Arsip

Archive for Agustus, 2012

MAKNA ‘IDUL FITRI

17 Agu 2012 1 komentar

IDUL Fitri secara harfiah adalah berbuka atau berhenti puasa. Tetapi hari bersejarah setiap tanggal 1 Syawal termasuk tahun 1433 H/2012 tahun ini tentunya maksudnya lebih dalam. Bukan hanya merayakanya dengan makan-minum bersama sanak keluarga baik di kampung maupun di perantauan, melainkan etiap umat Islam jelas juga akan berhitung apa yang telah dilakukan selama ini sudah baik atau justru sebaliknya, dan puasa sebulan penuh selama Ramadhan ini diharapkan melahirkan perubahan.

Puasa tidak hanya melaksanakan kewajiban yang diperintahkan Allah Yang Maha Kuasa. Puasa juga untuk melatih diri, termasuk kejujuran. Benar tidaknya seseorang itu berpuasa terpulang pada diri yang bersangkutan. Bisa saja seseorang mengaku berpuasa, tetapi secara diam-diam makan di sebuah warung bertutup layar/terpal. Jadi, puasa melatih kejujuran.

Puasa adalah urusan masing-masing manusia dengan Allah Yang Maha Mengetahui. Karena itu, siapa pun umat Islam, terutama yang telah dewasa, dapat menjadikan kewajiban berpuasa sebulan penuh untuk mengoreksi diri, kemudian tidak mengulangi kesalahan dan terus memupuk perbuatan yang berguna bagi diri, keluarga, dan masyarakat.

Terlebih bagi para pengambil kebijakan-eksekutif, legislatif, dan yudikatif-jika saja Idul Fitri mampu menjadikan mereka “kembali” kepada fitrah yang suci, layaknya ketika baru dilahirkan, dijamin negeri ini akan berubah 180 derajat. Apa yang diprogramkan tentunya akan mudah menjadi kenyataan, termasuk memakmurkan bangsa.

Idul Fitri, yang insya Allah akan kita lalui (di Indonesia) Minggu (19/8) besok, semoga saja mampu melahirkan dan menciptakan pembaruan. Mudah-mudahan Idul Fiti mengembalikan atau mengantar kita pada naluri kemanusiaan murni, kembali kepada kejujuran, jauh dari keserakahan, dan tidak hanya mementingkan diri sendiri.

Mudah-mudahan pula Ramadhan yang segera berakhir ini tidak hanya sekadar menahan haus dan lapar, tetapi juga menyadarkan untuk berbuat lebih terbaik. Apalagi Idul Fitri tahun ini sangat berdekatan dengan hari ulang tahun ke-67 Kemerdekaan Republik Indonesia, Jumat (17/8) kemarin. Semoga saja itu tidak hanya suatu kebetulan, tetapi benar-benar merupakan momen penting untuk mengantar negara dan bangsa ke arah lebih baik.

Kita berharap, Idul Fitri mendorong kita dan terlebih pemimpin bangsa melakukan perubahan, melakukan yang terbaik. Mudah-mudahan pula pemimpin tertinggi di Republik ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, mampu memimpin bangsa dan negara dengan menjalankan amanah. Bukan saja tetap menjaga keutuhan bangsa dan negara, melainkan juga tegas menumpas kebatilan dan segala kemungkaran, termasuk perbuatan korupsi. Jangan biarkan Indonesia disandera para koruptor.

Iklan
Kategori:'AMALIYAH

MEMILIH PEMIMPIN

Kepemimpinan adalah pangkal utama dan pertama penyebab dari timbulnya suatu kegiatan, proses atau kesediaan suatu kelompok orang atau masyarakat untuk melakukan perubahan baik sikap atau prilaku maupun pandangan hidup mereka.

Kepemimpinan dalam Islam, berarti, bagaimana ajaran Islam dapat memberi sibghah (corak) dan wijhah (arah) kepada pemimpin itu, dan dengan kepemimpinannya mampu merubah pandangan atau sikap mental komunitas yang dipimpinnya kepada aturan yang telah ditetapkan al Qur’an dan al Sunnah, serta terapan-terapan yang diberlakukan semasa khulafa’ur rasyidin, dan sesudahnya.

Kepemimpinan merupakan kenyataan yang penting dalam keberlangsungan dan kesinambungan hidup, lebih-lebih pada kehidupan manusia. Dapat dipastikan bahwa tidak ada satupun komunitas tanpa pemimpin, meski bentuk dan mekanisme pengangkatan dan penggantiannya sangat beragam.

Dalam terminologi al Qur’an dan al Sunnah kepemimpinan sering diungkapkan dengan istilah-istilah : imam, malik, khalifah, amir. Dan gelarnya pun beragam serta berkembang, terutama dalam terminologi politik, kepemimpinan diartikan juga sebagai rois, syeikh, dan sulthon. Namun fungsi jabatannya tetap, yaitu untuk melindungi masyarakat dengan menjaga agama dan mengatur kehidupan dunia/hirasatu al din wa siasat al dunia, menyuruh (rakyat) untuk berbuat kebaikan dan mencegah (rakyat) dalam berbuat kerusakan (al amru bil ma’ruf wa al nahyi ‘anil munkar).

Mengingat betapa pentingnya fungsi tersebut maka kepemimpinan harus dijaga eksistensi (keberadaan) dan suksesi (kesinambungannya), meskipun mekanismenya bisa beragam dan berkembang sesuai situasi dan kondisi saat itu. Di kalangan intelektual muslim ada wacana (pemikiran) mengenai proses dan mekanisme suksesi kepemimpinan, tetapi setiap wacana yang ada tetap mengacu kepada ketentuan syar’i. Sesuai telaah sejarah, ragam wacana suksesi tersebut ada tiga cara yang dilakukan; pertama, melalui pemilihan langsung. Kedua, pemilihan tidak langsung.

Ketiga, penunjukan langsung oleh pimpinan sebelumnya. Keragaman mekanisme suksesi ini telah terjadi semenjak masa khulafa’ al rasyidin dan sampai sekarang, dan di beberapa negara-negara Islam. Kenyataan ini menunjukkan bahwa mekanisme suksesi kepemimpinan bukan sesuatu yang baku. Dan ketidak bakuan mekanisme itu sendiri justru mencerminkan fleksibelitas tuntunan ajaran Islam. Karena kepemimpinan bukan tujuan. Kepemimpinan adalah sekedar alat dan jalan untuk melindungi masyarakat agar kehidupannya dapat mencapai maslahat (kebaikan) dan terhindar dari kemudharatan atau dalam istilah ushul fiqihnya ‘dar al mafasid muqaddam ‘ala jalib al mashalih’.

Islam menuntun umatnya agar memilih dan mengangkat pemimpin. Tidak hanya dalam suatu masyarakat bangsa yang luas dan menetap dalam satu wilayah. Dalam perjalanan di tengah padang pasir sekalipun, walau hanya bertiga-pengangkatan pemimpin diperlukan. Hal ini sesuai sabda Nabi SAW, “ Apabila kamu dalam perjalanan , walau dipadang pasir, maka hendaklah mereka memilih salah seorang sebagai pemimpin”. H.R. Abu Daud. Dalam hadis yang lain sebagaimana diriwayatkan al Hakim, Nabi SAW memperingatkan, ‘ Barangsiapa yang memilih seseorang, sedang ia mengetahui bahwa ada orang yang lebih wajar dari yang dipilihnya, maka ia telah mengkhianati Allah, Rasul dan amanat kaum muslimin ’. Rasulullah SAW juga mengisyaratkan siapa yang harus dipilih, ‘ Sebagaimana keadaan kalian, demikian pula ditetapkan pemimpin atau penguasa atas kalian ’.

Kalimat yang singkat dari Rasulullah di atas dapat mengandung beberapa makna, 1) seorang penguasa atau pemimpin adalah cerminan keadaan masyarakatnya. Pemimpin atau penguasa yang baik adalah yang dapat menangkap aspirasi masyarakatnya dan mewujudkannya. Sedang masyarakat yang baik adalah yang berusaha mengangkat pemimpin yang dapat menyalurkan aspirasi mereka. 2) tidak tergesa-gesa menyalahkan lebih awal pemimpin yang tidak perduli rakyat, pemimpin menyeleweng, durhaka atau membangkang. Sebab, pada dasarnya yang salah adalah masyarakat itu sendiri. Bukankah pemimpin atau penguasa adalah cerminan dari keadaan masyarakat nya secara umum?

Al Qur’an dan al Hadis mengingatkan umat Islam dalam memilih pemimpin atau penguasa pada beberapa aspek normatif berikut ; 1). Pemimpin haruslah orang yang beriman dan yang mengutamakan keberimanannya (religius), bukan pemimpin  yang lebih mencintai kekufuran (menjamurnya tempat-tempat maksiat, membiarkan korupsi merajalela, dsb) Q. S. Attaubah.A.23,  2). yang memiliki keluasan ilmu (faktor pendidikan) dan kuat perkasa /basthotan fi al ‘lmi wa al jism Q.S. Al Baqarah ayat 247, serta mampu memelihara harta negara dan berilmu pengetahuan./hafidzun ‘alim, S.Yusuf.A.55, 3). orang yang kuat dan dipercaya/al qowiyu al amin. Q.S.al Qashash ayat 26.

Kekuatan yang dimaksud, adalah kekuatan dalam berbagai bidang, tidak hanya kekuatan fisik, tapi juga mental. Selanjutnya kepercayaan yang dimaksud, adalah integritas pribadi yang menuntut adanya sifat amanah, sehingga tidak merasa bahwa apa yang ada dalam genggaman tangannya merupakan milik pribadi, yang bisa dibagi-bagi kepada kerabat dan famili, tetapi milik masyarakat yang harus dipelihara untuk kepentingan masyarakat, sekaligus rela mengembalikannya bila diminta kembali.

Dalam sebuah hadis dari Ma’qal bin Yasar al Muzni, Rasulullah SAW bersabda, ‘tidak ada seorang pemimpin yang mengurus urusan kaum muslimin lalu tidak sungguh-sungguh (mengurusnya) dan tidak jujur, melainkan Allah tidak akan memasukkannya ke dalam surga’. H.R. Muslim.

Memang tidak mudah menemukan orang yang dalam dirinya tergabung secara sempurna ke tiga sifat di atas. Umar bin Khattab ra semasa kepemimpinannya pernah mengeluh dan mengadu kepada Allah, ‘ Ya Allah, aku mengadu kepada Mu, kekuatan si fajir (orang yang suka berbuat dosa) dan kelemahan orang-orang yang kupercaya’. Karena itu, harus ada alternatif.

Tuntutan normatif terhadap setiap fenomena politik yang dijalani umat Islam sepanjang masa, merupakan kenyataan dan keharusan dalam ajaran agama. Kepemimpinan adalah kekuasaan, dan kekuasaan adalah alat untuk menegakkan syari’at (hukum). Akan tetapi perkembangan akan tuntutan itu sepanjang sejarahnya mengalami pasang surut. Dan kita terkadang dihadapkan pada satu situasi yang sulit dalam menjatuhkan pilihan. Di sini, sekali lagi Islam datang dengan tuntunannya. Yang utama, jika kita berhadapan antara kehendak pribadi dan kehendak Allah dan Rasul Nya, maka seperti bunyi ayat 36 surah al Ahzab, Allah berfirman, “ Tidaklah patut/wajar bagi orang yang beriman laki-laki maupun perempuan, apabila Allah dan Rasul Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka….”.

Jika menghadapi dua hal yang sulit, pilihlah yang termudah, selama tidak bertentangan dengan syara’. Jika menghadapi dua hal yang keduanya buruk, pilihlah yang paling sedikit keburukannya. Yang demikian inilah yang selalu dilakukan Rasulullah SAW. Beliau juga mewanti-wanti umat Islam agar berhati-hati memilih pemimpin, apalagi calon pemimpin yang pandai bicara, membuat orang ta’jub dengan retorikanya, baik dibidang ekonomi, demokrasi, politik dll. padahal ia adalah perusaknya. Hal itu ditegaskan al Qur’an dalam surah al Baqarah ayat 204  Disamping itu, berhati-hatilah kepada mereka yang mengatasnamakan agama (ustadz/ustadzah, kiyai, dan yang mengaku ulama) untuk menarik-narik anda agar memilih salah satu calon Walikota dan Wakilnya, padahal tujuannya untuk menggelembungkan perutnya sendiri, kalaupun anda diberi, paling anda cuma dapat recehannya. Kasihan deh lu!

Kita sudah tahu, bahwa 10 calon pimimpin kota Medan ini ada yang sudah pernah menjadi pejabat Walikota, dan ada yang pernah menjadi wakil walikota,, karenanya anda pasti bisa menilai.

Hanya tinggal menghitung hari untuk datang ke bilik-bilik TPS. Kitalah yang menentukan nasib kita dan kota ini lima tahun mendatang.  Betapapun, dari sekian banyak keburukan, pilihan harus tetap dijatuhkan.

Akhirnya, dalam hal ihwal penting, Rasulullah SAW mengajarkan kita, sebelum menjatuhkan pilihan, bermusyawarahlah dengan orang yang lebih banyak pengetahuannya tapi tidak terikat dengan salah satu kandidat, serta melaksanakan shalat istikharah-mohon petunjuk kepada Allah tentang pilihan terbaik, Rasulullah SAW bersabda sebagaimana diriwayatkan imam Ahmad,: Ma khaba man istakhara wala nadima man istasyara/ Tidak kecewa orang yang melakukan shalat istikhara, dan tidak pula menyesal orang yang bermusyawarah.
Wallohu a’lam.

Kategori:NASIHAT UTK KITA

74 WASIAT UNTUK PARA PEMUDA

Segala puji bagi Allah yang berfirman:“Dan sungguh Kami telah memerintahkan orang-orang

yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah.” (An-

Nisa’: 131)

Serta shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada hamba dan rasul-Nya

Muhammad yang bersabda:

“Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah , serta agar kalian mendengar dan

patuh.”

Dan takwa kepada Allah adalah mentaati-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya dan

menjauhi larangan-Nya.

Wa ba’du:

Berikut ini adalah wasiat islami yang berharga dalam berbagai aspek seperti ibadah,

muamalah, akhlak, adab dan yang lainnya dari sendi-sendi kehidupan. Kami persembahkan

wasiat ini sebagai peringatan kepada para pemuda muslim yang senantiasa bersemangat

mencari apa yang bermanfaat baginya, dan sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi

orang-orang yang beriman. Kami memohon kepada Allah agar menjadikan hal ini bermanfaat

bagi orang yang membacanya ataupun mendengarkannya. Dan agar memberikan pahala

yang besar bagi penyusunnya, penulisnya, yang menyebarkannya ataupun yang

mengamalkannya. Cukuplah bagi kita Allah sebaik-baik tempat bergantung.

1. Ikhlaskanlah niat kepada Allah dan hati-hatilah dari riya’ baik dalam perkataan ataupun

perbuatan.

2. Ikutilah sunnah Nabi dalam semua perkataan, perbuatan, dan akhlak.

3. Bertaqwalah kepada Allah dan ber’azamlah untuk melaksanakan semua perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.

4. Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nashuha dan perbanyaklah istighfar.

5. Ingatlah bahwa Allah senatiasa mengawasi gerak-gerikmu. Dan ketahuilah bahwa Allah melihatmu, mendengarmu dan mengetahui apa yang terbersit di hatimu.

6. Berimanlah kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir serta qadar yang baik ataupun yang buruk.

7. Janganlah engkau taqlid (mengekor) kepada orang lain dengan buta (tanpa memilih dan memilah mana yang baik dan yang buruk serta mana yang sesuai dengan sunnah/syari’at dan mana yang tidak). Dan janganlah engkau termasuk orang yang tidak punya pendirian.

8. Jadilah engkau sebagai orang pertama dalam mengamalkan kebaikan karena engkau akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengikuti/mencontohmu dalam mengamalkannya.

9. Peganglah kitab Riyadlush Shalihin, bacalah olehmu dan bacakan pula kepada keluargamu, demikian juga kitab Zaadul Ma’ad oleh Ibnul Qayyim.

10. Jagalah selalu wudlu’mu dan perbaharuilah. Dan jadilah engkau senantiasa dalam keadaan suci dari hadats dan najis.

11. Jagalah selalu shalat di awal waktu dan berjamaah di masjid terlebih lagi sahalat ‘Isya dan Fajr (shubuh).

12. Janganlah memakan makanan yang mempunyai bau yang tidak enak seperti bawang putih dan bawang merah. Dan janganlah merokok agar tidak membahayakan dirimu dan kaum muslimin.

13. Jagalah selalu shalat berjamaah agar engkau mendapat kemenangan dengan pahala yang ada pada shalat berjamaah tersebut.

14. Tunaikanlah zakat yang telah diwajibkan dan janganlah engkau bakhil kepada orangorang yang berhak menerimanya.

15. Bersegeralah berangkat untuk shalat Jumat dan janganlah berlambat-lambat sampai setelah adzan kedua karena engkau akan berdosa.

16. Puasalah di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah agar Allah mengampuni dosa-dosamu baik yang telah lalu ataupun yang akan datang.

17. Hati-hatilah dari berbuka di siang hari di bulan Ramadhan tanpa udzur syar’i sebab engkau akan berdosa karenanya.

18. Tegakkanlah shalat malam (tarawih) di bulan Ramadhan terlebih-lebih pada malam lailatul qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah agar engkau mendapatkan ampunan atas dosa-dosamu yang telah lalu.

19. Bersegeralah untuk haji dan umrah ke Baitullah Al-Haram jika engkau termasuk orang yang mampu dan janganlah menunda-nunda.

20. Bacalah Al-Qur’an dengan mentadaburi maknanya. Laksanakanlah perintahnya dan jauh larangannya agar Al-Qur’an itu menjadi hujjah bagimu di sisi rabmu dan menjadi penolongmu di hari qiyamat.

21. Senantiasalah memperbanyak dzikir kepada Allah baik perlahan-lahan ataupun dikeraskan, apakah dalam keadaan berdiri, duduk ataupun berbaring. Dan hati-hatilah engkau dari kelalaian.

22. Hadirilah majelis-majelis dzikir karena majelis dzikir termasuk taman surga.

23. Tundukkan pandanganmu dari aurat dan hal-hal yang diharamkan dan hati-hatilah engkau dari mengumbar pandangan, karena pandangan itu merupakan anak panah beracun dari anak panah Iblis.

24. Janganlah engkau panjangkan pakaianmu melebihi mata kaki dan janganlah engkau berjalan dengan kesombongan/keangkuhan.

25. Janganlah engkau memakai pakaian sutra dan emas karena keduanya diharamkan bagi laki-laki.

26. Janganlah engkau menyeruapai wanita dan janganlah engkau biarkan wanita-wanitamu menyerupai laki-laki.

27. Biarkanlah janggutmu karena Rasulullah: “Cukurlah kumis dan panjangkanlah janggut.” (HR. Bukhari Dan Muslim)

28. Janganlah engkau makan kecuali yang halal dan janganlah engkau minum kecuali yang halal agar doamu diijabah.

29. Ucapkanlah “bismillah” ketika engkau hendak makan dan minum dan ucapkanlah “alhamdulillah” apabila engkau telah selesai.

30. Makanlah dengan tangan kanan, minumlah dengan tangan kanan, ambillah dengan tangan kanan dan berilah dengan tangan kanan.

31. Hati-hatilah dari berbuat kezhaliman karena kezhaliman itu merupakan kegelapan di hari kiamat.

32. Janganlah engkau bergaul kecuali dengan orang mukmin dan janganlah dia memakan makananmu kecuali engkau dalam keadaan bertaqwa (dengan ridla dan memilihkan makanan yang halal untuknya).

33. Hati-hatilah dari suap-menyuap (kolusi), baik itu memberi suap, menerima suap ataupun perantaranya, karena pelakunya terlaknat.

34. Janganlah engkau mencari keridlaan manusia dengan kemurkaan Allah karena Allah akan murka kepadamu.

35. Ta’atilah pemerintah dalam semua perintah yang sesuai dengan syari’at dan doakanlah kebaikan untuk mereka.

36. Hati-hatilah dari bersaksi palsu dan menyembunyikan persaksian.

“Barangsiapa yang menyembunyikan persaksiannya maka hatinya berdosa. Dan Allah maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (Al-Baqarah: 283)

37. “Dan ber amar ma’ruf nahi munkarlah serta shabarlah dengan apa yang menimpamu.” (Luqman: 17) Ma’ruf adalah apa-apa yang diperintahkan oleh Allah dan rasul-Nya , dan munkar adalah apaapa

yang dilarang oleh Allah dan rasul-Nya.

38. Tinggalkanlah semua hal yang diharamkan baik yang kecil ataupun yang besar dan janganlah engkau bermaksiat kepada Allah dan janganlah membantu seorangpun dalam bermaksiat kepada-Nya.

39. Janganlah engkau dekati zina. Allah berfirman: “Janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah kekejian dan sejelek-jelek jalan.” (Al-Isra’:32)

40. Wajib bagimu berbakti kepada orang tua dan hati-hatilah dari mendurhakainya.

41. Wajib bagimua untuk silaturahim dan hati-hatilah dari memutuskan hubungan silaturahim.

42. Berbuat baiklah kepada tetanggamu dan janganlah menyakitinya. Dan apabila dia menyakitimu maka bersabarlah.

43. Perbanyaklah mengunjungi orang-orang shalih dan saudaramu di jalan Allah.

44. Cintalah karena Allah dan bencilah juga karena Allah karena hal itu merupakan tali keimanan yang paling kuat.

45. Wajib bagimu untuk duduk bermajelis dengan orang shalih dan hati-hatilah dari bermajelis dengan orang-orang yang jelek.

46. Bersegeralah untuk memenuhi hajat (kebutuhan) kaum muslimin dan buatlah mereka bahagia.

47. Berhiaslah dengan kelemahlembutan, sabar dan teliti. Hatilah-hatilah dari sifat keras, kasar dan tergesa-gesa.

48. Janganlah memotong pembicaraan orang lain dan jadilah engkau pendengar yang baik.

49. Sebarkanlah salam kepada orang yang engkau kenal ataupun tidak engkau kenal.

50. Ucapkanlah salam yang disunahkan yaitu “assalamualaikum” dan tidak cukup hanya dengan isyarat telapak tangan atau kepala saja.

51. Janganlah mencela seorangpun dan mensifatinya dengan kejelekan.

52. Janganlah melaknat seorangpun termasuk hewan dan benda mati.

53. Hati-hatilah dari menuduh dan mencoreng kehormatan oarng lain karena hal itu termasuk dosa yang paling besar.

54. Hati-hatilah dari namimah (mengadu domba), yakni menyampaikan perkataan di antara manusia dengan maksud agar terjadi kerusakan di antara mereka.

55. Hati-hatilah dari ghibah, yakni engkau menceritakan tentang saudaramu apa-apa yang dia benci jika mengetahuinya.

56. Janganlah engkau mengagetkan, menakuti dan menyakiti sesama muslim.

57. Wajib bagimu melakukan ishlah (perdamaian) di antara manusia karena hal itu merupakan amalan yang paling utama.

58. Katakanlah hal-hal yang baik, jika tidak maka diamlah.

59. Jadilah engkau orang yang jujur dan janganlah berdusta karena dusta akan mengantarkan kepada dosa dan dosa mengantarakan kepada neraka.

60. Janganlah engkau bermuka dua. Datang kepada sekelompok dengan satu wajah dan kepada kelompok lain dengan wajah yang lain.

61. Janganlah bersumpah dengan selain Allah dan janganlah banyak bersumpah meskipun engkau benar.

62. Janganlah menghina orang lain karena tidak ada keutamaan atas seorangpun kecuali dengan taqwa.

63. Janganlah mendatang dukun, ahli nujum serta tukang sihir dan jangan membenarkan (perkataan) mereka.

64. Janganlah menggambar gambar manuasia dan binatang. Sesungguhnya manusia yang paling keras adzabnya pada hari kiamat adalah tukang gambar.

65. Janganlah menyimpan gambar makhluk yang bernyawa di rumahmu karena akan menghalangi malaikat untuk masuk ke rumahmu.

66. Tasymitkanlah orang yang bersin dengan membaca: “yarhamukallah” apabila dia mengucapkan: “alhamdulillah”

67. Jauhilah bersiul dan tepuk tangan.

68. Bersegeralah untuk bertaubat dari segala dosa dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan karena kebaikan tersebut akan menghapuskannya. Dan hati-hatilah dari menunda-nunda.

69. Berharaplah selalu akan ampunan Allah serta rahmat-Nya dan berbaik sangkalah kepada Allah .

70. Takutlah kepada adzab Allah dan janganlah merasa aman darinya.

71. Bersabarlah dari segala mushibah yang menimpa dan bersyukurlah dengan segala kenikamatan yang ada.

72. Perbanyaklah melakukan amal shalih yang pahalanya terus mengalir meskipun engkau telah mati, seperti membangun masjid dan menyebarakan ilmu.

73. Mohonlah surga kepada Allah dan berlindunglah dari nereka.

74. Perbanyaklah mengucapkan shalawat dan salam kepada Rasulullah.

Shalawat dan salam senantiasa Allah curahkan kepadanya sampai hari kiamat juga kepada keluarganya dan seluruh shahabatnya.

(Diterjemahkan dari buletin berjudul 75 Washiyyah li Asy-Syabab terbitan Daarul Qashim

Kategori:NASIHAT UTK KITA

BERBAIK SANGKA

2 Agu 2012 1 komentar

Allah berfirman :

يا أ يها ا لذ ين ءا منوا اجتنبوا كثير من الظن إن بعض الظن إ ثم ولا تجسسوا ولا يغتب بعضكم

بعضا ايحب احد كم أ يأكل لحم اخيه ميتا فكر هتموه والتقوا الله إن الله تواب رحيم)

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari dugaan, sesunggunhnya sebagian dugaan adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang alin serta jangan sebagian kamu menggunjing sebagain yang lain. sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? maka kamu telah jijik kepadanya dan bertakwalah kepada Allah. sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyang”

B. Tafsir Mufradat

a) Tafsirnya :

Allah SWT berfirman. Melarang hamba-hambanya yang beriman berprasangka yang bukan pada tempatnya terhadap keluarganya, familinya dan terhadap orang lainpun, karena sebagian dari prasangka itu merupakan prbuatan yang membawa dosa dan janganlah kamu mengintai dan mencari-cari kesalahan orang lain. Allah memperumpakan orang yang menggunjing sesama saudadaranya yang mukmin seperti seorang yang memakan daging saudara yang telah mati. tentu tak seorangpun diantara kalian suka berbuat demikian maka bertakwalah kami kepada Allah, sesungguhnya dia Maha Penerima taubat lagi Maha Penyang.

b) Mufradatnya :

Kata ijtanibu terambil dari kata janb yang berarti samping. Mengesampingkan sesuatu berarti menjauhkan dari jangkauan tangan. dari sini kata tersebut diartikan jauhi. penambahan huruf ta’ pada kata tersebut berfungsi penekanan yang menjadikan kata ijtanibu berarti bersungguh-sugguh. upaya sungguh-sungguh untuk menghindari prasangka buruk.

kata katsir (an) /banyak bukan berarti kebanyakan, sebagaimana dipahami atau dterjemahkan sementara penerjemah. tiga dari sepuluh adalah banyak, dan enam dari sepuluh adalah kebanyakan. Jika demikian, bisa saja banyak dari dugaan adalah dosa dan banyak pula yang bukan dosa. yang bukan dosa adalah yang indikatornya demikian jelas, sedang dosa adalah dugaan yang tidak memiliki indikator yang cukup dan yang mengantar seseorang melangkah menuju sesuatu yang haramkan yang bukan dosa adalah rincian hukum-hukum keagamaan.

Kata tajassasu terambil dari akta jassa. yakni upaya mencari tahu dengan cara tersembunyi. dari sini mata-mata dinamai Jasus. Imam Ghazali memahami larangan ini dalam arti, jangan membiarkan oran berada dalam kerahasiaannya. yakni setiap orang berhak menyembunyikan apa yang eggan diketahui orang lain. jika demakian jangan berusaha menyingkap apa yang dirahasiakannya itu. Mencari mencari kesalahan orang lain biasanya lahir dugaan negatif terhadapnya, karena itu ia disebutkan setelah larangan menduga.

Kata yaghtab terambil dari kata (غيبه)ghibah berasal dari kata ghaib yakni tidak hadir. Ghibah adalah menyebut orang lain yang tidak hadir dihadapan penyebutnya dengan sesuatu yang tidal disenangi oleh yang bersangkutan. Jika keburukan yang disebut itu tidak disandang oleh yang bersangkutan, maka ia dinamai (بهتاب) buhtan/ kebohongan besar.

Kata At-tawwab sering kali diartikan peneria taubat, tetapi makna ini belum mencerminkan secara penuh kandungan kata tawwab, walaupun kita tidak dapat menilainya keliru

C. Pokok Kandungan Ayat

Ayat diatas masih merupakan lanjutan tuntunan ayat yang lalu. Hanya disini hal-hal buruk yang sifatnya tersembunyi, karena itu panggilan mesra kepada orang-orang yang beriman diulangi untuk kelima kalinya. Disisi lain memanggil panggilan buruk yang dilarang oleh ayat yang lalu boleh jadi panggilan / gelar dilakukan atas dasar dugaan yang tidak berdasar, karena itu ayat diatas menyatakan ” Hai orang yang beriman, jahiulah ” dengan upaya sungguh-sungguh memiliki indikator memadai, ” sesungguhnya sebagian dugaan ” yakni yang tidak memiliki indikator itu adalah ” dosa’.

Selanjutnya karena tidak jarang prasangka buruk mengundang upaya mencari tahu, maka ayat diatas melanjutkan bahwa: dan jagannlah kamu mencari kesalahan orang lain yang justru ditutupi oleh pelakunya serta jangan juga melangkah lebih laus yakni sebagian kamu mengunjing yakni membicarakan aib sebagian yang lain. sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? maka tentulah jika itu disodorkan kepada kamu, kamutelah merasa jijik kepadanya dan akan menghindari memakan daging saudara sendiri, karena itu pengunjingan karena ia sama memakan daging saudara yang telah meninggal dunia dan bertakwalah kepada Allah kepada Allah yakni menghindari siksa-Nya serta bertaubatlah atas anekan kesalahan, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

D. Pembahasan Ayat

Ayat diatas menegaskan bahwa sebagian dugaan adalah dosa yakni dugaan yang tidak mendasar. Biasanya dugaan yang tidak mendasar dan mengakibatkan dosa adalah dugaan buruk terhadap pihak lain. Ini bararti ayat diatas melarang melakukan dugaan buruk yang tanpa mendasar, karena ia dapat menjuruskan seseorang kedalam dosa. Dengan menghindari dugaan dan prasangka buruk, anggota masyarakat akan hidup tenang dan tentram serta produktif, karena mereka tidak akan ragu terhadap pihak lain dan tidak akan tersalurkan energinya kepada hal-hal yang sia-sia. Tuntunan ini juga membentengi setiap anggota masyarakat dari tuntunan terhadap hal-hal yang baru bersifat prasangka. Dengan demikian ayat ini mengukuhkan prinsip bahwa: tersangka belum dinyatakan bersalah sebelum terbukti kesalahannya, bahkan orang tidak dapat dituntut sebelum terbukti kebenaran dugaan yang dihadapkan kepadanya. Memang bisikan-bisikan yang terlentas didalam benak tentang sesuatu dapat ditoleransi, asal bisikan tersebut tidak akan ditingkatkan menjadi dugaan dan sangka buruk. Dalam konteks ini Rasul Saw: “Jika kamu menduga (yakni terlintas dalam benak kamu sesuatu yang buruk terhadap orang lain) maka jangan lanjutkan dugaanmu dengan melangkah lebih jauh (HR. At-tabrani).

Dalam komentarnya tentang ghibah/ mengunjing, Thabathaba’I menulis bahwa ghibah merupakan perusakan bagian dari masyarakat, satu demi satu sehingga dampak positif yang diharapkan dari wujudnya satu masyarakat menjadi gagal dan berantakan. Yang harapkan dari wujudnya masyarakat adalah hubungan harmonis antar anggota-anggotanya, dimana setiap orang dapat bergaul dengan penuh rasa aman dan damai. Masing-masing mengenal anggota masyarakat lainnya sebagai seorang manusia yang disenangi, tidak dibenci atau dihindari. Adapun bila ia dikenal dengan sifat yang mengundang kebencian atau memperkenalkan aibnya, maka akan terputus dengannya sebesar kebencian dan aib itu. dan ini pad agilirannya melemahkan hubungan kemasyarakatan sehingga gunjingan tersebut bagaikan rayap yang menggerogoti anggoota badan yang digunjinng, sedikit demi sedikit hingga berakhir dengan kematian. Lebih lanjut Thabathaba’I menulis, bahwa tujuan manusia dalam usahanya membentuk masyarakat adalah agar masing-masing dapat hidup di dalamnya dengan satu identitas yang baik, sehingga dia dapat dalam interaksi sosialnya menarik dan memberi mamfaat. Mengunjing mengantar yang bersangkutan kehilangan identitas itu bahkan merusak identitasnya serta menjadikan salah seorang dari anggota masyarakat tidak dapat berfungis sebagiamana diharapkan.

Sumber : http://fauzan-zifa.blogspot.com/2009/01/bahaya-berburuk-sangka.html#ixzz22PdUh4lS

%d blogger menyukai ini: