Beranda > NASIHAT UTK KITA > CIRI-CIRI ORANG YANG MEMUTUSKAN TALI PERSAUDARAAN (SILAH RAHIM)

CIRI-CIRI ORANG YANG MEMUTUSKAN TALI PERSAUDARAAN (SILAH RAHIM)

unduhan

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Segala puji atas Zat yang menjadikan kita berbangsa dan berbahasa, Hingga terjalinnya kebersamaan dalam Silahrarim yang Di dalamnya tersimpan rahasia agung untuk keberhasilan menjadi hamba yang baik dalam pandangan Illah.

Sholawat serta salam sentiasa kita curahkan kepada sang contoh terbaik bagi seluruh ummat Hingga Akhir zaman Rasulullah SAW.

Sahabat…
Begitu banyak orang-orang yang tertipu akan tipu daya muslihat syaithon yang berkaitan dengan pokok sosial dalam ajaran Islam, dalam hal ini adalah menjaga tali persaudaraan (Silah Rahim)
Sunguh sangat mengenaskan bila kita mengetahui secara komprehensif akan ancaman bagi orang-orang yang memutuskan tali persaudaraan namun kita menghiraukan akan ancaman tersebut.

“Dari Abdullah bin Abi Aufa r.a, beliau berkata, ketika sore hari pada hari Arafah, pada waktu kami duduk mengelilingi Rasulullah saw, tiba-tiba beliau bersabda, “Jika di majelis ini ada orang yang memutuskan silaturahim, silahkan berdiri, jangan duduk bersama kami”

Hadist ini menerangkan secara  langsung bahwa rasulullah tidak menerima orang-orang yang berlaku memutuskan tali persaudaraan (Silaturahim) sebagai golongannya, Nauzubillah min dzalik..

Sahabat..
lantas bagaimana kita mengetahui bahwa diri kita tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang memutuskan silaturahim yang telah nyata tidak di akui oleh rasulullah sebagai ummatnya?
Berikut Ciri-ciri Orang yang memutuskan tali persaudaraan :

  • Gelisah akan hadiranya orang yang berniat untuk menjaga tali persaudaan

Tentu orang yang memutuskan tali persaudaraan tidak akan senang dengan kehadiran orang yang telah di putus tali persaudaraanya, Bahkan sebelum datang kehadriannya (Orang yang di putuskan tali persaudaraannya) hatinya akan merasa tidak tenang, ia akan merasa gelisah ketika di dengarkan nama orang yang ia putuskan silaturahim.

  • Bertolak Atau Berusaha menghindari sesama muslim dengan Alasan Yang mengatasnamakan Kebaikan/Agama

Pemahaman yang kurang begitu memadai tentang suatu permasalah bisa menjadi pemicu problem tambahan dalam suatu kasus, hal ini seringkali terjadi kepada orang yang tengah memutuskan silaturahim, dengan argument yang tidak begitu akurat dan faktual dengan referensi yang ada, membuatnya lebih jauh tehanyut akan jebakan syathon,

  • Sentiasa acuh-takacuh dengan apa yang terjadi kepada saudaranya sesama muslim

Diantara penyebab orang memutuskan tali persaudaraan adalah adanya sengketa pemahaman/problem yang membuatnya terjatuh akan lembah kehinaan, jika di biarkan maka hal ini akan semakin berbahaya, tidak hanya untuk dirinya sendiri namun bisa berdampak kepada orang di sekitarnya.

  • Merasa paling benar dengan apa yang dilakukan tanpa melihat esensi yang sebenarnya

Orang yang memutuskan tali persaudaraan biasanya dirinya di kuasai nafsu yang bersarang di dalam hatinya, maka pada saat itu segala macam penyakit hati akan semakin bertumpuk berdatangan dan bersarang di dalamnya termasuk Merasa Paling benar, dan sungguh sangat membahayakan bagi dirinya juga orang (Jika lemah pemahaman) di sekitarnya.

  • Mudah melupakan apa yang pernah terjadi kepada dirinya bersama saudaranya sesama muslim

Kesan Atau mungkin bisa di katakan sebagai fakta bagi orang yang memutuskan tali persaudaraan adalah permusuhan, hingga ketika ia berpisah (memutus silaturahim) maka ia akan berusaha melupakan segala sesuatu yang pernah di lewainya bersama orang yang ia putus tali persaudaraannya.
sekilas kita memang sangat menganggap hal itu wajar untuk di lakukan, bahkan mungkin sebagian dari kita menganggap memang sedah seharusnya untuk di lakukan, namun bagaimana bila hal yang di lewatinya adalah suatu momentum yang memiliki dampak besar jika di lakukan (Melupakannya), yang berkaitan hubungan vertikal antara ia dengan orang yang di putuskan silaturahimnya Dan Allah.

  • Menganggap enteng akan Dosa

Bagaimana tidak, orang yang memutuskan tali persaudaraan menganggap enteng akan dosa sedangkan rasulullah SAW Pernah Bersabda :“Tidak akan pernah masuk kedalam syurga bagi orang yang memutuskan tali persaudaraan” (bukhrori muslim) sedangkan ia tidak menghiraukan hadist tersebut.
Na’uzubillah….

Barokallah…
Sahabat, semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang sentiasa bisa terus menjaga tali persaudaraan di antara sesama dengan istiqomah yang sesungguhnya.

Amin…

(el-kamil ibnu ishaq)

28/agustus/2013
00:31 WIB

 

 

Related articles

Iklan
  1. Kholid makmun
    29 Agu 2013 pukul 6:50 am

    Terima kasih atas artikelnya, mau dong di kirimin materi-materi dakwah yang menyangkut dengan social antar agama
    di tunggu ya artikelnya
    Untuk Dakwah Insan Muda moga maju dan jaya terus
    amin

    Suka

  2. dElalov4
    29 Agu 2013 pukul 6:52 am

    Subhanallah..
    Ouh…
    Ternyata.

    Suka

  3. Surya paloh gunadi
    29 Agu 2013 pukul 8:57 am

    Assalam.
    Gan tolong share tentang ilmu falak dong.
    di tunggu

    Suka

  4. NOER
    6 Apr 2015 pukul 8:02 am

    Assm…Bagaimana jika hubungan renggang dengan saudara dikarenakan sikap tidak bisa menghargai dan tidak mau menerima pendapat orang lain? hal ini sudah berlangsung hampir seminggu tidak saling tegur sapa,saya hanya diam jika saudara berbicara kurang baik mengenai saya kepada orang lain, bagaimana sebaiknya saya bersikap ?

    Terima kasih,

    Wassalam

    Suka

    • 31 Mar 2019 pukul 3:44 pm

      Waalaikumsalam…Wr.wb
      Sebagaimana Rasulullah bersabda

      عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ))

      “Dari Abî Ayûb al-Anshâriy, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam ‘bersabda; ‘Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam di mana keduanya bertemu lalu yang ini berpaling dan yang itu berpaling. Yang terbaik di antara keduanya ialah orang yang memulai mengucapkan salam’. “(HR. Muslim, Hadits No. 2560).

      Jadi saran kami, tetaplah berusaha menjaga silaturrahmi, sapa lebih dulu dgn lemah lembut.
      Perkara ia tidak mau memperbaiki persaudaraan sudah tidk menjadi beban tanggung jawab kita.

      Adapun sikap yang harus kita kedepankan ketika mendengar gunjingan keburukan tentang kita, maka cukup lah diamkan saja dan doakan dlm diam kita, semoga orang yang menggunjing kita segera mau menjemput hidayah Allah.
      Ikhlaskan ketika berdoa, insya Allah ketenangan hati akan didapat.

      Wallahu A’lam.

      Wassalamualaikum…Wr.Wb

      Suka

  5. 14 Apr 2016 pukul 4:29 am

    Tiap muslim jarang ber wasilah walaupun 1ayat. Ilmu manfaat, tidak semua muslim tau. Apalagi dikasih CONTO, pemimpin.

    Suka

  6. Anonim
    5 Jul 2018 pukul 12:07 pm

    Assalamualaikum wr.wb bagaimana hukum nya jika ada saudara dgn sengaja memutuskan persaudaraan antara kita, hanya cm masalah uang, & apa hukum nya org tua kl sdh umroh tidak bs mndidik ank nya dgn baik, bahkn mendoakn ank nya yg jelek2.trmakasih wassalamualikum.wr.wb

    Suka

    • 31 Mar 2019 pukul 4:20 pm

      Waalaikumsalam Warohmatullahi Wabarokatuh.
      1 TENTANG MEMUTUSKAN SILATURRAHMI
      Tidak ada perbedaan pendapat dikalangan ulama bahwa hukum menjaga silaturrahmi diantara sesama muslim adalah Wajib.
      Kewajiban ini berdasarkan perintah Allah langsung yg terdapat dalam surat An-nisa ayat 1 :
      وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

      Bertakwalah kepada Allâh yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allâh selalu menjaga dan mengawasi kamu.”

      Rasulullah pun telah mewajibkan kpd ummatnya untuk saling menjaga silaturahmi, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadist:
      يَأْمُرُنَا بِالصَّلاَةِ وَالصَّدَقَةِ وَالْعَفَافِ وَالصِّلَةِ
      (Nabi uhammad) memerintahkan kami shalat, shadaqah, menjaga kehormatan dan shilaturrahmi. (HR. al-Bukhari, no. 5635)

      Maka wajib bagi kita utk menjaga persaudaraan diantara sesama, jika tidak atau sebaliknya (malah memutuskan tali persaudaraan) maka hukumnya menjadi dosa, karena telah membangkang perintah Allah dan Rasulullah diatas.

      Bahkan Rasulullah pernah mengancam bagi yang memutuskan silaturahmi dgn ancaman tidak akan masuk kedalam syurga Allah. Sebagaimana sabdanya :
      لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ
      Tidak akan masuk sorga orang yang memutuskan (persaudaraan). (HR. al-Bukhâri dan Muslim, dari Jubair bin Muth’im)

      Na’udzubillah.

      2. TENTANG ORANG TUA YG SUDAH UMROH TIDAK BISA MENDIDIK ANAKNYA
      Mohon maaf sebelumnya, mungkin maksud pertanyaanya bagaimana hukum Umroh org tua yg tdk bisa mendidik org tua?
      Jika ia maka jawabannya :
      Hukum Umroh Mabrur, maqbul atau tidaknya bisa dilihat dgn beberapa ciri dintaranya :
      √ Sepulangnya Umroh keimanan dan ibadahnya kpd Allah akan lebih baik dibanding sebelum berangkat Umroh
      √ Sentiasa Menebarkan kedamaian, dalam segala rutinitasnya / bersosialisasi dengan orang-orang disekitarnya.

      Kalaulah ciri-ciri mabrurnya umroh terlihat maka insya Allah ibadah umroh yang pernah dilakukannya adalah ibadah Umroh yang mabrur dan maqbul.

      Wallahu A’lam.

      Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

      Untuk Konsultasi cepat bisa menggunakan WhatsApp di No.082240002354.

      Suka

  1. 31 Mar 2015 pukul 1:32 am

Silahkan tinggalkan komentar sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: