Beranda > Terbaru > BANTAHAN UTK HALALNYA PEMIMPIN KAFIR

BANTAHAN UTK HALALNYA PEMIMPIN KAFIR

DALAM PILKADA DKIMENCARI PEMIMPIN YANG HALAL
(Menjawab Pertanyaan Lebih Baik Mana Non Muslim yang Adil dan Muslim yang Zalim Melalui Pendekatan Tafsir Ahkam)

Oleh: Ust. Deden Muhammad Makhyaruddin

Secara harfiyah, kafir adalah Isim Fa’il dari kata kufr dengan pengertian harfiyah “menutupi.” Non muslim disebut kafir dalam Al-Qur’an karena berarti “menutupi” fitrah islam-nya. Yakni, fitrahnya menjadi berpenutup. Penutup tersebut kemudian bekerja membentengi fitrah dari segala macam kebenaran dan menyerap segala bentuk keburukan kedalamnya. Kemudian bersenyawa dan mengeras menjadi bagian tak terpisahkan. Syirik, misalnya, dalam Al-Qur’an, disebut kezaliman yang benar-benar besar. Hal ini tak lain karena Syirik merupakan kufur kronis yang sudah sampai pada stadium akhir. Karena, selain menutupi fitrah dan menolak kebenaran, Syirik berarti sudah sampai pada menerima kebatilan, bahkan mengokohkannya. Oleh karenanya, dapat disimpulkan, tidak ada orang musyrik yang adil sebagaimana tidak ada orang muslim yang zalim.

Tapi kemudian muncul pertanyaan, “lebih baik mana pemimpin non muslim yang adil dan pemimpin muslim yang zalim (tidak adil)?” Nah, tampaknya redaksi pertanyaannya harus disusun ulang. Yaitu menjadi: “lebih buruk mana pemimpin non muslim yang adil dan pemimpin muslim yang zalim?” Karena keadilan menjadi hilang kebaikannya jika bersama kekufuran, sebagaimana keislaman hilang kebaikannya jika bersama kezaliman. Hal ini sama antara daging babi dengan riba atau harta haram lainnya seperti hasil korupsi. Yakni pemimpin non muslim yang “adil” ibarat babi, dan pemimpin muslim yang “zalim” ibarat riba. Tidak ada yang lebih baik dari keduanya. Kedua-duanya buruk dan haram dikonsumsi.

Lebih haram mana babi dengan riba? Babi disebut haram li dzatihi. Yakni sudah haram dari dzatnya. Haramnya bawaan lahir. Tidak akan pernah bisa menjadi halal selamanya. Non muslim pun demikian, haramnya kekal selama menyandang status kafir. Yakni keadilan yang melekat padanya tak menyebabkannya halal. Tapi dalam kondisi darurat, yakni ketika tidak menemukan makanan halal setelah mencarinya kesana kemari, babi bisa dimakan sekadar dapat mengganjal perut dan bukan karena menikmati. Tapi, yang perlu diingat, kebolehan tersebut hanya bersifat darurat, atau disebut rukhshah. Yakni, tanpa sama sekali mengubah statusnya menjadi halal. Di sinilah tampaknya mungkin mengapa NU memfatwakan boleh memilih pemimpin non muslim yang adil dalam keadaan darurat. Pertanyaannya, apakah kondisi negara kita sekarang sudah masuk ke zona darurat pemimpin halal? Nanti.

Riba dan sejenisnya disebut haram li ghairihi. Yakni barang tersebut, pada dasarnya, halal. Halalnya bawaan lahir. Dzatnya tidak akan pernah bisa haram selamanya. Adapun haramnya hanya kondisional. Yakni terkait proses mendapatkannya yang batil. Dengan kata lain, yang haram adalah prosesnya bukan barangnya. Tapi kemudian prosesnya yang haram menyebabkan barangnya ikut haram. Yakni, haramnya barang hanya ikut pada haramnya proses, karena ada cacat syar’i dalam akad atau dalam rantai suplai. Seperti mencuri dan menipu. Sama halnya pemimpin muslim yang zalim. Dzatnya tetap halal, tapi menjadi haram karena zalimnya. Misalnya, karena korupsi dan lain-lain.

Dalam hal ini, Fiqih memberikan jawaban, bahwa yang haram karena dzatnya lebih buruk dari yang haram karena selain dzatnya. Babi lebih buruk dari riba. Non muslim yang adil lebih buruk dari muslim yang zalim. Tapi jawaban Fiqih baru sampai pada takhrij al-manath (memproduksi hukum), belum sampai kepada tahqiq al-manath (penerapan hukum). Yakni hukum fiqih tersebut ketika hendak diterapkan harus melalui proses ijtihad lebih lanjut lagi.

Dengan membandingkan ayat-ayat tentang Babi dan Riba, tampaknya hukum Riba lebih berat dari Babi. Karena, kalau daging babi bisa dimakan dalam kondisi darurat, maka riba tidak ada jalan keluar untuk menjadi boleh meski dalam keadaan darurat. Dalam hadits, memakan riba termasuk tujuh dosa yang merusak (al-sab’ al-mubiqat), sementara memakan daging babi tidak termasuk. Babi diharamkan dengan redaksi hurrimat (majhul) bersama darah dan bangkai, sedang riba diharamkan secara lebih tegas dan khusus dengan kata harrama (ma’lum) tidak digandeng dengan yang lain. Pelaku riba harus diperangi dalam surah al-Baqarah ayat 279, demikian pula mencuri dan sejenisnya, ada had (hukuman) khusus untuknya, sedang pemakan babi tidak demikian. Hal ini karena konsumen Riba lebih banyak daripada konsumen babi. Karena bisa jadi sebagian orang menganggap enteng riba. Bahkan bisa dimanipulasi sehingga tampak seolah-olah halal. Paling tidak, ada perasaan jijik dalam daging babi, tapi dalam hal riba atau barang haram lainnya, banyak yang tidak merasa jijik. Padahal, bagi seorang mukmin, mestinya harus sama menjijikannya.

Tegasnya keharaman riba tampaknya datang untuk menolak istikhfaf (meremehkan) riba. Orang-orang musyrik mengatakan jual beli sama (mirip) dengan riba. Artinya, jangan sampai karena hendak mengharamkan Babi yang haramnya li dzatihi melebihi haramnya riba yang li ghairi menjadikan bersinggungan dengan riba lebih berani dari bersinggungan dengan daging babi. Dengan kata lain, hanya karena hendak menolak secara total pemimpin non muslim jangan sampai menganggap remeh masalah korupsi yang dilakukan pemimpin muslim. Menghalalkan riba sama besar dosanya dengan menghalalkan babi. Kedua-duanya menyebabkan murtad. Memilih pemimpin non muslim yang adil sama haramnya dengan memilih pemimpin muslim yang zalim. Yakni, dalam tahqiq al-manath, yang haram li dzatihi tidak lebih haram dibanding haram li ghairihi. Bahkan nyaris yang haram li ghairihi lebih berbahaya dari haram li dzatihi. Karena tampak seperti halal, dan bahayanya bukan hanya bagi pemakainya, tapi semua orang yang terlibat di dalamnya, bahkan yang tidak mempraktekkan pun terkena imbasnya.

Tidak ada cara lain untuk keluar dari dua pilihan keburukan di atas kecuali harus memilih pemimpin yang halal, muslim yang adil, meski tampaknya mencari pemimpin (muslim) yang halal, hari ini, sama sulitnya dengan mencari makanan yang seratus persen halal. Apalagi mencari pemimpin non muslim yang adil, lebih sulit lagi. Bahkan nyaris tidak akan pernah ada, terlebih sulitnya menetapkan batasan darurat pemimpin halal di tangah komunitas muslimin yang mayoritas. Yang disebut pemimpin halal hari ini tampaknya adalah pemimpin yang syubhat. Tapi, masa iya dari sekian juta kaum muslim di negera dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini tak satu orang pun yang dapat memimpin dengan adil dan halal. Garam yang halal ada di laut.

Wallaahu A’lam
Hotel Grand Tropik Jakarta, Senin, 18 April 2016

Kategori:Terbaru
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Silahkan tinggalkan komentar sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: