Beranda > 'AMALIYAH, NASIHAT UTK KITA > REALITA MENGHADAPI UJIAN ALLAH SWT

REALITA MENGHADAPI UJIAN ALLAH SWT

Disadari ataupun tidak, manusia tidak akan pernah terlepas dari dua mekanisme uji coba dari tuhan (Allah SWT), kernanya tidak sedikit insan merasa berat ketika di hadapkan oleh allah SWT dengan ujian yang tak sesuai dengan harafan, baik dalam bentuk kesulitan, kesusahan, hingga akhirnya terlupa akan hakikat ujian tersebut. allah berfirman dalam al-qur’an surat al ma’arij ayat 19
إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا
Srtinya:
“Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir”.
(al-ma’arij : 19)

dan begitu pula begitu banyak insan yang terlena akan ujian allah SWT yang di berikan dalam bentuk kesenangan, kecukupan, kesuksesa, hingga akhirnya terlena akan makna dari anugrah tersebut. allah berfirman dalam surat al maarij ayat 20
وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا
Artinya :
“dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir
(al-ma’arij : 20)

padahal pada dasarnya kedua mekanisme tersebut adalah hakikat ujian yang allah berikan dalam bentuk yang berbeda.
Sabar menghadapi ujian

Ujian/musibah yg ditimpakan kepada manusia ada dua macam :

Pertama Musibah dunia, salah satunya ialah ketakutan, kelaparan, kematian dan bencana alam yg sekarang banyak terjadi di Negara kita ini, seperti tsunami, gempa dsb agar kita bersabar.

Sebagaimana Allah Swt berfirman : “Dan sesungguhnya akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”. (QS. 2 : 155)

Kedua Musibah akhirat, adalah orang yg tidak punya amal shalih dalam hidupnya, sehingga jauh dari pahala dan ridha Allah Swt.

Rasulullah Saw bersabda, “Orang yg terkena musibah bukanlah seperti yg kalian ketahui, tetapi orang yg terkena musibah yaitu yg tidak memperoleh kebajikan (pahala) dalam hidupnya”.

Orang yg terkena musibah berupa kesusahan dan kesulitan di dunia, jika dihadapi dengan kesabaran, ikhtiar dan tawakal kepada Allah, hakikatnya tidak terkena musibah, justru yg didapatkan adalah ladang pahala. Sebaliknya musibah (ujian) kesenangan selama hidupnya jika tidak pandai mensyukurinya, malah digunakan kesenangan tsb dijalan maksiat dan dosa, maka itulah musibah yg sesungguhnya, bukannya pahala/ridha Allah yg didapatkan melainkan menjadi ladang (saham) dosa.

Sebagaimana hadits Rosululloh Saw, “ Sesungguhnya menakjubkan perkara orang yg beriman, seluruh perkaranya menjadi baik ketika ditimpa musibah ia bersabar, itu membawa kebaikan baginya dan ketika mendapatkan nikmat kesenangan dia bersyukur dan itu membawa kebaikan baginya”. (HR. Muslim)

Jika seorang hamba telah mengetahui bahwa orang-orang yg bersabar dalam menghadapi ujian dari Allah Swt, kesabaran itu telah ditunggu oleh balasan yg paling baik disisi Allah Swt. Sebagaimana firman-Nya : “Apa yg ada disisimu akan lenyap dan apa yg ada disisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yg sabar dengan pahala yg lebih baik dari apa yg telah mereka kerjakan”. (QS. 16 : 96)

Musibah/ujian adalah suatu kepastian yg melanda semua manusia, baik secara perorangan, kelompok atau melanda sebuah Negara. Musibah pada hakikatnya adalah ujian dari Allah Swt, dan ketika ujian itu dapat dilaluinya dengan baik maka akan menaikan derajat dan kebaikan bagi yg diujinya itu, sebagaimana anak-anak pelajar yg akan naik kelas, mereka perlu diuji dahulu. Sebagaimana sabda Rasululloh Saw, “Siapa yg akan diberikan limpahan kebaikan dari Allah, maka diberi ujian terlebih dahulu”. (HR. Bukhari – Muslim)

Semoga setiap menghadapi ujian kesulitan kita bersabar dan berusaha mencari solusi dengan bertawakal kepada Allah Swt, sebagai bukti keimanan kepada-Nya. Dan jika mendapatkan ujian kesenangan, kebaikan kita bersyukur kepada-Nya.

Setiap muslim selayaknya meneladani sikap Nabi Sulaiman As ketika diberi anugerah kekayaan dan kekuasaan yg luar biasa oleh Allah Swt. Sebagaimana diungkapkan dalam Alqur’an :

“ini termasuk karunia dari Tuhanku untuk menguji aku apakah aku bersyukur atau kufur atas nikmat-Nya. Dan barangsiapa yg bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri dan barangsiapa yg ingkar maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. (QS. 27 : 40)

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Silahkan tinggalkan komentar sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: