Arsip

Archive for Juli, 2012

HAL-HAL YANG MEMBATALKAN PUASA

8. HAL-HAL YANG MEMBATALKAN PUASA

v  Makan dan minum dengan sengaja. Jika dilakukan karena lupa maka tidak batal puasanya.

v  Jima’ (bersenggama).

v  Memasukkan makanan ke dalam perut. Termasuk dalam hal ini adalah suntikan yang mengenyangkan dan transfusi darah bagi orang yang berpuasa.

v  Mengeluarkan mani dalam keadaan terjaga karena onani, bersentuhan, ciuman atau sebab lainnya dengan sengaja. Adapun keluar mani karena mimpi tidak membatalkan puasa karena keluarnya tanpa sengaja.

v  Keluarnya darah haid dan nifas. Manakala seorang wanita mendapati darah haid, atau nifas batallah puasanya, baik pada pagi hari atau sore hari sebelum terbenam matahari

v  Keluarnya darah haid dan nifas. Manakala seorang wanita mendapati darah haid, atau nifas batallah puasanya, baik pada pagi hari atau sore hari sebelum terbenam matahari

v  Sengaja muntah, dengan mengeluarkan makanan atau minuman dari perut melalui mulut. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
”Barangsiapa yang muntah tanpa sengaja maka tidak wajib qadha, sedang barangsiapa yang muntah dengan sengaja maka wajib qadha.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan At-Tirmidzi). Dalam lafazh lain disebutkan : “Barangsiapa muntah tanpa disengaja, maka ia tidak (wajib) mengganti puasanya).” DiriwayatRan oleh Al-Harbi dalamGharibul Hadits (5/55/1) dari Abu Hurairah secara maudu’ dan dishahihRan oleh AI-Albani dalam silsilatul Alhadits Ash-Shahihah No. 923

v  Murtad dari Islam (semoga Allah melindungi kita darinya). Perbuatan ini menghapuskan segala amal kebaikan. Firman Allah Ta’ala: Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. “(Al-An’aam:88).
Tidak batal puasa orang yang melakukan sesuatu yang membatalkan puasa karena tidak tahu, lupa atau dipaksa. Demikian pula jika tenggorokannya kemasukan debu, lalat, atau air tanpa disengaja. Jika wanita nifas telah suci sebelum sempurna empat puluh hari, maka hendaknya ia mandi, shalat dan berpuasa

Iklan
Kategori:'AMALIYAH

JUJUR, SULITKAH?

Bismillah…

Ada satu hadist yang menarik untuk kita kaji, dimana bagi insan yang beriman akan terlahir benih tangis dalam hati, berbeda dengan orang yang tidak memiliki iman dalam hatinya, bahkan ia akan menyepelekan hadist ini

“kullu lahmi nabata mina al-haroom, fannaaru aula bih”

Artinya :

“setiap daging yg tercipta dari hal yang haram, maka neraka lah tempatnya”                                                                                                                                                (H.R. tirmidzi)

Alangkah indahnya ketika diri kita tumbuh berkembang sesuai dengan apa yang di haraf, baik secara internal maupun external, namun seiring dengan hal itu tak terlepas jua seringkali kita luput, khilap dahkan lalai akan apa yang seharusnya kita tanamkan dalam diri dalam mengembangkan kehidupan, termasuk perkembangan diri.

Setelah begitu naifnya diri kita akan rahmat illah, di tambah ingkar atas apa yang di perintahkan oleh agama melalui lisan rasulullah SAW, Satu contoh, jelas sudah bahwa kita harus menanamkan kejujuran dalam hidup ini, namun dengan bangga seringkali kita ingkar atas perintah rosulullah SAW, baik dari segi lisan dalam berucap, dari hati berprasangka, dari waqtu bersenggama.

Di sedari ataupun tidak, kejujuran/kebohongan kita akan terungkap dengan jelas, baik di hadapan illah secara langsung, maupun tidak (di dunia).

Namun yang mesti kita garis bawahi kesemuanya itu adalah bentuk rahman dan rahimnya allah SWT, walau pahit terasa, gundah akan ketidak sesuaia dengan harapan.

Tentu sebagai insan, kita mengharafkan kebaikan atas apa yang kita perjuangkan dalam hidup, namun ingatkah kita akan pribahasa “apa yang akan kita tanam, itulah yang akan kita tuai” ?

Walau sekuat apapun keinginan hati berseru namun dalam pengimplementasian tidak di aplikasikan, maka kebohongan besar akan di raih suatu cita.

Kernanya, alangkan indahnya kita menanamkan keujuran dalam hidup, baik secara hati, lisan maupun amaliyyah kita, kejujuran tidak hanya berbentuk ucapan dalam lisan yang di sesuaikan dengan apa yang di tulis, namun adakalanya kejujuran berbentuk dalam tuntutan utk menjalankan kebenaran.

Kejujuran banyak ragam , di antaranya :

Kejujuran kepada Allah SWT

Kejujuran kepada manusia

Kejujuran kepada waktu

Kejujuran Kepada Allah SWT

Jujur kepada allah adalah tidak pernah ingkar atas apa yang sudah di tetapkan oleh Allah SWT, seperti allah telah menetapkan bahwa shalat wajib untuk muslim adalah 5 waktu sahaja, maka kita sebagai muslim melaksanakanya sesuai dengan apa yang telah di syariatkan, tdiak melebihkan atau menguranginya.

Kejujuran Kepada Manusia

Inilah yang seringkali kita saksikan akan ingkarnya kata “kejujuran”, begitu banyak insan/manusia yang seringkali ingkar atas apa yang telah di tetapkan oleh allah kepada kita (untuk menenamkan sifat dan sikap jujur).

Kejujuran Kepada Waktu

Jujur kepada waktu adalah menjadi satu tolak ukur  dimana keberhasilan kita, baik di hadapan illah maupun di hadapan manusia, kerna bagaimanapun kejujuran adalah satu sifat terpuji yang senantiasa di rindukan oleh setiap insane, sekalipun oleh seorang penjahat.

“Sulit” adalah kata yang sering kita gunakan dalam menepis tuduhan ketidak jujuran, baik jujur kepada manusia ataupun kepada waktu, terlebih kepada allah SWT,

Namun ingatkan kita akan kata mutiara beriktut?

“tiada kata mustahil untuk meraih apa yang menjadi niat hati, selama tekad tetanam dalam dada”                                                                                                                     (el-kamil/buku al-mukhtar/17/12/2006)

Ingatlah kejujuran adalah menjadi ujung tombak akan indikasi hadist rasulullah SAW di atas, ketika kita tak jujur dalam diri terhadap allah, manusia, ataupun waktu maka setiap kejujuran tersebut tercatat dalam lembaran yang di catat oleh hamba allah yang tidak pernah luput akan berkedip dalam memperhatikan kita (malaikt al-mukarrom rokib/atid).

Setiap kejujuran yang kita tanamkan maka akan menghasilkan hal yang indah dalam diri, namun sebaliknya ketika diri menanamkan ketidak jujuran maka kesia-sia an yang akan kita dapatkan.

Ingat..

Walaupun secara kasat mata kita tak melihat bahwa allah tidak melihat kita, tapi sungguh allah melihat kita.

Walupun manusia tak sepenuhnya tidak tahu akan kebenaran yang di hadapan kita, tapi suatu saat semua bias terungkap, kerna manusia tiodak sendiri.

Kebenaran akan menjulang..

Kejujuran akan jaya…

Kecurangan akan binasa…

Barookallah, semoga kita termasuk insan yang senantiasa menanamkan kejujuran walaupun kepahitan di hadapan menghujam lisan dan leher kita…

Amiin… Amiin…Amiin… Yaa Robba Al- Alamin…

el-kamil ibnu ishaq

Kategori:'AMALIYAH

DI ANTRA AMALAN KELIRU ROMADLON

* Padusan, Mandi Besar, atau Keramasan Menyambut Ramadhan

Tidaklah tepat amalan sebagian orang yang menyambut bulan Ramadhan dengan mandi besar atau keramasan terlebih dahulu. Amalan seperti ini juga tidak ada tuntunannya sama sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lebih parahnya lagi mandi semacam ini (yang dikenal dengan “padusan”) ada juga yang melakukannya campur baur laki-laki dan perempuan dalam satu tempat pemandian. Ini sungguh merupakan kesalahan yang besar karena tidak mengindahkan aturan Islam. Bagaimana mungkin Ramadhandisambut dengan perbuatan yang bisa mendatangkan murka Allah

* Mengkhususkan Ziarah Kubur Menjelang Ramadhan

Tidaklah tepat keyakinan bahwa menjelang bulan Ramadhan adalah waktu utama untuk menziarahi kubur orang tua atau kerabat (yang dikenal dengan “nyadran”). Kita boleh setiap saat melakukan ziarah kubur agar hati kita semakin lembut karena mengingat kematian. Namun masalahnya adalah jika seseorang mengkhususkan ziarah kubur pada waktu tertentu dan meyakini bahwa menjelang Ramadhan adalah waktu utama untuk nyadran atau nyekar. Ini sungguh suatu kekeliruan karena tidak ada dasar dari ajaran Islam yang menuntunkan hal ini.

* Mendahului Ramadhan dengan Berpuasa Satu atau Dua Hari Sebelumnya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدٌ الشَّهْرَ بِيَوْمٍ وَلاَ يَوْمَيْنِ إِلاَّ أَحَدٌ كَانَ يَصُومُ صِيَامًا قَبْلَهُ فَلْيَصُمْهُ

“Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya, kecuali bagi seseorang yang terbiasa mengerjakan puasa pada hari tersebut maka puasalah.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih wa Dho’if Sunan Nasa’i)

Pada hari tersebut juga dilarang untuk berpuasa karena hari tersebut adalah hari yang meragukan. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ الْيَوْمَ الَّذِي يُشَكُّ فِيهِ فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Barangsiapa berpuasa pada hari yang diragukan maka dia telah mendurhakai Abul Qasim (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen).” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dho’if Sunan Tirmidzi)

* Pensyariatan Waktu Imsyak (Berhenti makan 10 atau 15 menit sebelum waktu shubuh)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُوا وَاشْرَبُوا وَلاَ يَهِيدَنَّكُمُ السَّاطِعُ الْمُصْعِدُ فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَعْتَرِضَ لَكُمُ الأَحْمَرُ

“Makan dan minumlah. Janganlah kalian menjadi takut oleh pancaran sinar (putih) yang menjulang. Makan dan minumlah sehingga tampak bagi kalian warna merah yang melintang.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Khuzaimah. Dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abu Daud, Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan shahih). Maka hadist ini menjadi dalil bahwa waktu hadist (menahan diri dari makan dan minum) adalah sejak terbit fajar shodiq –yaitu ketika adzan shubuh dikumandangkan- dan bukanlah 10 menit sebelum adzan shubuh. Inilah yang sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Dalam hadist Anas dari Zaid bin Tsabit bahwasanya beliau pernah makan sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri untuk menunaikan shalat. Kemudian Anas berkata, “Berapa lama jarak antara adzan Shubuh dan sahur kalian?” Kemudian Zaid berkata, “Sekitar 50 ayat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Lihatlah berapa lama jarak antara sahur dan adzan? Apakah satu jam?! Jawabnya: Tidak terlalu lama, bahkan sangat dekat dengan waktu adzan shubuh yaitu sekitar membaca 50 ayat Al Qur’an (sekitar 10 atau 15 menit)

REALITA MENGHADAPI UJIAN ALLAH SWT

Disadari ataupun tidak, manusia tidak akan pernah terlepas dari dua mekanisme uji coba dari tuhan (Allah SWT), kernanya tidak sedikit insan merasa berat ketika di hadapkan oleh allah SWT dengan ujian yang tak sesuai dengan harafan, baik dalam bentuk kesulitan, kesusahan, hingga akhirnya terlupa akan hakikat ujian tersebut. allah berfirman dalam al-qur’an surat al ma’arij ayat 19
إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا
Srtinya:
“Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir”.
(al-ma’arij : 19)

dan begitu pula begitu banyak insan yang terlena akan ujian allah SWT yang di berikan dalam bentuk kesenangan, kecukupan, kesuksesa, hingga akhirnya terlena akan makna dari anugrah tersebut. allah berfirman dalam surat al maarij ayat 20
وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا
Artinya :
“dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir
(al-ma’arij : 20)

padahal pada dasarnya kedua mekanisme tersebut adalah hakikat ujian yang allah berikan dalam bentuk yang berbeda.
Sabar menghadapi ujian

Ujian/musibah yg ditimpakan kepada manusia ada dua macam :

Pertama Musibah dunia, salah satunya ialah ketakutan, kelaparan, kematian dan bencana alam yg sekarang banyak terjadi di Negara kita ini, seperti tsunami, gempa dsb agar kita bersabar.

Sebagaimana Allah Swt berfirman : “Dan sesungguhnya akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”. (QS. 2 : 155)

Kedua Musibah akhirat, adalah orang yg tidak punya amal shalih dalam hidupnya, sehingga jauh dari pahala dan ridha Allah Swt.

Rasulullah Saw bersabda, “Orang yg terkena musibah bukanlah seperti yg kalian ketahui, tetapi orang yg terkena musibah yaitu yg tidak memperoleh kebajikan (pahala) dalam hidupnya”.

Orang yg terkena musibah berupa kesusahan dan kesulitan di dunia, jika dihadapi dengan kesabaran, ikhtiar dan tawakal kepada Allah, hakikatnya tidak terkena musibah, justru yg didapatkan adalah ladang pahala. Sebaliknya musibah (ujian) kesenangan selama hidupnya jika tidak pandai mensyukurinya, malah digunakan kesenangan tsb dijalan maksiat dan dosa, maka itulah musibah yg sesungguhnya, bukannya pahala/ridha Allah yg didapatkan melainkan menjadi ladang (saham) dosa.

Sebagaimana hadits Rosululloh Saw, “ Sesungguhnya menakjubkan perkara orang yg beriman, seluruh perkaranya menjadi baik ketika ditimpa musibah ia bersabar, itu membawa kebaikan baginya dan ketika mendapatkan nikmat kesenangan dia bersyukur dan itu membawa kebaikan baginya”. (HR. Muslim)

Jika seorang hamba telah mengetahui bahwa orang-orang yg bersabar dalam menghadapi ujian dari Allah Swt, kesabaran itu telah ditunggu oleh balasan yg paling baik disisi Allah Swt. Sebagaimana firman-Nya : “Apa yg ada disisimu akan lenyap dan apa yg ada disisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yg sabar dengan pahala yg lebih baik dari apa yg telah mereka kerjakan”. (QS. 16 : 96)

Musibah/ujian adalah suatu kepastian yg melanda semua manusia, baik secara perorangan, kelompok atau melanda sebuah Negara. Musibah pada hakikatnya adalah ujian dari Allah Swt, dan ketika ujian itu dapat dilaluinya dengan baik maka akan menaikan derajat dan kebaikan bagi yg diujinya itu, sebagaimana anak-anak pelajar yg akan naik kelas, mereka perlu diuji dahulu. Sebagaimana sabda Rasululloh Saw, “Siapa yg akan diberikan limpahan kebaikan dari Allah, maka diberi ujian terlebih dahulu”. (HR. Bukhari – Muslim)

Semoga setiap menghadapi ujian kesulitan kita bersabar dan berusaha mencari solusi dengan bertawakal kepada Allah Swt, sebagai bukti keimanan kepada-Nya. Dan jika mendapatkan ujian kesenangan, kebaikan kita bersyukur kepada-Nya.

Setiap muslim selayaknya meneladani sikap Nabi Sulaiman As ketika diberi anugerah kekayaan dan kekuasaan yg luar biasa oleh Allah Swt. Sebagaimana diungkapkan dalam Alqur’an :

“ini termasuk karunia dari Tuhanku untuk menguji aku apakah aku bersyukur atau kufur atas nikmat-Nya. Dan barangsiapa yg bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri dan barangsiapa yg ingkar maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. (QS. 27 : 40)

KEUTAMAAN BULAN ROMADLON

1. KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN

1. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu :

Adalah Rasulullah SAW memberi khabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda, “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa didalamnya, pada bulan ini pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat, juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i)

2. Dari Ubadah bin AshShamit, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan, Allah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan do’a. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan membanggakanmu kepada para malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang yang sengsara ialah yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini.” (HR. Ath Thabrani, dan para periwayatnya terpercaya)., Al-Mundziri berkata: “Diriwayatkan olehAn-Nasa’i dan Al-Baihaqi, keduanya ari Abu Qilabah, dari Abu Hurairah, tetapi setahuku dia tidak pernah mendengar darinya.”

3. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Umatku pada bulan Ramadhan diberi lima keutamaan yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya, yaitu : bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari pada aroma kesturi, para malaikat memohonkan ampunan bagi mereka sampai mereka berbuka, Allah Azza Wa Jalla setiap hari menghiasi Surga-Nya lalu berfirman (kepada Surga), Hampir tiba saatnya para hamba-Ku yang shalih dibebaskan dari beban dan derita serta mereka menuju kepadamu, pada bulan ini para jin yang jahat diikat sehingga mereka tidak bebas bergerak seperti pada bulan lainnya, dan diberikan kepada ummatku ampunan pada akhir malam. “Beliau ditanya, ‘Wahai Rasulullah apakah malam itu Lailatul Qadar’ Jawab beliau, ‘Tidak. Namun orang yang beramal tentu diberi balasannya jika menyelesaikan amalnya.” (HR. Ahmad)” Isnad hadits tersebut dha’if, dan diantara bagiannya ada nash-nash lain yang memperkuatnya.

el-kamil ibnu ishaq

HADIS DATANGNYA BULAN ROMADLON

مَنْ فَرِحَ بِدُخُوْلِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلَي النِّيْرَانِ

Artinya:

“Siapa saja yang bahagia atas datang/masuknya bulan romadlon, maka allah akan menyelamatkan jasadnya atas siksa neraka”

hadis di atas masih banyak kontropersi atas ketidak sahihannya, namun kembali kepada islam, bahwa islam itu adalah rahmat utk semua insan, jadi usahlan menjadi unsur perpecahan, namun jadikanlah sebagai pelengkap atas kekurangan, wlaupunhanya sekedar untuk pengetahuan.

dan selayaknyalah kta merasa bahagia akan datangnya bulan yang allah turunkan al-qur’an di dalamnya, kerna dalam blan tersebut banyaklan keutamaan, di antaranya : di bukanya pintu-pintu syurga dan di tutupnya pintu-pintu neraka, sesuai dgn hadis rasulullah SAW :

إذا جاء رمضان فُتِّحت أبواب الجنة وغُلِّقت أبواب النار وصُفِّدت الشياطين

Artinya: “jika datang bulan romadlon, maka di bukalah pintu-pintu syurga dan di tutup pintu-pintu neraka”

di bukanya pintu-pintu syurga dalam arti, kerna banyaknya kesempatan untuk beramal sholih, seerti berpuasa, saling berbagi rasa, shodaqoh, mengeluarkan yang menjadi hak para mustahik (zakat), membaca al-qur’an, shollat malam (qiyam al-lail), dan di tutupnya pintu-pintu neraka dalam arti, akan semakin sempitnya bagi orang-orang yang beriman dalam melakukan kemaksiatan.
jadi selayaknya ummat muslim tidak terpengaruh akan kontropersi atas shohih/tidaknya hadist mengenai datangnya bulan romadlon di sambut dengan hati gembira. namun seharusnya kita saling membantu dan melengkapi akan indahnya datang bulan suci romadlon dan  memuliakan serta mengisinya dengan semaksimal mungkin.
akhirnya semoga kita senantiasa di istiqomahkan dalam jalannya, yang selalu mencari ridlo dan hidayahnya dalam menjalani hidup yang sesaat ini.
barokallah…
Kategori:NASIHAT UTK KITA

MANDI KHUSUS ADAT SEBELUM BULAN ROMADLON MENIRU AGAMA BUDHA

Weda memberikan tuntunan kepada kita untuk selalu menjaga sumber airkarena air merupakan kekayaan dan anugerah tuhan yang tak ternilai harganya.  fungsi air hampir semua mengetahuinya, namun tidak banyak yang mengetahu bahwa air berfungsi untuk penyembuhan dan penebusan dosa, seperti disabdakan didalam Rgveda “Agnim ca visvasambhuvam. Apas ca visvabhesajih” artinya : Api dapat menyembuhkan segala macam penyakit. Air dapat menyembuhkan segala macam penyakit (Rgveda I.23.20) penyakit yang dimaksud termasuk didalamnya peleburan dosa..

Air adalah suatu zat kimia yang penting bagi semua bentuk kehidupan yang diketahui sampai saat ini di bumi , air menutupi hampir 71% permukaan bumi. Terdapat 1,4 triliun kilometer kubik (330 juta mil³) tersedia di bumi. Dalam pandangan Hindu tubuh manusia terdiri dari lima unsur (Panca Butha) , unsur air merupakan unsur yang paling dominan yang juga terdiri dari 71 % . menurut penelitian, manusia bisa bertahan hidup tanpa makan tetapi manusia tidak akan bisa bertahan hidup lebih lama tanpa air. Tubuh manusia dengan alam semesta sesungguhnya sama , didalam ajaran Hindu alam semesta disebut Bhuana Agung dan tubuh manusia disebut bhuana alit. Air tidak hanya untuk diminum, sebagai pembersihan tetapi juga untuk penyucian , penyucian dari dosa – dosa. Dalam penyucian ini biasanya dilakukan mandi beramai-ramai di sungai, laut , danau dan sumber air yang sejenis. Tradisi beramai-ramai mandi di sungai, danau , laut dsb , ternyata tidak hanya dikenal oleh masyarakat Hindu tetapi juga dilaksanakan oleh non-Hindu dengan berbagai istilah.

Orang Jawa mengenal istilah padusan, orang Melayu mengenal istilah balimau. Tradisi ini adalah tradisi mandi beramai-ramai di sungai atau mata air menjelang orang melakukan puasa Ramadhan (Sastra Gending, 2012). Di jepang juga terdapat tradisi yang serupa yaitu tradisi mandi air es untuk penyucian diri. “di Makassar ada juga namanya mandi Safar yang dilakukan di bulan Safar, tetapi mandinya di kamar mandi masing-masing, seperti di sumur, di sungai atau di mana saja sesuai kebiasaan sehari-hari” (Nurhayati Rahman, 2012).

Masyarakat Bali mengenal istilah melukat dan Banyupinaruh , melukat biasanya dilakukan dengan memohon tirtha (air suci) di tempat –tempat suci untuk melebur dosa, hal ini dilakukan secara pribadi atau sendiri-sendiri, melukat juga bisa dilakukan di sumber-sumber air yang bertujuan untuk menyucikan diri. Sedangkan banyupinaruh dilakukan dengan mandi di laut , sungai, danau dll secara beramai-ramai pada hari setelah hari suci Saraswati. kata “Banyupinaruh” berasal dari kata “banyu” yang berarti air dan “pinaruh” atau “pengawruh” yang berarti ilmu pengetahuan yang sangat vital bagi kehidupan. Menurut pakar Hindu Prof. I Made Titib (2012: anataranews.com) banyupinaruh merupakan simbol persiapan untuk menerima ilmu pengetahuan.

 

Penyucian Diri di Sungai Gangga (sumber : riautoday.com)

 

Ritual penyucian diri di sungai, laut, sumber air , danau dan yang lainnya merupakan pengamalan ajaran veda. Di india orang Hindu mandi di sungai gangga.mandi di Sungai Gangga adalah suatu ritual yang sangat penting. Gangga adalah nama seorang Dewi dalam agama Hindu yang dipuja sebagai dewi kesuburan dan pembersih segala dosa dengan air suci yang dicurahkannya. Ia juga merupakan Dewi sungai suci Sungai Gangga di India. Dewi Gangga sering dilukiskan sebagai wanita cantik yang mencurahkan air di dalam guci. Umat Hindu percaya bahwa jika mandi di sungai Gangga pada saat yang tepat akan memperoleh pengampunan dosa dan memudahkan seseorang untuk mendapat keselamatan. Banyak orang percaya bahwa hasil tersebut didapatkan dengan mandi di sungai Gangga sewaktu-waktu. Sumber hukum hindu kitab Parasara Dharmasastra mengajarkan bahwa dengan mandi di 11 titik sumber air, dosa seseorang dapat dihapuskan (dikurangi).

Menurut Prof. Sastra Gending (2012) tradisi mandi beramai-ramai yang dilakukan oleh masyarakat muslim menjelang ramadhan adalah meniru tradisi Hindu, jadi merupakan suatu bentuk sinkretisme (pencampuran dua agama). Dalam agama Hindu ada kepercayaan bahwa untuk meleburkan dosa, menghormati Dewi Gangga, dan menghomati Batara Surya, maka ada saat-saat tertentu untuk mandi di Sungai Gangga atau tempat lain yang dianggap setara dengan Sungai Gangga. Dalam literatur Islam ternyata tidak ada ajaran demikian. Tata cara mandi dalam ajaran Islam sudah jelas, yaitu di tempat tertutup, tidak boleh telanjang, tidak boleh sambil nyanyi-nyanyi, apalagi membaca kitab suci. Mandi yang baik dimulai dengan berwudhu, lalu menyiram seluruh badan secara merata. Orang tidak diwajibkan mandi ketika akan puasa Ramadhan.

 

Lama-lama akan diketahui, sebenarnya masyarakat Indonesia khususnya Jawa beragama  apa?

Kategori:BERITA

NASIHAT MENJELANG ROMADLON

Nasehat Menjelang Ramadhan
(Oleh: Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Abdirrahman Baz rahimahullâh

بِسْمِ ٱللهِ وَالْحَمْدُلِلَّهِ وَصَلَّى ٱللهُ عَلَى رَسُوْلِ ٱللهِ
وَعَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ ، أَمَّا بَعْدُ

Berkenaan dengan kehadiran bulan Ramadhân, saya menasehatkan kepada saudara-saudaraku kaum Muslimin dimanapun berada agar senantiasa bertakwa kepada Allâh Ta’âla, berlomba-lomba melakukan kebaikan, saling memberi nasehat dan sabar dalam menasehati, saling menolong dalam melakukan kebaikan, menjauhi semua perbuatan maksiat yang diharamkan oleh Allâh Ta’âla dimanapun dan kapanpun jua, terutama pada bulan Ramadhân. Karena bulan Ramadhân adalah bulan yang teramat mulia. Amalan-amalan shaleh di bulan ini dilipat-gandakan balasannya dan orang yang berpuasa dan melakukan qiyâmul lail (tarawih) dengan didasari iman dan mengharapkan pahala, dosa-dosanya akan dihapus oleh Allâh Ta’âla.

Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa berpuasa pada Ramadhân karena iman dan mengharap pahala,
maka dia diampuni dosanya yang telah lewat.[2]

Juga sabda Beliau Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam :
إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَا نَ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ
وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ
Apabila bulan Ramadhân telah tiba, pintu-pintu surga dibuka,
pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dirantai.[3]

Juga sabda Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam, yang artinya,

“Puasa itu adalah perisai.
Saat salah seorang diantara kalian sedang berpuasa,
janganlah ia berbuat keji dan jangan menyalakan api permusuhan.
Jika dia dihina atau diperangi oleh orang lain,
hendaknya dia mengatakan, ‘Aku sedang berpuasa.'”[4]

Dan sabda Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam, yang artinya,

“Allâh Ta’âla berfirman: ‘Semua amalan manusia untuknya.
Satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kalinya, kecuali puasa.
Puasa itu untuk-Ku dan saya akan membalasnya.
Dia meninggalkan tuntutan syahwatnya, tidak makan dan dia tidak minum demi Aku.
Orang yang berpuasa mendapatkan dua kebahagiaan,
kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-nya.
Sungguh disisi Allâh, aroma mulut orang yang sedang berpuasa itu
lebih wangi daripada aroma kasturi.”[5]

Saya juga mewasiatkan kepada saudara-saudaraku kaum Muslimin agar tetap istiqâmah pada siang ataupun malam Ramadhân, berlomba-lomba melakukan kebaikan. Diantara perbuatan baik itu adalah membanyak membaca al-Qur’ân sambil mentadabburi dan memahaminya, memperbanyak tasbîh, tahmîd, tahlîl, takbîr, istighfâr, berdoa kepada Allâh Ta’âla agar dimasukan ke surga dan diselamatkan dari siksa neraka dan berbagai do’a kebaikan lainnya.

Tak lupa, saya juga mewasiatkan kepada saudara-saudaraku kaum Muslimin agar memperbanyak shadaqah, membantu orang-orang fakir, miskin, menunaikan zakat dan menyerahkannya kepada yang berhak menerimanya, memperhatikan dakwah, mengajari orang yang tidak tahu, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran dengan cara yang lembut, penuh hikmah dan dengan metode-metode yang bagus bukan yang buruk, istiqâmah diatas al-haq dan senantiasa bertaubat kepada Allâh Ta’âla.

Allâh Ta’âla berfirman, yang artinya,

“Bertaubatlah kamu sekalian kepada Allâh,
Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”
(Qs an-Nûr/24:31)

Juga firman Allâh Ta’âla, yang artinya,

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Rabb Kami adalah Allâh”,
kemudian mereka tetap istiqamah,
maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.
Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya;
sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.”
(Qs al-Ahqâf/46:13-14)

Semoga Allâh Ta’âla senantiasa memberikan taufik kepada kita semua untuk melakukan segala yang diridhai-Nya dan semoga Allâh Ta’âla melindungi kita semua dari segala fitnah yang menyesatkan serta jebakan setan.

Sesungguhnya Allâh Maha Pemurah lagi Maha Mulia

[1] Diterjemahkan dari Majmu’ Fatâwâ wa Maqâlât Mutanawwi’ah, 15/48-50
[2] HR Bukhâri, no. 2014 dan Muslim, no. 760
[3] HR Bukhâri, no. 1899 dan Muslim, no. 1079
[4] HR Bukhâri, no. 1904
[5] HR Bukhâri dan Muslim
Kategori:NASIHAT UTK KITA
%d blogger menyukai ini: