah kepada manusia.

“Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah? Barang siapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya” (QS. An-Nisaa’ [4]:88)

Tanpa pertolongan, bimbingan dan hidayah Allah, hamba-hambanya yang beriman dalam kehidupan sehari-hari tidak mempunyai daya dan upaya melawan setan-setan dari kalangan jin dan manusia tidak berhenti berupaya mengerahkan segala daya dan upaya mempropagandakan dan mengkampanyekan jalan-jalan yang yang sesat.

Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan). (QS. Al-A’raaf [7]:202)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan: “Jika seseorang bertanya, “Mengapa orang beriman perlu berdo’a memohon petunjuk dalam setiap shalat dan pada saat-saat lainnya, sementara dia sudah sempurna diberi petunjuk. Apakah dia belum memperolehnya?” Jawabannya adalah jikalau seorang beriman tidak diharuskan untuk selalu memohon petunjuk siang dan malam, tentu Allah tidak akan memerintahnya untuk berdo’a kepada Allah agar mendapatkan petunjuk. Seorang hamba membutuhkan Allah setiap saat dalam hidupnya agar Allah menolongnya supaya tetap berdiri kokoh di jalan yang lurus dan membuatnya lebih kokoh dan gigih pada jalan itu. Seorang hamba tidak punya daya dan upaya untuk memberikan manfaat dan mudharat bagi dirinya kecuali dengan ijin Allah. Oleh karena itu, Allah memerintah hamba-Nya untuk senantiasa memohon kepada-Nya, agar Dia memberikanya bantuan, kekokohan dan kesuksesan. Sesungguhnya, orang yang berbahagia adalah orang yang diberi petunjuk untuk memohon kepada-Nya”

Apakah Jalan Yang Lurus Itu?

Pengertian jalan yang lurus bisa kita pahami dari ayat di bawah ini yang artinya:

“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah [1]:7)

1. Jalannya Orang-Orang Yang Telah Engkau Beri Nikmat Kepada Mereka

Orang-orang yang telah Allah beri nikmat adalah para nabi, rasul, orang-orang yang mati syahid, orang-orang sholeh dan shiddiqin. Yang dimaksud nikmat di sini adalah Islam dan iman. Mereka telah merasakan manisnya dan indahnya Islam dan iman. Mereka juga telah merasakan pengaruh Islam dan iman terhadap diri dan kehidupan mereka. Jalan yang mereka tempuh adalah jalan Islam. Hanya jalan yang mereka tempuh yang lurus dan benar. Islam yang mereka jalankan adalah Islam yang sebenarnya.

“Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS.An-Nisaa’ [4]:69)

“Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).” (QS. Yunus [10]:25)

“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus” (QS.Al-Hujuraat [49]:7)

Mereka adalah suri teladan terbaik. Cara beragama mereka adalah satu-satunya cara yang benar dan lurus. Mereka sami’na wa atho’na kepada Allah. Mereka mengimani, mengamalkan dan mendakwahkan Islam secara kaffah. Mereka tidak (tidak berani) protes dan mempertanyakan apalagi membangkang sebagian atau semua yang telah disyari’atkan oleh Allah. Mereka tidak merasa memiliki hak, kebebasan dan wewenang untuk menghapus atau mengubah syariat. Mereka tidak merasa, berpikir dan berkesimpulan ada sebagian syari’at yang tidak disenangi, tidak cocok untuk dirinya atau tidak cocok untuk tempat-tempat atau waktu-waktu tertentu.

“Sesungguhnya sebenar-benar ucapan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam sementara seburuk-buruk perkara adalah hal-hal yang diada-adakan, dan setiap hal yang diada-adakan itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah sesat dan setiap kesesatan itu berada di neraka.” (HR. an-Nasa`i)

2. Bukannya (Jalan) Mereka Yang Dimurkai dan Bukan (Pula Jalan) Mereka Yang Sesat

Kalimat penutup dalam surat ini merupakan penegasan dari kalimat sebelumnya. Allah memberi informasi tambahan sebagai penegasan apa yang dimaksud dengan jalan lurus. Kedua kaum tersebut merupakan kebalikan dari para nabi, rasul, orang-orang shaleh, syuhada’ dan shiddiqin.

Hamad bin Salamah meriwayatkan dari Adi bin Hatim, dia berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah saw. Ihwal ‘bukannya jalan orang-orang yang dimurkai’. Beliau bersabda.”Yaitu kaum Yahudi.’ Dan bertanya ihwal ‘bukan pula jalannya orang-orang yang sesat’. “Beliau bersabda,’Kaum Nasrani adalah orang-orang yang sesat’.

Mereka yang Allah murkai adalah Kaum Yahudi dan mereka yang “diberi label sesat” oleh Allah adalah Kaum Nasrani. Kaum Yahudi dimurkai Allah karena mereka mempunyai syari’at namun mereka merubah, menyembunyikan dan tidak melaksanakan syari’at Allah yang mereka rasa tidak cocok dan tidak mereka sukai. Kaum Yahudi dimurkai Allah juga disebabkan oleh sifat-sifat dan watak-watak mereka yang tidak disenangi Allah seperti suka memprotes, mempertanyakan dan membangkang perintah-perintah Allah.

Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata : “Kami mendengar”, tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula) : “Dengarlah” sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan) : “Raa’ina” , dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan : “Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis. (QS. An-Nisa’ [4]:46)

Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasuki nya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja” (QS. Al-Ma’idah [5]:24)

Sedang kaum Nasrani disebut Allah sesat karena mereka banyak amal tapi tidak punya ilmu. Namun secara umum kedua kaum tersebut sama-sama dimurkai Allah dan sama-sama sesat.

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. (QS. al-Maidah[5]:77)

Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?”. Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. al-Maidah[5]:60)

Kaum yang dimurkai dan disebut sesat oleh Allah tidak terbatas pada kedua kaum tersebut, namun juga pada kaum Muslimin yang mengikuti langkah-langkah mereka. Allah juga murka dan melabeli sesat kepada kaum Muslimin yang setuju, mendukung, menginginkan, mengkampanyekan dan melakukan usaha-usaha perubahan dan atau pembangkangan terhadap syari’at Allah yang tidak disenangi dan dirasa tidak cocok.

Allah juga murka dan mengkategorikan sesat mereka yang membuat, meyakini, mendukung, menyebarluaskan dan atau menjalankan aliran, paham atau pemikiran yang tidak sesuai dengan yang disyari’atkan Allah dan yang telah dicontohkan oleh Rasululllah saw. Semua aliran, paham atau pemikiran tersebut tentu mempunyai ajaran-ajaran sendiri yang dirumuskan dan ditetapkan oleh para pendiri dan tokoh-tokohnya. Ajaran-ajaran tersebut tentu bukanlah syari’at Allah dan tentu tidak bisa disebut dan dikategorikan sebagai syari’at Islam meskipun ada sebagian yang diambil dari syari’at, ajaran dan ilmu Islam.

Syarat-Syarat Terkabulnya Do’a Memohon Petunjuk Ke Jalan Yang Lurus

Berdasarkan tiga ayat sebelum dan satu ayat setelah do’a memohon petunjuk dalam surat Al-Fatihah, ada beberapa syarat yang mesti dipenuhi oleh setiap Muslim agar Allah swt berkenan mengabulkan do’a tersebut. Syarat-syarat ini merupakan perkara-perkara yang harus dilakukan oleh setiap Muslim. Semua syarat ini adalah satu kesatuan, tidak bisa dipisah-pisahkan dan tidak bisa dilakukan sebagian saja.

Syarat-syarat ini merupakan adab kita kepada Allah swt. Sungguh tidak etis jika kita hanya mengucapkan kalimat-kalimat yang tertera dalam tiga ayat tersebut tanpa dibarengi dengan amal nyata. Sungguh besar kebencian Allah kepada kita jika kita mengatakan apa yang tidak kita amalkan.

“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff [61]:3)

Amal nyata ini adalah cara menginstall ulang Iman. Amal nyata ini merupakan cara efektif dalam mengimunisasi dan membentengi diri kita agar tidak terinfeksi virus-virus aliran sesat. Jika telah terenfeksi, amal nyata ini adalah cara efektif menghilangkan atau membunuh virus-virus aliran sesat.

1. Dengan (Menyebut) Nama Allah swt.

“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Fatihah [1]:1)

Setiap perbuatan baik dan benar —baik yang berkaitan dengan duniawi maupun ukhrowi— disunahkan dimulai dengan ucapan basmalah yang diucapkan oleh lisan dan dijiwai dengan hati. Kedua, setiap perbuatan tersebut haruslah atas nama dan dengan nama Allah. Dengan memenuhi dua syarat tersebut setiap perbuatan baik dan benar bisa diniatkan hanya karena dan untuk Allah, bernilai ibadah serta mengundang pahala dan ridha Allah. Itulah keuntungan yang sebenarnya dan tidak akan mengecewakan.
Meskipun secara duniawi bermanfaat bagi diri sendiri, orang lain dan banyak orang, sungguh sangat rugi dan mendatangkan kekecewaan jika seorang Muslim melakukan setiap perbuatan baik dan benar tidak dimulai dengan basmalah, apatah lagi jika melakukannya atas nama dan dengan nama selain Allah seperti manusia, cinta kepada selain Allah, uang, negara, partai dan organisasi. Amal-amal mereka tak ada bedanya dengan amal-amal orang kafir. Setiap perbuatan tersebut menjadi fatamorgana. Kelihatannya ada wujudnya dan bermanfaat namun sebenarnya wujudnya tidak ada dan tidak bermanfaat.

“Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun. Dan di dapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. An-Nur [24]:39)

2. Memuji Allah swt.

“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-Fatihah [1]:2)

Memuji Allah adalah mengucapkan hamdalah dengan lisan. Ucapan lisan juga harus diikuti oleh pikiran dan hati yang juga memuji Allah dan mengakui Allah mempunyai sifat Al-Hamid (Maha Terpuji).

Memuji Allah adalah cara bersyukur dan sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Allah yang telah memberikan nukmat yang tak terhingga jumlah dan jenisnya terutama nikmat Islam dan nikmat iman. Hanya Allah lah yang berhak dipuji dan segala pujian hanya milik Allah. Memuji Allah adalah etika manusia kepada Allah. Memuji Allah adalah kebutuhan manusia dan untuk kepentingan manusia sendiri. Allah tidak memerlukan pujian manusia. Dipuji atau tidak oleh manusia, Allah tetap Maha Terpuji.

Memuji Allah pasti menguntungkan dan tidak mengecewakan. Allah menyediakan balasan di dunia dan akhirat bagi mereka yang memuji-Nya. Allah juga pasti mengabulkan permintaan-permintaan hamba-hamba-Nya yang senang memuji-Nya. Sedangkan memuji manusia belum tentu menguntungkan dan bisa mgengecewakan. Manusia yang dipuji belum tentu (belum tentu selalu) memberikan balasan atau mengabulkan permintaan, apatah lagi memberikan balasan di akhirat.

3. Mengakui dan Allah swt Sebagai Rabb

“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-Fatihah [1]:2)

Allah adalah Rabb bagi semua makhluk hidup. Allah adalah pencipta, pemilik dan pengatur hidup dan pemberi nikmat bagi makhluk hidup. Allah adalah satu-satunya rabb. Tidak ada rabb selain Allah. Meskipun sebagian atau seluruh manusia menganggap atau berkayinan ada rabb lain, Allah tetap satu-satunya rabb. Mustahil ada rabb lain. Jika ada, tentu alam semesta dan kehidupan makhluk hidup kacau balau dan berantakan karena rabb-rabb itu pasti berbeda paham dan pendapat.

Bagi setiap Muslim wajib hukumnya mengetahui, mengimani dan mengakui Allah adalah Rabb dan satu-satunya Rabb, serta ikhlas diatur oleh Allah. Bagi Muslim, pengetahuan bahwa Allah adalah Rabb dan dan satu-satunya rabb sudah jelas dan bisa diketahui. Namun dalam prakteknya dalam kehidupan sehari-hari masih ada sebagian kaum Muslimin yang menganggap atau berkayinan ada rabb lain selain Allah seperti kekuatan alam, batu, pohon, benda-benda pusaka, dukun, penguasa, negara, pemimpin dan organisasi. Selain itu masih terdapat sebagian Muslimin yang belum ikhlas diatur oleh Allah. Mereka lebih ikhlas diatur oleh selain Allah apakah itu manusia, negara, undang-undang, organisasi atau hawa nafsunya sendiri.

Ikhlas diatur Allah pasti menguntungkan dan tidak mengecewakan. Sedangkan ikhlas diatur selain Allah belum tentu menguntungkan dan bisa mengecewakan, apatah lagi ketika hidup di akhirat.

4. Hanya Menyembah dan Memohon Pertolongan Kepada Allah swt Semata

“Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah [1]:5)

Manusia wajib hanya menyembah dan meminta pertolongan kepada Allah. Allah adalah satu-satunya Ilah. Tidak ada Ilah selain Allah. Meskipun sebagian atau seluruh manusia menganggap atau berkayinan ada ilah lain, Allah tetap satu-satunya ilah. Mustahil ada ilah lain. Jika ada, tentu ilah-ilah yang ada akan saling iri dan dengki karena masing-masing merasa yang paling berhak disembah dan dimintai pertolongan.

Bagi setiap Muslim wajib hukumnya mengetahui, mengimani dan mengakui Allah adalah Ilah dan satu-satunya Ilah, serta hanya menyembah, menghambakan /mengabdikan diri dan meminta pertolongan hanya kepada Allah. Bagi Muslim pengetahuan bahwa Allah adalah Rabb dan dan satu-satunya rabb sudah jelas dan bisa diketahui. Namun dalam prakteknya dalam kehidupan sehari-hari masih ada sebagian kaum Muslimin yang (lebih memprioritaskan) menyembah, menghambakan /mengabdikan diri dan meminta pertolongan kepada selain Allah seperti kuburan, batu, patung, benda-benda pusaka, negara, organisasi, penguasa, pemimpin, dukun dan nabi palsu. Dalam prakteknya, masih ada sebagian kaum Muslimin yang juga menghambakan atau mengabdikan dirinya kepada hawa nafsunya, peralatan teknologi seperti TV dan handphone, harta, wanita dan tahta/jabatan.

5. Meneladani Rasulullah saw beserta Para Sahabat dan Tidak Mengikuti Langkah-Langkah Kaum Yahudi dan Nasrani

“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah [1]:7)

Meneladani Rasulullah beserta para sahabat beliau dan tidak mengikuti langkah-langkah Kaum Yahudi dan Nasrani dalam pola pikir, pemahaman, pola hidup, pemikiran, perasaan dan pengamalan agama adalah cara efektif terkabulnya do’a sekaligus membentengi diri agar tidak terinfeksi virus-virus sesat dan menghilangkan virus-virus sesat.

Kelima syarat tersebut di atas merupakan tawassul kepada Allah melalui sifat-sifat dan nama-nama Allah dan melalui amal saleh. Hal ini senada dengan apa yang disebutkan oleh Muhammad Nasib Ar-Rifa’i dalam kitabnya Taisiru al-Alayyul Qadir li Ikhtishari Tafsir Ibnu Katsir Jilid I, dia menyebutkan yang artinya: “ayat-ayat ini mengandung dalil yang menganjurkan ber-tawassul dengan sifat-sifat Allah dan dengan amal saleh. Setelah seorang hamba menghaturkan berbagai amal saleh di hadapan-Nya, lalu dia menghanturkan permohonan akan kebutuhannya, yaitu kiranya Dia menunjukkan diri dan saudara-saudaranya yang beriman pada jalan yang lurus berupa Dinul Islam yang sahih tanpa tambahan dan pengurangan, agama yang bersih dari bid’ah dan khurafat.Jalan ini merupakan jalan terdekat untuk mencapai perkara yang dicintai dan diridhai Allah selaras dengan apa yang telah diperintahkan-Nya dan disampaikan oleh Rasul-Nya. Apabila seorang Muslim menggali ayat-ayat Al-Qur’an, maka ia akan melihat seluruh ayat do’a itu pasti didahului oleh tawassul kepada Allah Ta’ala, baik melalui zat Allah, nama-nama-Nya yang indah, sifat-sifat-Nya yang tinggi, maupun dengan berbagai amal saleh yang mendekatkan kepada Rabbnya,”

Kesimpulan dan Ajakan

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Maa’idah [5]:105)

Di akhir zaman ini di berbagai belahan dunia tak terkecuali di negara kita telah banyak bermunculan dan berkembang berbagai agama, aliran, ajaran, paham dan pemikiran baik yang mengatasnamakan Islam maupun yang tidak.
Kita umat Islam yang hidup di akhir zaman ini harus ekstra hati-hati dan waspada. Setiap komponen umat mulai dari pemimpin negara, pemimpin umat Islam, pemimpin lembaga pendidikan hingga pemimpin rumah tangga wajib menjaga dan menyelamatkan iman dan aqidah diri dan semua anggota yang menjadi tanggung jawab kita Tak ada cara lain kecuali kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits Tak ada sumber dan pedoman lain kecuali keduanya.

“Telah kutinggalkan untuk kalian dua perkara yang (selama kalian berpegang teguh dengan keduanya) kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitabullah dan Sunnah-ku. (HR. )

Untuk bisa menyelamatkan diri dari agama, aliran, ajaran, paham dan pemikiran sesat setiap Muslim wajib berdo’a dan berusaha. Do’a istimewa yang telah Allah ajarkan adalah “Ihdinash shirotol Mustaqim” yang wajib dibaca setiap melaksanakan sholat. Tentu tidak sembarang shalat diterima Allah. Hanya shalat yang khusyu’, memenuhi segala syarat sah dan rukunnya, serta dilakukan secara ikhlas karena Allah saja yang makbul. Salah satu tanda sholat makbul adalah sholat yang mampu menahan dari perbuatan keji dan munkar.

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-‘Ankabuut [29]:45)

Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang sholatnya tidak dapat menahan dari perbuatan keji dan munkar, maka sesungguhnya sholatnya hanya menambah kemurkaan Allah”.

Sebagian perbuatan yang termasuk perbuatan keji kepada Allah dan Rasul-Nya adalah mengumpat Allah seperti Allahu anjing, merelatifkan Allah yang absolut dan pada saat yang sama mengabsolutkan tuhan yang disebut dengan “The Real”, merelatifkan agama Islam, menginklusifkan aqidah dan ibadah, meyakini ada nabi setelah Nabi Muhammad saw, mengkritisi Al-Qur’an dan Hadits, meyakini semua agama adalah sama dan benar, memahami nash-nash Al-Qur’an & Hadits dengan hanya mengandalkan rasio akal pikiran yang bebas; dan hanya mau menerima doktrin-doktrin agama hanya bila sesuai dengan nalar akal pikiran manusia semata, dan menjual agama dan ayat-ayat Al-Qur’an untuk mendapatkan ridho manusia dan kesenangan duniawi.

“Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak atau pun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”.” (QS. Al-A’raaf [7]:33)

Sedangkan sebagian usaha yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan iman dan aqidah adalah sebagaimana telah diterangkan dalam tulisan di atas pada bagian “Syarat-Syarat Terkabulnya Do’a Memohon Petunjuk Kepada Jalan Yang Lurus”.

Bagaimanakah caranya mengetahui sholat kita dan do’a memohon petunjuk tersebut diterima oleh Allah dan mempunyai efek terhadap diri dan kehidupan kita? Cara sederhana dan mudah untuk mengetahuinya adalah dengan cara melihat apakah kita termasuk kelompok pertama yaitu mereka yang telah diberi nikmat atau kelompok kedua yaitu yang dimurkai dan sesat? Lebih spesifik, apakah kita dalam kehidupan sehari-hari meneladani kelompok pertama atau kita mengikuti langkah-langkah kelompok kedua? Kita bisa dengan mudah melihat dan menilai diri sendiri, anggota keluarga, kerabat dan rekan-rekan kita termasuk kelompok mana.

Ada tiga hal yang barang siapa mengamalkannya, maka ia dapat menemukan manisnya iman, yaitu orang yang lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya daripada yang lain, mencintai orang lain hanya karena Allah, tidak suka kembali ke dalam kekufuran (setelah Allah menyelamatkannya) sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke dalam neraka. (HR. Muslim)

Wahai kaum Muslimin baik yang belum maupun yang sudah terinfeksi oleh virus-virus sesat dan dalam keyakinan, pemikiran, pemahaman dan pengamalan agama! Wahai kaum yang telah yang telah keluar dari Islam baik yang dengan sadar maupun tidak! Renungkanlah firman Allah swt berikut ini dan takutlah akan siksa Allah swt.

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan menyucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.” (QS.Al-Baqarah[2]:174)

“Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan siksa dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka menentang api neraka!” (QS.Al-Baqarah[2]:175)

“Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda-gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan Al Qur’an itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak (pula) pemberi syafa`at selain daripada Allah. Dan jika ia menebus dengan segala macam tebusan pun, niscaya tidak akan diterima itu daripadanya. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka, disebabkan perbuatan mereka sendiri. Bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih dan adzab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu.” (QS. Al-An’aam [6]:70)

Apakah anda berani menentang api neraka?

Penulis adalah peneliti di ISFI (Islamic Studies Forum for Indonesia) Kuala Lumpur Malaysia sedang menempuh program Master Qur’an Studies di IIUM (International Islamic University Malaysia)

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Silahkan tinggalkan komentar sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: