Beranda > 'AMALIYAH > JUJUR, SULITKAH?

JUJUR, SULITKAH?

Bismillah…

Ada satu hadist yang menarik untuk kita kaji, dimana bagi insan yang beriman akan terlahir benih tangis dalam hati, berbeda dengan orang yang tidak memiliki iman dalam hatinya, bahkan ia akan menyepelekan hadist ini

“kullu lahmi nabata mina al-haroom, fannaaru aula bih”

Artinya :

“setiap daging yg tercipta dari hal yang haram, maka neraka lah tempatnya”                                                                                                                                                (H.R. tirmidzi)

Alangkah indahnya ketika diri kita tumbuh berkembang sesuai dengan apa yang di haraf, baik secara internal maupun external, namun seiring dengan hal itu tak terlepas jua seringkali kita luput, khilap dahkan lalai akan apa yang seharusnya kita tanamkan dalam diri dalam mengembangkan kehidupan, termasuk perkembangan diri.

Setelah begitu naifnya diri kita akan rahmat illah, di tambah ingkar atas apa yang di perintahkan oleh agama melalui lisan rasulullah SAW, Satu contoh, jelas sudah bahwa kita harus menanamkan kejujuran dalam hidup ini, namun dengan bangga seringkali kita ingkar atas perintah rosulullah SAW, baik dari segi lisan dalam berucap, dari hati berprasangka, dari waqtu bersenggama.

Di sedari ataupun tidak, kejujuran/kebohongan kita akan terungkap dengan jelas, baik di hadapan illah secara langsung, maupun tidak (di dunia).

Namun yang mesti kita garis bawahi kesemuanya itu adalah bentuk rahman dan rahimnya allah SWT, walau pahit terasa, gundah akan ketidak sesuaia dengan harapan.

Tentu sebagai insan, kita mengharafkan kebaikan atas apa yang kita perjuangkan dalam hidup, namun ingatkah kita akan pribahasa “apa yang akan kita tanam, itulah yang akan kita tuai” ?

Walau sekuat apapun keinginan hati berseru namun dalam pengimplementasian tidak di aplikasikan, maka kebohongan besar akan di raih suatu cita.

Kernanya, alangkan indahnya kita menanamkan keujuran dalam hidup, baik secara hati, lisan maupun amaliyyah kita, kejujuran tidak hanya berbentuk ucapan dalam lisan yang di sesuaikan dengan apa yang di tulis, namun adakalanya kejujuran berbentuk dalam tuntutan utk menjalankan kebenaran.

Kejujuran banyak ragam , di antaranya :

Kejujuran kepada Allah SWT

Kejujuran kepada manusia

Kejujuran kepada waktu

Kejujuran Kepada Allah SWT

Jujur kepada allah adalah tidak pernah ingkar atas apa yang sudah di tetapkan oleh Allah SWT, seperti allah telah menetapkan bahwa shalat wajib untuk muslim adalah 5 waktu sahaja, maka kita sebagai muslim melaksanakanya sesuai dengan apa yang telah di syariatkan, tdiak melebihkan atau menguranginya.

Kejujuran Kepada Manusia

Inilah yang seringkali kita saksikan akan ingkarnya kata “kejujuran”, begitu banyak insan/manusia yang seringkali ingkar atas apa yang telah di tetapkan oleh allah kepada kita (untuk menenamkan sifat dan sikap jujur).

Kejujuran Kepada Waktu

Jujur kepada waktu adalah menjadi satu tolak ukur  dimana keberhasilan kita, baik di hadapan illah maupun di hadapan manusia, kerna bagaimanapun kejujuran adalah satu sifat terpuji yang senantiasa di rindukan oleh setiap insane, sekalipun oleh seorang penjahat.

“Sulit” adalah kata yang sering kita gunakan dalam menepis tuduhan ketidak jujuran, baik jujur kepada manusia ataupun kepada waktu, terlebih kepada allah SWT,

Namun ingatkan kita akan kata mutiara beriktut?

“tiada kata mustahil untuk meraih apa yang menjadi niat hati, selama tekad tetanam dalam dada”                                                                                                                     (el-kamil/buku al-mukhtar/17/12/2006)

Ingatlah kejujuran adalah menjadi ujung tombak akan indikasi hadist rasulullah SAW di atas, ketika kita tak jujur dalam diri terhadap allah, manusia, ataupun waktu maka setiap kejujuran tersebut tercatat dalam lembaran yang di catat oleh hamba allah yang tidak pernah luput akan berkedip dalam memperhatikan kita (malaikt al-mukarrom rokib/atid).

Setiap kejujuran yang kita tanamkan maka akan menghasilkan hal yang indah dalam diri, namun sebaliknya ketika diri menanamkan ketidak jujuran maka kesia-sia an yang akan kita dapatkan.

Ingat..

Walaupun secara kasat mata kita tak melihat bahwa allah tidak melihat kita, tapi sungguh allah melihat kita.

Walupun manusia tak sepenuhnya tidak tahu akan kebenaran yang di hadapan kita, tapi suatu saat semua bias terungkap, kerna manusia tiodak sendiri.

Kebenaran akan menjulang..

Kejujuran akan jaya…

Kecurangan akan binasa…

Barookallah, semoga kita termasuk insan yang senantiasa menanamkan kejujuran walaupun kepahitan di hadapan menghujam lisan dan leher kita…

Amiin… Amiin…Amiin… Yaa Robba Al- Alamin…

el-kamil ibnu ishaq

Kategori:'AMALIYAH
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Silahkan tinggalkan komentar sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: