Arsip

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

RAMADLAN DATANG

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ
صُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ
مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِي مُنَادٍ
يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنْ النَّارِ وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ

Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam: “Bila tiba malam pertama bulan Ramadhan para syaithan dibelenggu, maksudnya jin. Dan pintu-pintu neraka ditutup dan tak satupun yang dibuka dan pintu-pintu surga dibuka dan tak satupun yang ditutup. Lalu ada penyeru yang menyerukan: ”Wahai para pencari kebaikan, sambutlah (songsonglah) dan wahai para pencari kejahatan, tolaklah (hindarilah).” Dan Allah ta’aala memiliki perisai dari api neraka. Dan yang demikian terjadi setiap malam.” (HR Tirmidzi 618). Baca selanjutnya…

Iklan

Ikuti aku ya… 🙂

Kumpulan Artikel Penuh Inspirasi

1. Jangan tertarik kepada seseorang karena parasnya sebab keelokan paras dapat menyesatkan. Jangan pula tertarik kepada kekayaannya karena kekayaan dapat musnah. Tertariklah kepada seseorang yang dapat membuatmu tersenyum, karena hanya senyum yang dapat membuat hari-hari yang gelap menjadi cerah. Semoga kamu menemukan orang seperti itu.

2. Bermimpilah tentang apa yang ingin kamu impikan pergilah ke tempat-tempat kamu ingin pergi. Jadilah seperti yang kamu inginkan, karena kamu hanya memiliki satu kehidupan dan satu kesempatan untuk melakukan hal-hal yang ingin kamu lakukan.

3. Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibukakan. Tetapi sering kali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup sehingga tidak melihat pintu lain yang dibukakan bagi kita.

Lihat pos aslinya 408 kata lagi

Kategori:Uncategorized

BERBAIK SANGKA

2 Agu 2012 1 komentar

Allah berfirman :

يا أ يها ا لذ ين ءا منوا اجتنبوا كثير من الظن إن بعض الظن إ ثم ولا تجسسوا ولا يغتب بعضكم

بعضا ايحب احد كم أ يأكل لحم اخيه ميتا فكر هتموه والتقوا الله إن الله تواب رحيم)

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari dugaan, sesunggunhnya sebagian dugaan adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang alin serta jangan sebagian kamu menggunjing sebagain yang lain. sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? maka kamu telah jijik kepadanya dan bertakwalah kepada Allah. sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyang”

B. Tafsir Mufradat

a) Tafsirnya :

Allah SWT berfirman. Melarang hamba-hambanya yang beriman berprasangka yang bukan pada tempatnya terhadap keluarganya, familinya dan terhadap orang lainpun, karena sebagian dari prasangka itu merupakan prbuatan yang membawa dosa dan janganlah kamu mengintai dan mencari-cari kesalahan orang lain. Allah memperumpakan orang yang menggunjing sesama saudadaranya yang mukmin seperti seorang yang memakan daging saudara yang telah mati. tentu tak seorangpun diantara kalian suka berbuat demikian maka bertakwalah kami kepada Allah, sesungguhnya dia Maha Penerima taubat lagi Maha Penyang.

b) Mufradatnya :

Kata ijtanibu terambil dari kata janb yang berarti samping. Mengesampingkan sesuatu berarti menjauhkan dari jangkauan tangan. dari sini kata tersebut diartikan jauhi. penambahan huruf ta’ pada kata tersebut berfungsi penekanan yang menjadikan kata ijtanibu berarti bersungguh-sugguh. upaya sungguh-sungguh untuk menghindari prasangka buruk.

kata katsir (an) /banyak bukan berarti kebanyakan, sebagaimana dipahami atau dterjemahkan sementara penerjemah. tiga dari sepuluh adalah banyak, dan enam dari sepuluh adalah kebanyakan. Jika demikian, bisa saja banyak dari dugaan adalah dosa dan banyak pula yang bukan dosa. yang bukan dosa adalah yang indikatornya demikian jelas, sedang dosa adalah dugaan yang tidak memiliki indikator yang cukup dan yang mengantar seseorang melangkah menuju sesuatu yang haramkan yang bukan dosa adalah rincian hukum-hukum keagamaan.

Kata tajassasu terambil dari akta jassa. yakni upaya mencari tahu dengan cara tersembunyi. dari sini mata-mata dinamai Jasus. Imam Ghazali memahami larangan ini dalam arti, jangan membiarkan oran berada dalam kerahasiaannya. yakni setiap orang berhak menyembunyikan apa yang eggan diketahui orang lain. jika demakian jangan berusaha menyingkap apa yang dirahasiakannya itu. Mencari mencari kesalahan orang lain biasanya lahir dugaan negatif terhadapnya, karena itu ia disebutkan setelah larangan menduga.

Kata yaghtab terambil dari kata (غيبه)ghibah berasal dari kata ghaib yakni tidak hadir. Ghibah adalah menyebut orang lain yang tidak hadir dihadapan penyebutnya dengan sesuatu yang tidal disenangi oleh yang bersangkutan. Jika keburukan yang disebut itu tidak disandang oleh yang bersangkutan, maka ia dinamai (بهتاب) buhtan/ kebohongan besar.

Kata At-tawwab sering kali diartikan peneria taubat, tetapi makna ini belum mencerminkan secara penuh kandungan kata tawwab, walaupun kita tidak dapat menilainya keliru

C. Pokok Kandungan Ayat

Ayat diatas masih merupakan lanjutan tuntunan ayat yang lalu. Hanya disini hal-hal buruk yang sifatnya tersembunyi, karena itu panggilan mesra kepada orang-orang yang beriman diulangi untuk kelima kalinya. Disisi lain memanggil panggilan buruk yang dilarang oleh ayat yang lalu boleh jadi panggilan / gelar dilakukan atas dasar dugaan yang tidak berdasar, karena itu ayat diatas menyatakan ” Hai orang yang beriman, jahiulah ” dengan upaya sungguh-sungguh memiliki indikator memadai, ” sesungguhnya sebagian dugaan ” yakni yang tidak memiliki indikator itu adalah ” dosa’.

Selanjutnya karena tidak jarang prasangka buruk mengundang upaya mencari tahu, maka ayat diatas melanjutkan bahwa: dan jagannlah kamu mencari kesalahan orang lain yang justru ditutupi oleh pelakunya serta jangan juga melangkah lebih laus yakni sebagian kamu mengunjing yakni membicarakan aib sebagian yang lain. sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? maka tentulah jika itu disodorkan kepada kamu, kamutelah merasa jijik kepadanya dan akan menghindari memakan daging saudara sendiri, karena itu pengunjingan karena ia sama memakan daging saudara yang telah meninggal dunia dan bertakwalah kepada Allah kepada Allah yakni menghindari siksa-Nya serta bertaubatlah atas anekan kesalahan, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

D. Pembahasan Ayat

Ayat diatas menegaskan bahwa sebagian dugaan adalah dosa yakni dugaan yang tidak mendasar. Biasanya dugaan yang tidak mendasar dan mengakibatkan dosa adalah dugaan buruk terhadap pihak lain. Ini bararti ayat diatas melarang melakukan dugaan buruk yang tanpa mendasar, karena ia dapat menjuruskan seseorang kedalam dosa. Dengan menghindari dugaan dan prasangka buruk, anggota masyarakat akan hidup tenang dan tentram serta produktif, karena mereka tidak akan ragu terhadap pihak lain dan tidak akan tersalurkan energinya kepada hal-hal yang sia-sia. Tuntunan ini juga membentengi setiap anggota masyarakat dari tuntunan terhadap hal-hal yang baru bersifat prasangka. Dengan demikian ayat ini mengukuhkan prinsip bahwa: tersangka belum dinyatakan bersalah sebelum terbukti kesalahannya, bahkan orang tidak dapat dituntut sebelum terbukti kebenaran dugaan yang dihadapkan kepadanya. Memang bisikan-bisikan yang terlentas didalam benak tentang sesuatu dapat ditoleransi, asal bisikan tersebut tidak akan ditingkatkan menjadi dugaan dan sangka buruk. Dalam konteks ini Rasul Saw: “Jika kamu menduga (yakni terlintas dalam benak kamu sesuatu yang buruk terhadap orang lain) maka jangan lanjutkan dugaanmu dengan melangkah lebih jauh (HR. At-tabrani).

Dalam komentarnya tentang ghibah/ mengunjing, Thabathaba’I menulis bahwa ghibah merupakan perusakan bagian dari masyarakat, satu demi satu sehingga dampak positif yang diharapkan dari wujudnya satu masyarakat menjadi gagal dan berantakan. Yang harapkan dari wujudnya masyarakat adalah hubungan harmonis antar anggota-anggotanya, dimana setiap orang dapat bergaul dengan penuh rasa aman dan damai. Masing-masing mengenal anggota masyarakat lainnya sebagai seorang manusia yang disenangi, tidak dibenci atau dihindari. Adapun bila ia dikenal dengan sifat yang mengundang kebencian atau memperkenalkan aibnya, maka akan terputus dengannya sebesar kebencian dan aib itu. dan ini pad agilirannya melemahkan hubungan kemasyarakatan sehingga gunjingan tersebut bagaikan rayap yang menggerogoti anggoota badan yang digunjinng, sedikit demi sedikit hingga berakhir dengan kematian. Lebih lanjut Thabathaba’I menulis, bahwa tujuan manusia dalam usahanya membentuk masyarakat adalah agar masing-masing dapat hidup di dalamnya dengan satu identitas yang baik, sehingga dia dapat dalam interaksi sosialnya menarik dan memberi mamfaat. Mengunjing mengantar yang bersangkutan kehilangan identitas itu bahkan merusak identitasnya serta menjadikan salah seorang dari anggota masyarakat tidak dapat berfungis sebagiamana diharapkan.

Sumber : http://fauzan-zifa.blogspot.com/2009/01/bahaya-berburuk-sangka.html#ixzz22PdUh4lS

DI ANTRA AMALAN KELIRU ROMADLON

* Padusan, Mandi Besar, atau Keramasan Menyambut Ramadhan

Tidaklah tepat amalan sebagian orang yang menyambut bulan Ramadhan dengan mandi besar atau keramasan terlebih dahulu. Amalan seperti ini juga tidak ada tuntunannya sama sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lebih parahnya lagi mandi semacam ini (yang dikenal dengan “padusan”) ada juga yang melakukannya campur baur laki-laki dan perempuan dalam satu tempat pemandian. Ini sungguh merupakan kesalahan yang besar karena tidak mengindahkan aturan Islam. Bagaimana mungkin Ramadhandisambut dengan perbuatan yang bisa mendatangkan murka Allah

* Mengkhususkan Ziarah Kubur Menjelang Ramadhan

Tidaklah tepat keyakinan bahwa menjelang bulan Ramadhan adalah waktu utama untuk menziarahi kubur orang tua atau kerabat (yang dikenal dengan “nyadran”). Kita boleh setiap saat melakukan ziarah kubur agar hati kita semakin lembut karena mengingat kematian. Namun masalahnya adalah jika seseorang mengkhususkan ziarah kubur pada waktu tertentu dan meyakini bahwa menjelang Ramadhan adalah waktu utama untuk nyadran atau nyekar. Ini sungguh suatu kekeliruan karena tidak ada dasar dari ajaran Islam yang menuntunkan hal ini.

* Mendahului Ramadhan dengan Berpuasa Satu atau Dua Hari Sebelumnya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدٌ الشَّهْرَ بِيَوْمٍ وَلاَ يَوْمَيْنِ إِلاَّ أَحَدٌ كَانَ يَصُومُ صِيَامًا قَبْلَهُ فَلْيَصُمْهُ

“Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya, kecuali bagi seseorang yang terbiasa mengerjakan puasa pada hari tersebut maka puasalah.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih wa Dho’if Sunan Nasa’i)

Pada hari tersebut juga dilarang untuk berpuasa karena hari tersebut adalah hari yang meragukan. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ الْيَوْمَ الَّذِي يُشَكُّ فِيهِ فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Barangsiapa berpuasa pada hari yang diragukan maka dia telah mendurhakai Abul Qasim (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen).” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dho’if Sunan Tirmidzi)

* Pensyariatan Waktu Imsyak (Berhenti makan 10 atau 15 menit sebelum waktu shubuh)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُوا وَاشْرَبُوا وَلاَ يَهِيدَنَّكُمُ السَّاطِعُ الْمُصْعِدُ فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَعْتَرِضَ لَكُمُ الأَحْمَرُ

“Makan dan minumlah. Janganlah kalian menjadi takut oleh pancaran sinar (putih) yang menjulang. Makan dan minumlah sehingga tampak bagi kalian warna merah yang melintang.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Khuzaimah. Dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abu Daud, Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan shahih). Maka hadist ini menjadi dalil bahwa waktu hadist (menahan diri dari makan dan minum) adalah sejak terbit fajar shodiq –yaitu ketika adzan shubuh dikumandangkan- dan bukanlah 10 menit sebelum adzan shubuh. Inilah yang sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Dalam hadist Anas dari Zaid bin Tsabit bahwasanya beliau pernah makan sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri untuk menunaikan shalat. Kemudian Anas berkata, “Berapa lama jarak antara adzan Shubuh dan sahur kalian?” Kemudian Zaid berkata, “Sekitar 50 ayat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Lihatlah berapa lama jarak antara sahur dan adzan? Apakah satu jam?! Jawabnya: Tidak terlalu lama, bahkan sangat dekat dengan waktu adzan shubuh yaitu sekitar membaca 50 ayat Al Qur’an (sekitar 10 atau 15 menit)

MENCINTAI KARENA ALLAH SEMATA

بسـم الله الـر حمـن الـر حيــم

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له من يضلل فلا هاديله، وأشهد أن لا إلـه إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.
Segala puji bagi Allah, kita memujinya, memohon pertolongan dan ampunan kepadaNya kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan kejelekan amalan-amalan kita, barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya hidayah.
Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah hamba dan utusan Allah.

يأيها الذين ءامنوا اتقوا الله حق تقاته، ولاتموتن إلاوأنتم مسلمون۝
“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Islam.” (QS. Ali ‘Imran : 102)

يأيهاالناس اتقواربكم الذى خلقكم من نفس وحدة وخلق منهازوجها وبث منهمارجالاكثيرا ونساءۚ واتقوا الله الذى تساءلون به والأرحامۚ إن الله كان عليكم رقيبا۝
“Wahai manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya, dan daripadanya keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) NamaNya kamu saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silahturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS. An-Nisa’ :1)

يأيهاالذين ءامنوا اتقوا الله وقولوقولاسديدا۝ يصلح لكم أعملكم ويغفرلكم ذنوبكمۗ ومن يطع الله ورسوله، فقدفازفوزاعظيما۝
“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah dengan perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu sosa-dosamu dan barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzaab : 70-71)

Amma ba’du :
فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم، وشرالأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة فيالنار.
“Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah, Baca selanjutnya…

Kategori:Uncategorized

MENGHINDARI MURKA ALLAH, BERLINDUNG DARI ALIRAN SESAT

Sudahkah doa memohon petunjuk di atas —yang mana telah sering dan banyak anda ucapkan— berpengaruh pada diri dan kehidupan anda? Apa pengaruhnya terhadap diri dan kehidupan anda? Bagaimanakah kualitas pengaruhnya? Apakah do’a tersebut telah efektif membentengi diri anda dari serangan virus-virus aliran, paham dan pemikiran sesat? Jika telah terinfeksi, apakah do’a tersebut efektif menghilangkan virus-virus tersebut? Jika jawaban dari semua pertanyaan tersebut adalah belum, tidak atau masih sedikit pengaruhnya, anda mesti mempertanyakan keimanan anda lalu menginstall ulang iman anda. Bagaimana caranya?

Setiap Muslim setiap hari minimal membaca do’a memohon petunjuk tersebut di atas sebanyak jumlah rakaat shalat wajib yakni tujuh belas kali. Berapa jumlahnya sejak pertama kali menjalankan shalat ketika mencapai usia baligh hingga saat ini? Tinggal dikalikan. Jumlahnya akan mencapai ratusan ribu. Seseorang Muslim yang katakanlah mencapai usia baligh di usia 15 tahun dan telah berumur 60 tahun minimal telah memanjatkan do’a tersebut 275.400 kali (17x360x(60-15)). Namun apakah do’a yang telah dipanjatkan sebanyak itu telah efektif? Apakah kualitas dan efektifitasnya sebanding dengan kuantitasnya? Hanya Allah swt Yang Maha Tahu. Namun sebagai manusia kita tetap bisa berusaha mengukur keefektifan doa tersebut dari tanda-tanda yang nampak secara lahiriahnya. Bagaimana cara mengukurnya?

Keutamaan Do’a Memohon Petunjuk Kepada Jalan Yang Lurus

Do’a ini memiliki fungsi dan kedudukan yang istemewa. Do’a ini adalah satu-satunya do’a di dalam Al-Qur’an yang berfungsi untuk memohon petunjuk kepada jalan yang lurus. Do’a ini merupakan do’a yang pertama kali Allah turunkan dan ajarkan kepada Rasulullah saw karena surat Al-Fatihah merupakan surat kelima yang pertama kali diturunkan dan di empat surat sebelumnya tidak terdapat ayat-ayat do’a.

Do’a ini istimewa disebabkan keistimewaan Surat Al-Fatihah. Al-Fatihah istimewa karena merupakan pembuka Al-Qur’an, kandungannya merupakan inti sari Al-Qur’an, salah satu cahaya yang Allah berikan kepada Rasulullah saw yang tidak diberikan kepada nabi-nabi dan rasul-rasul sebelum beliau, tidak ada surat yang sebanding dan serupa di Zabur, Taurat, Injil dan Al-Qur’an, serta karena Allah menjawab setiap kalimat yang diucapkan oleh seorang hamba ketika membacanya dalam setiap shalat (yakni ayat kedua hingga ketujuh).

“Allah berfirman:’Shalat dibagi dua antara Aku dan hamba-Ku. Bagi hamba-Ku ialah apa yang dia pinta. Bila seorang hamba mengatakan ‘Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam,’ maka Allah berfirman,’Hambaku memuji-Ku’. Bila hamba mengatakan,’Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,’ maka Allah berfirman,’hamba-Ku menyanjung-Ku.’ Apabila dia berkata,’Yang Menguasai hari pembalasan,’maka Allah berfirman, ‘Hamba-Ku memuliakan-Ku. Atau lain kali Dia berfirman,’Hamba-Ku berserah diri pada-Ku.’ Apabila dia berkata,’Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan,’ maka Allah berfirman,’Bacaan itu menyangkut Aku dan hamba-Ku. Bagi hamba-Ku adalah apa yang dia minta.’ Apabila dia berkata,’Tunjukkanlah kami kepada jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) orang-orang yang Engkau murkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat,’ maka Allah berfirman,’Pahala ayat ini untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku pula apa yang dia minta,”” (HR. Muslim)

Do’a ini istemewa karena terdapat di dalam Surat Al-Fatihah yang merupakan surat istemewa. Baca selanjutnya…

Kategori:Uncategorized

28 Feb 2012 3 komentar
Kategori:Uncategorized

HIKMAH DI BALIK SABAR

26 Feb 2012 53 komentar

Kesabaran merupakan sebuah amalan yang memiliki keutamaan disisi Allah karena dengan kesabaran inilah para nabi dan rasul berhasil mengajak umat manusia untuk beribadah hanya kepada Allah semata, walaupun dengan banyaknya musibah dan cobaan yang datang dari orang-orang yang menentangnya. Demikian juga kesabaran yang dimiliki orang-orang pada masa sekarang ini, hanyalah orang yang bersabar yang memiliki kedudukan yang tinggi dibanding orang-orang yang tidak sabar, berbagai problem dalam kehidupan bermasyarakat telah menjadi tolok ukur untuk menyaring siapa saja yang sanggup menghadapi berbagai permasalahan yang menimpa dan hanya orang-orang yang mampu bersabar yang akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Allah l berfirman di dalam surah Muhammad ayat 31 yang artinya: “Dan Sesungguhnya kami benar-benar akan menguji kamu agar kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu”.

Dalam hal ini ada dua golongan manusia ketika musibah datang sebagaimana banyaknya musibah yang terjadi akhir-akhir ini dari berbagai bencana alam baik tsunami, banjr, tanah longsor, gempa, dan erupsi gunung berapi yang telah membinasakan semua harta benda yang selama ini dijadikan kebanggaan sebagian orang Baca selanjutnya…

Kategori:Uncategorized

INDAHNYA KEBERSAMAAN DALAM ISLAM

Sebuah harapan yang sangat mulia, disaat kita hidup dalam masyarakat yang berbeda-beda suku, agama dan tradisi adalah indahnya kebersamaan dalam perbedaan. Islam adalah agama rohmatan lilalamin. Maknanya adalah bahwa Islam itu indah dan dihadirkan dengan keindahan untuk menuai keindahan. Islam bukan agama yang mendoktrin pengikutnya agar bembinasakan yang berbeda dengannya. Sungguh sangat berbeda dengan agama lain yang prinsip utama dalam menjaga kelestarianya adalah membinasakan semua yang berbeda dengannya dalam idiologi. Artinya menurutnya hidup bersama agama lain adalah butuh suatu toleransi. Maknanya adalah menyambut hidup dalam bersama dalam perbedaan adalah hanya sebatas perkenan atau toleransi yang artinya sebenarnya tidak boleh hidup bersamanya akan tetapi karna satu hal maka menjadi boleh.

Berbeda dengan Islam, menyambut keragaman dalam bermasyrakat adalah kewajiban bukan sekedar toleransi. Perbedaan agama bukan berarti harus membinasakan. Maka dari itu bisa dilahat ketetapan hukum dalam Islam bahwa dalam hidup bertetangga kita wajib memperhatikan tetangga kita biarpun ia berbeda agama dengan kita. Jika sakit kita wajib memberinya obat dan jika kelaparan kita wajib memberinya makan bahkan jika ada yang menggangunya kita harus menolongnya.

Akan tetapi ada hal yan harus diperhatikan bagi orang yang ingin menjalin kebersamaan dalam perbedaan yaitu pendirian dan prinsip. Orang yang tidak punya prinsip atau yang prinsip dalam beragamanya adalah membinasakan yang berbeda tidak akan bisa menjalin hidup bersama dalam berbedaan.

Jadi ada dua kelompok manusia yang mereka itu adalah musuh-musuh dalam kebersamaan
• Orang yang prinsip dan doktin agamanya tidak bisa menerima keberadaan agama lain. Seperti agama yahudi yang doktrin agama ini adalah manusia ini adalah lebih rendah dari binatang yang tidak boleh diberi kesempatan hidup, berkembang dan maju. Maka konflik yang terjadi antara yahudi dan Islam adalah konflik tidak mungkin diselesaikan dengan damai. Ketidak mungkinan ini bukan Karena Islam tidak memperkenankan atu tidak mau. Akan tetapi hal itu karena memang doktrin agama yahudi adalah agar membinasakan orang selain yahudi. Maka seandainya ada yahudi yang bersepakat untuk berdamai hal itu bukan berarti benar-benar akan memperjuangkan perdamain. Akan tetapi hal itu akan dijadikan kesempatan oleh mereka untuk mempersiapkan pembinasaan kepada yang berbeda. Maka perdamaian atau menjalin hidup indah dengan yahudi atau agama lain yang prinsip kelestarianya adalah membinasakan yang lain adalah mustahil kecuali mereka telah merubah semua doktrin pembinasaan yang amat mereka pegang dan yakini.

• Orang yang tidak punyak prinsip dalam beragama. Artinya ia sendiri tidak meyakini kebenaran agama yang dipeluknya. Sehingga mereka cenderung mengatakan semua agama sama-sama benar. Ini adalah sekelompok manusia yang tidak akan bisa hidup bersama dalam pebedaaan. Karena ia tidak tahu perbedaan maka iapun tidak mengerti bagaimana menyikapi perbedaan. Orang seperti ini akan sangat berbahaya kepada teman-temannya yang seiman. Orang ini akan mudah bergandengan dengan orang yang tidak seiman dengannya akan tetapi amat mudah membuat permusuhan kepada orang yang seiman. Ia akan selalu menjadi duri didalam daging bagi sahabat-sahabatnya. Dalam hal ini bisa kita lihat dalam Islam liberal. Orang yang bergabung dengan kelompok ini akan kehilangan prinsip dalam beragama. Tidak punya ketegasan dalam menentukan sebuah keyakinan. Bahkan hampir ia tidak mengerti kesesatan dalam beragama atau pelanggaran dalam beragama. Maka banyak orang yang melanggar agama justru dibelanya. Karna ia belum mengerti perbedaan yang harus disadari sebagai hal yang tidak harus menjadikanya bermusuhan dan beradu fisik. Sangat berbeda dengan ajaran Islam yang prinsip dasarnya adalah rahmatan lilalamin (membuat keindahan di jagat raya).

Maka didalam Islam ada prinsip ketegasan dalam menentukan perbedaan untuk kemudian disikapi dengan bijak dan benar sesuai dengan prinsip rahmatan lilalamin. Disaat agama Islam mengatakan agama lain adalah kafir dan salah bukan berati harus membinasakanya. Bahkan didalam Islam dilarang memerangi agama lain kecuali mereka memulai peperangan tersebut. Kita tidak boleh memulai membuat keributan dengan orang yahudi atau yang lainya, akan tetapi jika mereka telah memulai seperti yang terjadi di palestina saat ini maka kitapuan harus bangkit melawan mereka. Begitu juga dengan sesama yang seagama, Islam mengajarkan kemesraan yang sesungguhnya. Sungguh suatu yang mengherankan jika ada orang bisa mesra dengan orang lain akan tetapi dengan keluarga sendiri bermusuhan, maka belumlah ia menjadi pejuang keindahan dalam kebersamaan. Biasanya hal itu muncul dari musuh keindahan kelompok kedua yaitu orang-orang yang tidak punya prinsip.
Wallahu a’lam bishshowab.

Kategori:Uncategorized

MAULID NABI

1
Peringatan Maulid Nabi shallallahu `alaihi Wasallam
(Tinjauan Sejarah dan Hukumnya menurut islam) *
a. Sejarah peringatan maulid:
Seluruh ulama sepakat bahwa maulid Nabi tidak pernah diperingati pada masa Nabi
shallallahu `alaihi wasallam hidup dan tidak juga pada masa pemerintahan
khulafaurrasyidin.
Lalu kapan dimulainya peringatan maulid Nabi dan siapa yang pertama kali
mengadakannya?
Al Maqrizy (seorang ahli sejarah islam) dalam bukunya “Al khutath” menjelaskan
bahwa maulid Nabi mulai diperingati pada abad IV Hijriyah oleh Dinasti Fathimiyyun di
Mesir.
Dynasti Fathimiyyun mulai menguasai mesir pada tahun 362 H dengan raja
pertamanya Al Muiz lidinillah, di awal tahun menaklukkan Mesir dia membuat enam
perayaan hari lahir sekaligus; hari lahir ( maulid ) Nabi, hari lahir Ali bin Abi Thalib, hari
lahir Fatimah, hari lahir Hasan, hari lahir Husein dan hari lahir raja yang berkuasa.
Kemudian pada tahun 487 H pada masa pemerintahan Al Afdhal peringatan enam
hari lahir tersebut dihapuskan dan tidak diperingati, raja ini meninggal pada tahun 515 H.
Pada tahun 515 H dilantik Raja yang baru bergelar Al amir liahkamillah, dia
menghidupkan kembali peringatan enam maulid tersebut, begitulah seterusnya peringatan
maulid Nabi shallallahu `alaihi wasallam yang jatuh pada bulan Rabiul awal diperingati
dari tahun ke tahun hingga zaman sekarang dan meluas hampir ke seluruh dunia.
b.Hakikat Dynasti Fathimiyyun:
Abu Syamah (ahli hadist dan tarikh wafat th 665 H) Baca selanjutnya…

Kategori:Uncategorized

HUKUM AIR MADZI

Para ulama fiqih mengartikan air madzi di antaranya sebagai berikut:

المذى هو ماء أبيض رقيق يخرج بلا شهوة قوية عند ثورانها

Artinya: Air madzi adalah air yang berwarna putih, lembut (tidak terlalu kental), ia keluar bukan karena syahwat yang kuat (ada syahwat tapi tidak terlalu kuat).

Di antara ciri-ciri air madzi adalah:

Berwarna putih, lembut dan tidak kental.
Apabila dipegang terasa sedikit kasar
Keluar bukan karena syahwat yang kuat tapi syahwat yang kecil dan biasa. Misalnya, seseorang karena melihat sesuatu yang merangsang, tiba-tiba ada cairan di kemaluannya.
Keluarnya tidak menimbulkan kenikmatan dan tidak mengurangi syahwat, kebalikan dari air mani.
Keluarnya tidak terpancar, tapi keluar biasa seperti air mengalir
Setelah air ini keluar, badan tidak terasa letih dan tidak terasa lemas.

Perlu juga saya sampaikan, sering keluar air madzi adalah wajar, normal, bukan kelainan kelamin. Umumnya terjadi kepada laki-laki atau perempuan yang sudah masuk puber dan belum menikah. Biasanya, begitu sudah menikah, jarang lagi keluar madzi. Dan perlu diketahui, perempuan jauh lebih banyak keluar madzi dari pada laki-laki.
Saya katakan bukan kelainan kelamin, karena ini juga pernah menimpa Imam Ali bin Abi Thalib. Perhatikan dalam hadits muttafaq ‘alaih berikut ini:

عَنْ عَلِىٍّ بن أبي طالب قَالَ: كُنْتُ رَجُلاً مَذَّاءً، وَكُنْتُ أَسْتَحْيِى أَنْ أَسْأَلَ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم لِمَكَانِ ابْنَتِهِ، فَأَمَرْتُ الْمِقْدَادَ بْنَ الأَسْوَدِ فَسَأَلَهُ، فَقَالَ: ((يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَيَتَوَضَّأُ)) [متفق عليه]

Artinya: “Ali bin Abi Thalib berkata: “Saya adalah seseorang yang banyak keluar air madzi. Saya malu bertanya kepada Rasulullah saw karena kedudukan putrinya (maksudnya karena putri Rasulullah saw adalah istri Ali). Saya lalu meminta al-Miqdad bin al-Aswad untuk menanyakannya, dan Rasulullah saw menjawab: “Kemaluannya dicuci dan berwudhu” (HR. Muttafaq a’laih).

Dari hadits ini para ulama mengambil beberapa kesimpulan hukum, seperti misalnya yang disampaikan oleh Imam Nawawi dalan Syarah-nya terhadap Shahih Muslim:
Pertama, para ulama telah Ijma’ (sepakat), orang yang keluar madzi tidak wajib mandi besar. Yang mandi wajib besar adalah jika keluar air mani.
Kedua, air madzi adalah najis, dan karenanya harus dicuci. Jika air madzi tersebut mengena celana, atau baju, maka bagian celana atau baju yang terkena madzi tersebut harus dicuci, syukur-syukur diganti dengan celana atau baju lainnya. Jika air madzi tersebut tidak mengenai baju atau celana masih berada di ujung kemaluan, maka ujung kemaluan itu harus dicuci.
Ketiga, karena air madzi adalah najis, maka ia membatalkan wudhu. Artinya, ia harus berwudhu kembali jika hendak melakukan shalat.

Perlu juga diketahui, bahwa shalat lima waktu adalah kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah yang sudah balig. Selama dia hidup, apapun keadaannya, tetap diwajibkan melakukan shalat. Termasuk yang sering keluar air madzi, tetap wajib shalat. Apabila yang sakit parah dan sekarat saja, selama masih ingat, masih tetap wajib shalat, maka apalagi yang hanya sering keluar air madzi. Demikian Mas, terima kasih.

Hanya, seperti yang saya jelaskan di atas, setiap kali keluar air madzi, maka cuci bagian yang terkena, lalu wudhu lagi lalu shalat.
Namun, jika air madzi nya itu keluar di luar normal, misalnya bukan karena melihat sesuatu yang merangsang sedikit, akan tetapi sudah seperti penyakit, bahwa ia keluar kapan saja dan terus menerus sekalipun tidak ada sedikit syahwat, maka yang demikian dikategorikan ‘udzur syar’i. Sebagaimana dengan darah istihadhah.

Untuk yang ‘udzur ini, maka begitu ia melihat ada air madzi keluar, cuci terlebih dahulu bagian yang terkena air madzi tersebut, lalu shalatlah. Jika di tengah shalat air itu keluar lagi, maka teruskan shalat dan tidak perlu mengulangi wudhu. Hanya, perlu juga diketahui, untuk yang kondisi ‘udzur ini, satu wudhu hanya dapat dipakai untuk satu shalat. Tidak boleh satu wudhu untuk dua shalat. Misalnya, wudhu untuk shalat zhuhur, hanya dapat dipakai untuk shalat zhuhur saja. Begitu hendak shalat Ashar, ia harus mencuci bagian yang terkena madzi lagi dan harus wudhu lagi. Demikian seterusnya.

Perlu juga diketahui, kata madzi boleh dibaca dengan tiga bacaan.
Pertama, boleh dibaca madzyi (dengan membaca fathah huruf mim dan membaca sukun huruf dza).
Kedua, boleh dibaca madziyy (dengan membaca kasrah huruf dza, dan mentasydid huruf ya).
Ketiga, boleh juga dibaca madzi (dengan membaca kasrah huruf dza dan membaca sukun huruf ya).

Hanya, dari ketiga bacaan di atas, menurut Imam Nawawi, bacaan yang paling masyhur dan tepat adalah bacaan pertama, yaitu madzyi. Demikian, semoga bermanfaat, wallâhu a’lam bis shawâb.

sumber
http://www.penerbitzaman.com

Kategori:Uncategorized

BOLEHKAH MERUQIYAH DIRI SENDIRI?

Sumber: Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, Darul Haq Cetakan: VI. 2011.

Pertanyaan:
Apakah mungkin bagi seorang muslim mengobati dirinya dengan dirinya sendiri dengan cara membaca dan meludah sedikit di air?

Jawaban:
Meruqyah Diri Sendiri

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam apabila merasakan sakit, meludah sedikit di tangannya (tiga kali) dengan membaca Qulhuwallahu Ahad dan Mu’awwidzatain (An Nas dan Al Falaq), beliau mengusap dengan kedua tangannya pada setiap kali apa yang bisa disentuh dari bagian tubuhnya ketika beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam akan tidur, dimulai dengan kepala, wajah dan dadanya. Sebagaimana yang diberitakan Aisyah dalam hadis yang shahih. Jibril merquyah beliau di air ketika sakit dengan ucapannya, “Dengan nama Allah aku meruqyahmu, dari setiap penyakit yang menyakitimu, dari kejahatan setiap jiwa atau ‘ain orang yang dengki, Allah akan menyembuhkanmu, dengan nama Allah aku meruqyahmu.” (tiga kali) dan ruqyah ini disyariatkan dan bermanfaat.

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam membaca di air untuk Tsabit Qais dan memerintahkan menyiramkan air tersebut untuknya, sebagaimana Abu Daud meriwayatkan hal itu dalam Ath-Thib dengan isnad yang hasan, dan berbagai macam ruqyah lainnya selain ruqyah ini yang terjadi di masanya. Di antaranya bahwa beliau meruqyah sebagaian orang yang sakit dengan doa beliau, “Ya Allah, Rab manusia, hilangkanlah penyakit dan sembuhkanlah, Engkaulah Yang Maha Menyembuhkan, tidak ada kesembuhan selain kesembuhan (yang berasal dari)Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan sakit yang lain.”

Kategori:Uncategorized

BAGAIMANA HUKUM ORANG YANG TDK BERHUKUM ALLAH?

Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdur Rahman Al-Jibrin hafizhahullah. Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Al-Syaikh rahimahullah dalam risalahnya berjudul: “Penerapan Hukum Sekuler”, menyatakan bahwa menerapkan hukum selain hukum Allah adalah kekafiran yang berat. Beliau berkata: “Hal ini merupakan kekafiran yang paling berat, paling menyeluruh, paling jelas perlawanannya terhadap syariat, keangkuhannya terhadap hukum Allah, penentangannya terhadap hukum Allah dan Rasul-Nya, serta pelecehannya terhadap peradilan-peradilan syariat, baik sebagai lembaga, pengawasan, bentuk formalitas, hukum dan penerapan, serta sumber dan landasannya.

Sebagaimana peradilan-peradilan syariat memiliki sumber-sumber dan landasan-landasan, yaitu seluruhnya bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka peradilan-peradilan sekuler juga mempunyai sumber-sumber, yaitu undang-undang yang diramu dari berbagai macam hukum dan banyak undang-undang, seperti Hukum Perancis, Hukum Amerika, Hukum Inggris, dan hukum-hukum lain, juga bersumber pada aliran-aliran bid’ah yang mengatasnamakan syariat dan lain-lainnya.

Peradilan-peradilan seperti ini sekarang banyak terdapat di negeri-negeri Islam. Pintunya terbuka sehingga banyak orang pergi ke peradilan ini. Mereka bagaikan meneguk air fatamorgana. Para hakimnya memutuskan perkara mereka dengan hukum yang menyalahi Al-Qur’an dan Sunnah karena mereka mengambil hukum dan berpegang kepada undang-undang sekuler dan menerapkannya kepada mereka. Maka dari itu, kekafiran manakah yang lebih berat daripada kekafiran ini?” [1]

Pada jawabannya yang lain beliau rahimahullah berkata: “Adapun terhadap orang yang berkata bahwa kekafiran dalam hal ini bukanlah kekafiran yang hakiki bilamana seseorang yang menerapkan hukum selain hukum Allah tetap berkeyakinan bahwa perbuatannya ia adalah perbuatan durhaka dan hukum yang benar adalah hukum Allah, maka dapat dikatakan bahwa inilah yang dinamakan perbuatan iblir. Adapun orang yang membuat undang-undang sekuler maka ia telah kafir sekalipun mereka mengakui bahwa mereka telah berbuat salah dan hukum syariat lebih adil.” [2]

Syaikh yang terhormat, bukankah perkataan Syaikh Muhammad bin Ibrahim itu benar sejalan dan selaras dengan kaidah-kaidah Ahlus Sunnah? Adakah perkataan lain dari Syaikh Muhammad bin Ibrahim yang bertentangan dengan perkataannya terdahulu? Hal ini karena salah seorang teman kami orang Mesir bernama Khalid Al-Anbari di dalam bukunya berjudul: “Menerapkan Hukum Selain Hukum Allah dan Dasar-dasar Berpikir”, menulis bahwa Syaikh Muhammad bin Ibrahim menyatakan perkataan lain dan hal itu dikaitkan kepada anda. Di dalam bukunya itu ia berkata: “Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdur Rahman Al-Jibrin menceritakan kepada saya bahwa Syaikh Muhammad bin Ibrahim telah menyatakan pendapat lain…” (hlm. 131)

Kami mengharap dari anda jawaban yang cukup jelas dalam masalah ini. Semoga Allah memberi balasan kebaikan kepada anda.

Jawab:

Segala pernyaaan syukur bagi Allah semata. Selanjutnya, Syaikh kita dan ayah kami Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Al-Syaikh adalah seorang yang sangat keras menolak hal-hal yang dibuat-buat dan perkara-perkara bid’ah. Perkataan beliau sebagaimana yang telah disebutkan adalah hal yang paling jelas berkenaan pendapat beliau tentang undang-undang atau hukum sekuler. Kami pernah mendengar perkataan beliau tentang suatu keputusan bahwa beliau mencela dan bersikap keras kepada ahli bid’ah, termasuk mereka yang menyalahi syariat dan membuat hukum atau undang-undang yang menyaingi hukum Allah. Beliau berlepas diri dari perbuatan-perbuatan mereka dan menyatakan bahwa mereka itu telah murtad serta keluar dari Islam, karena orang-orang seperti ini telah melecehkan syariat, termasuk hukum-hukumnya, dan menganggap syariat sebagai hukum kejam, seperti hukum qishash pada perkara pembunuhan, hukum potong tangan pada perkara pencurian, hukum rajam pada perkara perzinaan. Mereka membolehkan manusia melakukan perbuatan zina selama suka sama suka, dan sebagainya. Amat sering beliau menyatakan penentangannya terhadap hal ini ketika beliau menyampaikan pelajaran fiqh, aqidah, dan tauhid.

Saya tidak pernah ingat bahwa beliau mencabut pendapatnya itu atau beliau mempunyai pernyataan yang membenarkan penerapan hukum selain hukum Allah atau memberikan jalan kepada manusia untuk menerapkan hukum thaghut dengan menjalankan hukum selain hukum Allah. Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab menganggap mereka ini sebagai tokoh-tokoh thaghut. Barangsiapa yang menceritakan dari saya bahwa beliau telah mencabut pernyataan beliau, maka ceritanya itu sungguh salah. Rujukan bagi hal seperti ini adalah ketetapan-ketetapan syariat dalam Al-Qur’an dan Sunnah serta pernyataan ulama-ulama terkemuka seperti yang tersebut dalam Kitaabut Tauhiid, bab firman Allah: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu?” (QS. An-Nisaa’: 60) dan penjelasan-penjelasannya yang disusun oleh para tokoh dakwah Islam serta buku-buku lain yang memberi penjelasan secara gamblang mengenai masalah ini. Wallaahu a’lam.

Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarganya, dan para shahabatnya. [Fatwa Syaikh Ibnu Jibrin pada 14/5/1417 H]

Soal: Apakah orang yang tidak menerapkan hukum Allah dinyatakan kafir dengan kekafiran yang berat tetapi amal-amalnya masih diterima?

Jawab:

Segala pernyataan syukur bagi Allah semata. Shalawat dan salam untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarganya, dan para shahabatnya. Allah berfirman:

“… Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Maaidah: 44)

“… Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah maka mereka itu adalah orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Maaidah: 45)

“… Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Maaidah: 47)

Jika orang itu beranggapan halal berbuat demikian dan berkeyakinan boleh menerapkan hukum selain hukum Allah, maka ia telah kafir dengan kekafiran yang berat, melakukan kezhaliman yang berat, dan melakukan kefasikan yang amat berat, yang mengeluarkannya dari Islam. Akan tetapi, bila ia berbuat demikian itu karena suap atau maksud lain sedangkan dirinya tetap berkeyakinan bahwa menerapkan hukum selain hukum Allah adalah haram maka ia telah berbuat dosa dan dianggap melakukan kekafiran ringan, kezhaliman ringan, dan kefasikan ringan, tidak menyebabkannya keluar dari Islam. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh para ahli ilmu dalam menafsirkan ayat-ayat tersebut.

Billaahit taufiiq. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarganya, dan para shahabatnya. [Fataawa Lajnah Daaimah lil Buhutsil Ilmiyyah wal Ifta’, hlm. 540]

Soal: Apakah para hakim yang memutuskan perkara dengan hukum-hukum selain hukum Allah dikategorikan kafir? Jika kita mengatakan bahwa mereka itu muslim, bagaimanakah penjelasan kita tentang firman Allah:

“… Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Maaidah: 44)

Jawab:

Para hakim yang memutuskan perkara dengan hukum selain hukum Allah ada beberapa macam. Keadaan mereka berbeda-beda sesuai dengan keyakinan mereka dan perbuatan mereka.

Hakim yang memutuskan perkara menggunakan hukum selain hukum Allah dengan anggapan bahwa hukum yang diterapkannya itu lebih baik daripada syariat Allah maka ia telah kafir berdasarkan pendapat segenap kaum muslim. Begitu pula orang yang menetapkan hukum-hukum sekuler sebagai ganti dari hukum Allah dan beranggapan bahwa hal seperti itu boleh dilakukan maka ia telah kafir. Demikianlah, karena orang ini telah menghalalkan apa yang diharamkan Allah, sekalipun ia beranggapan bahwa hukum syariat lebih baik daripada hukum sekuler.

Adapun hakim yang menerapkan hukum selain syariat Allah guna mengikuti hawa nafsu atau suap atau rasa permusuhan antara dirinya dengan terdakwa atau terhukum atau sebab-sebab lain dan menyadari bahwa dirinya telah melakukan tindakan durhaka kepada Allah dan dirinya wajib melaksanakan syariat Allah, maka orang seperti ini dikategorikan sebagai pelaku kedurhakaan dan dosa besar. Ia juga dianggap telah melakukan kekafiran ringan, kezhaliman ringan, dan kefasikan ringan, seperti yang dimaksud dalam pernyataan Ibnu ‘Abbas, Thawus, dan sejumlah ulama salaf yang shalih serta hal ini telah populer di kalangan ahli ilmu. Wallahu waliyyut taufiiq. [Syaikh Bin Baz, Majallatud Dakwah, no. 963, 1405 H]

Soal: Bagaimana hukumnya orang yang menetapkan hukum dengan selain hukum Allah?

Jawab:

Menetapkan hukum dengan hukum Allah termasuk melaksanakan tauhid rububiyyah karena menerapkan hukum Allah merupakan tuntutan dari rububiyyah Allah, kesempurnaan kekuasaan-Nya, dan pengendalian-Nya terhadap makhluk-Nya. Oleh karena itu, orang-orang yang menjadi panutan dalam menetapkan hukum di luar hukum Allah, Allah namakan sebagai sesembahan (arbaab) bagi pengikut merek. Allah berfirman:

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mempertuhankan) Al-Masih putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At-Taubah: 31)

Para panutan ini Allah namakan arbaab (sesembahan) karena mereka ini dijadikan sebagai pembuat hukum di samping Allah; dan para pengikutnya disebut sebagai penyembah karena mereka mendudukkan diri dan menaati mereka dalam mengingkari hukum Allah.

Ady bin Hatim berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya mereka tidak menyembah para pemimpin mereka.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda:

“Bukankah mereka itu mengharamkan hal yang halal dan menghalalkan hal yang haram kepada pengikutnya lalu para pengikut itu mengikuti mereka? Itulah yang dinamakan mereka menyembah para pemimpin mereka.” [3]

Jika anda memahami hal ini maka ketahuilah bahwa orang yang tidak menghukum dengan hukum Allah dan berkehendak berhukum kepada selain Allah dan Rasul-Nya maka beberapa ayat Al-Qur’an menyatakan bahwa orang seperti ini tidak beriman dan beberapa ayat lain mengatakan bahwa ia kafir, zhalim, dan fasik.

Adapun golongan pertama, contohnya tersebut pada firman Allah:

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.

Apabila dikatakan kepada mereka: ‘Marilah kalian (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul,’ niscaya kamu lihat oraog-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.

Maka dari itu, bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa suatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: ‘Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna.’

Mereka itu adalah orang-orang yang diketahui Allah apa yang ada dalam hati mereka. Oleh karena itu, berpalinglah kamu dari mereka dan berilah mereka pelajaran dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.

Kami tidak mengutus seorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allag. Sungguh jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu lalu memohon ampun kepada Allah dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Maka dari itu, demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian dalam hati mereka tidak merasa keberatan terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerimanya dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisaa’: 60-65)

Allah menyebutkan orang yang mengaku beriman tetapi sebenarnya munafik dengan ciri-ciri sebagai berikut:

1. Mereka menghendaki berhukum kepada thaghut, yaitu setiap ketentuan yang menyalahi hukum Allah dan Rasul-Nya. Setiap perbuatan yang menyalahi hukum Allah dan Rasul-Nya dikatakan sebagai kedurhakaan dan permusuhan terhadap hukum dari pihak yang berhak menetapkan hukum dan menjadi tempat kembali semua urusan, yaitu Allah. Allah berfirman:

“… Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-A’raaf: 54)

2. Mereka berpaling dan menjauh bila dipanggil untuk mengikuti hukum Allah dan Rasul-Nya.

3. Bila mereka mendapat musibah karena perbuatan mereka sendiri, mereka datang ke hadapan kaum muslim dengan bersumpah bahwa mereka hanya menghendaki kebaikan dan taufik dari Allah. Hal ini sebagaimana sifat orang-orang sekarang yang menolak hukum Islam dan menerapkan undang-undang sekuler yang menyalahi syariat Islam karena beranggapan bahwa hal ini merupakan suatu kebaikan yang sejalan dengan keadaan masa kini.

Allah kemudian mengingatkan orang-orang beriman terhadap orang-orang dengan ciri-ciri tersebut di atas bahwa Allah mengetahui isi hati dan perbuatan-perbuatan mereka yang bertentangan dengan pernyataan mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh agar tetap berlaku baik dan berkata kepada mereka dengan kata-kata yang menyentuh hati. Allah kemudian menjelaskan hikmah pengiriman Rasul-Nya yaitu supaya beliau dijadikan panutan ditaati dan diikuti, bukan mengikuti orang lain, sekalipun orang lain itu pemikirannya kuat dan pengetahuannya luas. Selanjutnya, Allah bersumpah kepada Rasul-Nya dengan sifat rububiyyah-Nya yang merupakan sifat khusus rububiyyah yang mengandung isyarat bahwa kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah benar. Allah bersumpah dengan kerasulan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ini sebagai sumpah yang menegaskan bahwa tidaklah patut seseorang dinyatakan benar-benar beriman kecuali memenuhi tiga syarat:

1. Harus senantiasa berhakim kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam setiap perselisihan yang terjadi.

2. Lapang dada menerima keputusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan hatinya sedikit pun tidak merasa berat dan sempit.

3. Menerima sepenuh hati apa yang diputuskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan melaksanakannya tanpa penundaan atau pun penyimpangan.

Adapun golongan kedua, contohnya tersebut pada firman Allah:

“… Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Maaidah: 44)

“… Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah maka mereka itu adalah orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Maaidah: 45)

“… Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Maaidah: 47)

Apakah tiga macam ciri yang tersebut pada ayat di atas terkena pada satu orang? Maksudnya, apakah setiap orang yang tidak menerapkan hukum Allah disebut kafir, zhalim, dan fasik sekaligus? Karena Allah menyebutkam orang kafir itu zhalim dan fasik seperti pada firman-Nya:

“… Orang-orang kafir itulah orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Baqarah: 254)

“… Sungguh mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.” (QS. At-Taubah: 84)

Apakah setiap orang kafir itu zhalim lagi fasik atau ciri-ciri tersebut ditujukan kepada beberapa orang sesuai dengan keadaan mereka yang tidak melaksanakan hukum Allah? Menurut saya, pendapat kedualah yang lebih dekat kepada kebenaran. Wallahu a’lam.

Maka dari itu, kami katakan bahwa orang yang tidak menghukum dengan hukum Allah karena meremehkannya atau merendahkannya atau menganggap bahwa hukum lain lebih baik dan lebih bermanfaat bagi manusia berarti telah kafir dengan kekafiran yang menjadikannya keluar dari Islam. Termasuk dalam golongan ini adalah orang-orang yang membuat undang-undang yang menyalahi syariat Islam sehingga menjadi pegangan bagi manusia dalam kehidupannya. Mereka tidaklah membuat undang-undang yang menyalahi syariat Islam itu melainkan karena adanya keyakinan bahwa undang-undang tersebut lebih baik dan bermanfaat bagi manusia daripada syariat Islam. Demikianlah, karena telah sesuai akal, fitrah, dan tabiat manusia bahwa manusia tidak akan meninggalkan suatu cara untuk berpindah kepada cara lain kecuali adanya keyakinan bahwa cara yang lain itu lebig baik dan cara yang ditinggalkan itu memiliki kekurangan.

Barangsiapa tidak menghukum dengan hukum Allah tetapi tidak ada perasaan merendahkan atau meremehkan dan tidak pula beranggapan bahwa hukum lain lebih baik dan lebih bermanfaat bagi manusia, tetapi ia menerapkan hukum lain karena didorong oleh keinginan membalas dendam atau menunjukkan kekuasaannya kepada terhukum atau terdakwa atau dorongan lainnya, maka orang seperti ini termasuk orang zhalim, bukan kafir. Tingkat kezhalimannya berbeda-beda sesuai dengan keputusan hukum dan cara-caranya menghukum.

Barangsiapa tidak menghukum dengan hukum Allah bukan karena meremehkan hukum Allah atau merendahkannya dan tidak pulaberanggapan bahwa hukum lain lebih baik dan lebih bermanfaat bagi manusia, tetapi ia menerapkan hukum lain itu karena cintanya kepada terdakwa atau terhukum atau karena suap dan kesenangan duniawi lainnya, maka orang seperti ini termasuk orang fasik, bukan kafir. Tingkat kefasikannya berbeda-beda sesuai dengan keputusan hukum dan cara-caranya menetapkan hukum.

Syaikh Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyatakan bahwa orang-orang yang menjadikan pendeta dan ulama mereka sebagai sesembahan selain Allah terbagi kd dalam dua golongan:

1. Mereka yang menyadari bahwa ulama mereka telah menukar agama Allah dan mereka mengikuti peraturannya yang menyimpang dari agama Allah. Mereka menghalalkan yang diharamkan atau mengharamkan yang dihalalkan Allah karena mengikuti ulama mereka padahal mereka menyadari bahwa ulama itu menyalahi agama Rasul Allah; maka orang seperti ini telah kafir dan mereka telah menjadikan para ulama sederajat atau sekutu bagi Allah dan Rasul-Nya.

2. Mereka yang yakin dan percaya bahwa ulama mereka tidak berhak menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal -demikian kalimat yang dinukil dari beliau- tetapi mereka tetap menaati para ulama yang berbuat durhaka kepada Allah, seperti halnya seorang muslim yang melakukan perbuatan maksiat yang diyakininya memang maksiat, maka orang seperti ini dihukumkan seperti golongan yang berbuat dosa. [Syaikh Ibnu Utsaimin, Fataawal ‘Aqiidah, hlm. 208-212]

Catatan kaki:

[1] Fataawa, Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Al-Syaikh, juz 12, hlm. 289-290.

[2] Fataawa, Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Al-Syaikh, juz 12, hlm. 280.

[3] Tirmidzi no. 3095 dalam Kitaabut Tafsiir. Thabari dalam Kitab Tafsir-nya, juz 6/80-81. Baihaqi dalam Kitab Syuabul Iman, juz 10/116. Thabarani dalam Al-Kabiir, juz 17/218-219. Hadits ini mempunyai syawahid yang menguatkannya menjadi berderajat hasan.

Sumber: Fatwa Kontemporer Ulama Besar Tanah Suci, oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin dan Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan, penyusun: Khalid Al-Juraisy (penerjemah: Ustadz Muhammad Thalib), penerbit: Media Hidayah, cet. Pertama Rajab 1424 H / September 2003, hal. 99-110.

Kategori:Uncategorized

Makna Aqidah Dan Urgensinya

Kitab Tauhid 1
oleh: Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al fauzan

Aqidah Secara Etimologi
Aqidah berasal dari kata ‘aqd yang berarti pengikatan. Kalimat “Saya ber-i’tiqad begini” maksudnya: saya mengikat hati terhadap hal tersebut.

Aqidah adalah apa yang diyakini oleh seseorang. Jika dikatakan “Dia mempunyai aqidah yang benar” berarti aqidahnya bebas dari keraguan. Aqidah merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan hati dan pembenarannya kepada sesuatu.

Aqidah Secara Syara’
Yaitu iman kepada Allah, para MalaikatNya, Kitab-kitabNya, para RasulNya dan kepada Hari Akhir serta kepada qadar yang baik maupun yang buruk. Hal ini disebut juga sebagai rukun iman.

Syari’at terbagi menjadi dua: i’tiqadiyah dan amaliyah.

I’tiqadiyah adalah hal-hal yang tidak berhubungan dengan tata cara amal. Seperti i’tiqad (kepercayaan) terhadap rububiyah Allah dan kewajiban beribadah kepadaNya, juga beri’tiqad terhadap rukun-ru­kun iman yang lain. Hal ini disebut ashliyah (pokok agama). (1)

Sedangkan amaliyah adalah segala apa yang berhubungan dengan tata cara amal. Seperti shalat, zakat, puasa dan seluruh hukum-hukum amaliyah. Bagian ini disebut far’iyah (cabang agama), karena ia di­bangun di atas i’tiqadiyah. Benar dan rusaknya amaliyah tergantung dari benar dan rusaknya i’tiqadiyah.

Maka aqidah yang benar adalah fundamen bagi bangunan agama serta merupakan syarat sahnya amal. Sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta’ala:
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhan­nya.” (Al-Kahfi: 110)

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu ter­masuk orang-orang yang merugi.” (Az-Zumar: 65)

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allahlah agama yang bersih (dari syirik).” (Az-Zumar: 2-3)

Ayat-ayat di atas dan yang senada, yang jumlahnya banyak, menunjukkan bahwa segala amal tidak diterima jika tidak bersih dari syirik. Karena itulah perhatian Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam yang pertama kali adalah pelu­rusan aqidah. Dan hal pertama yang didakwahkan para rasul kepada umatnya adalah menyembah Allah semata dan meninggalkan segala yang dituhankan selain Dia.

Sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta’ala: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu’, …” (An-Nahl: 36)

Dan setiap rasul selalu mengucapkan pada awal dakwahnya: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada tuhan bagimu selainNya.” (Al-A’raf: 59, 65, 73, 85)

Pernyataan tersebut diucapkan oleh Nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib dan seluruh rasul. Selama 13 tahun di Makkah -sesudah bi’tsah- Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam mengajak manusia kepada tauhid dan pelurusan aqidah, karena hal itu merupakan landasan bangunan Islam. Para da’i dan para pelurus agama dalam setiap masa telah mengikuti jejak para rasul dalam berdakwah. Sehingga mereka memulai dengan dakwah kepada tauhid dan pelurusan aqidah, setelah itu mereka mengajak kepada se­luruh perintah agama yang lain.

(1) Syarah Aqidah Safariniyah, I, hal. 4.

Kategori:Uncategorized

PONDASI ISLAM ITU TAUHID

“Dan sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang Rasul (untuk menyeru) agar beribadah hanya kepada Allah saja (yaitu mentauhidkan-Nya) dan menjauhi thaghut…” [An-Nahl: 36]

Tauhid menurut bahasa (etimologi) diambil dari kata: æóÍøóÏó¡ íõæóÍöøÏõ¡ ÊóæúÍöíúÏðÇ artinya menjadikan sesuatu itu satu.

Sedangkan menurut ilmu syar’i (terminologi), tauhid berarti mengesakan Allah Azza wa Jalla terhdap sesuatu yang khusus bagi-Nya, baik dalam Uluhiyyah, Rububiyyah, maupun Asma’ dan Sifat-Nya.

Tauhid berarti beribadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla saja.

[A]. Macam-Macam Tauhid

[1]. Tauhid Rububiyyah
Tauhid Rububiyyah berarti mentauhidkan segala apa yang dikerjakan Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik mencipta, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan. Allah adalah Raja, Penguasa dan Rabb yang mengatur segala sesuatu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“… Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam.” [Al-A’raaf: 54]

Allah Azza wa Jalla berfirman.

“…Yang (berbuat) demikian itulah Allah Rabb-mu, kepunyaanNya-lah segala kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah, tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.” [Faathir: 13]

Kaum musyrikin pun mengakui sifat Rububiyyah Allah. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla.

“Katakanlah (Muhammad): ‘Siapakah yang memberi rizki kepadamu, dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka, mereka menjawab: ‘Allah.’ Maka, katakanlah, ‘Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?’ Maka, (Dzat yang demikian) itulah Allah, Rabb kamu yang sebenarnya, maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka, mengapa kamu masih berpaling (dari kebenaran)?” [Yunus: 31-32]

Firman Allah Azza wa Jalla.

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ Pastilah mereka akan menjawab, ‘Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Mahamengetahui.’” [Az-Zukhruuf: 9] [1]

Kaum musyrikin pun mengakui bahwasanya hanya Allah semata Pencipta segala sesuatu, Pemberi rizki, Pemilik langit dan bumi, dan Pengatur alam semesta. Namun mereka juga menetapkan berhala-berhala yang mereka anggap sebagai penolong, mereka bertawassul dengannya (berhala tersebut) dan menjadikan mereka sebagai pemberi syafa’at, sebagai-mana yang disebutkan dalam beberapa ayat.[2]

Dengan perbuatan tersebut, mereka tetap dalam keadaan musyrik, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Dan kebanyakan dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sesembahan-sesembahan lain).” [Yusuf: 106]

Sebagian ulama Salaf berkata, “Jika kalian bertanya kepada mereka, ‘Siapa yang menciptakan langit dan bumi?’ Mereka pasti menjawab, ‘Allah.’ Walaupun demikian mereka tetap saja menyembah kepada selain-Nya.” [3]

[2]. Tauhid Uluhiyyah
Tauhid Uluhiyyah artinya mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui segala pekerjaan hamba, yang dengan cara itu mereka bisa mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala apabila hal itu disyari’atkan oleh-Nya, seperti berdo’a, khauf (takut), raja’ (harap), mahabbah (cinta), dzabh (penyembelihan), bernadzar, isti’aanah (minta pertolongan), istighatsah (minta pertolongan di saat sulit), isti’adzah (meminta perlindungan) dan segala apa yang disyari’atkan dan diperintahkan Allah Azza wa Jalla dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Semua ibadah ini dan lainnya harus dilakukan hanya kepada Allah semata dan ikhlas karena-Nya. Dan ibadah tersebut tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah.

Sungguh Allah tidak akan ridha bila dipersekutukan dengan sesuatu apa pun. Bila ibadah tersebut dipalingkan kepada selain Allah, maka pelakunya jatuh kepada Syirkun Akbar (syirik yang besar) dan tidak diampuni dosanya (apabila dia mati dalam keadaan tidak bertaubat kepada Allah atas perbuatan syiriknya). (An-Nisaa: 48, 116)[4]

Al-ilaah artinya al-ma’luuh, yaitu sesuatu yang disembah dengan penuh kecintaan serta pengagungan.

Allah Azza wa Jalla berfirman.

“Dan Rabb-mu adalah Allah Yang Maha Esa, tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Dia. Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” [Al-Baqarah: 163]

Syaikh al-‘Allamah ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di (wafat th. 1376 H) rahimahullah berkata, “Bahwasanya Allah itu tunggal Dzat-Nya, Nama-Nama, Sifat-Sifat dan perbuatan-Nya. Tidak ada sekutu bagi-Nya, baik dalam Dzat-Nya, Nama-Nama, dan Sifat-Sifat-Nya. Tidak ada yang sama dengan-Nya, tidak ada yang sebanding, tidak ada yang setara dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Tidak ada yang menciptakan dan mengatur alam semesta ini kecuali hanya Allah. Apabila demikian, maka Dia adalah satu-satunya yang berhak untuk diibadahi dan Allah tidak boleh disekutukan dengan seorang pun dari makhluk-Nya.” [5]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Allah menyatakan bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Dia, (demikian pula) para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (yang menegakkan keadilan). Tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar selain Dia, Yang Maha Perkasa lagi Mahabijaksana.” [Ali ‘Imran: 18]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai Laata, ‘Uzza dan Manaat yang disebut sebagai ilah (sesembahan), namun tidak diberi hak Uluhiyyah.

“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu mengada-adakannya, Allah tidak menurunkan satu keterangan pun untuk (menyembah)-nya…” [An-Najm: 23]

Setiap sesuatu yang disembah selain Allah l adalah bathil, dalilnya adalah firman Allah Azza wa Jalla.

“Demikianlah (kebesaran Allah) karena sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang bathil, dan sesung-guhnya Allah, Dia-lah Yang Mahatinggi, Mahabesar.” [Al-Hajj: 62]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman tentang Nabi Yusuf ‘Alaihis sallam, yang berkata kepada kedua temannya di penjara:

“Wahai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Apa yang kamu sembah selain Dia hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang (nama-nama) itu…” [Yusuf: 39-40]

Oleh karena itu, para Rasul Alaihimus sallam menyeru kepada kaumnya agar beribadah hanya kepada Allah saja. [6]

”… Sembahlah Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada ilah yang haq selain Dia. Maka, mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” [Al-Mukminuun: 32]

Orang-orang musyrik tetap saja mengingkarinya. Mereka masih saja mengambil sesembahan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka menyembah, meminta bantuan dan pertolongan kepada sesembahan-sesembahan itu dengan menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pengambilan sesembahan-sesembahan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik ini telah dibatalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan dua bukti:

Pertama.
Sesembahan-sesembahan yang diambil itu tidak mempunyai keistimewaan Uluhiyyah sedikit pun, karena mereka adalah makhluk, tidak dapat menciptakan, tidak dapat memberi manfaat, tidak dapat menolak bahaya, tidak dapat menghidupkan dan mematikan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Namun mereka mengambil tuhan-tuhan selain Dia (untuk disembah), padahal mereka itu tidak menciptakan apa pun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) bahaya terhadap dirinya dan tidak dapat memberi manfaat serta tidak kuasa mematikan dan menghidupkan juga tidak (pula) dapat membangkitkan.” [Al-Furqaan: 3]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Katakanlah (Muhammad), ‘Serulah mereka yang kalian anggap (sebagai sesembahan) selain Allah! Mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat dzarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka sama sekali tidak mempunyai suatu saham (peran) pun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya. Dan tidaklah berguna syafa’at di sisi Allah, melainkan bagi orang yang telah diizinkan oleh-Nya (memperoleh syafa’at)…” [Saba’: 22-23]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Mengapa mereka mempersekutukan (Allah dengan) sesuatu (berhala) yang tidak dapat menciptakan sesuatu apa pun? Padahal berhala itu sendiri diciptakan dan (berhala itu) tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya bahkan berhala itu tidak dapat memberi pertolongan kepada dirinya sendiri.” [Al-A’raaf: 191-192]

Apabila demikian keadaan berhala-berhala itu, maka sungguh sangat bodoh, bathil dan zhalim apabila menjadi-kan mereka sebagai ilah (sesembahan) dan tempat meminta pertolongan.

Kedua.
Sebenarnya orang-orang musyrik mengakui bahwa Allah l adalah satu-satunya Rabb, Pencipta, yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu. Mereka pun mengakui bahwa hanya Allah yang dapat melindungi dan tidak ada yang dapat memberi-Nya perlindungan. Hal ini mengharuskan pengesaan Uluhiyyah (penghambaan), seperti mereka mengesakan Rububiyyah (ketuhanan) Allah. Tauhid Rububiyyah mengharuskan adanya konsekuensi untuk melaksanakan Tauhid Uluhiyyah (beribadah hanya kepada Allah saja).

“Wahai manusia, beribadahlah hanya kepada Rabb-mu yang telah menciptakan dirimu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. (Dia-lah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan hujan itu buah-buahan sebagai rizki untukmu, karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” [Al-Baqarah: 21-22]

[3]. Tauhid Asma’ wa Shifat Allah
Ahlus Sunnah menetapkan apa-apa yang Allah Subhanhu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah tetapkan atas diri-Nya, baik itu berupa Nama-Nama maupun Sifat-Sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mensucikan-Nya dari segala aib dan kekurangan, sebagaimana hal tersebut telah disucikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita wajib menetapkan Sifat-Sifat Allah, baik yang terdapat di dalam Al-Qur’an maupun dalam As-Sunnah, dan tidak boleh ditakwil.

Al-Walid bin Muslim pernah bertanya kepada Imam Malik bin Anas, al-Auza’i, al-Laits bin Sa’d dan Sufyan ats-Tsauri Radhiyallahu ‘anhum tentang berita yang datang mengenai Sifat-Sifat Allah, mereka semua menjawab:

ÃóãöÑøõæú åóÇ ßóãóÇ ÌóÇÁóÊú ÈöáÇó ßóíúÝó.

“Perlakukanlah (ayat-ayat tentang Sifat-Sifat Allah) seperti datangnya dan janganlah engkau persoalkan (jangan engkau tanya tentang bagaimana sifat itu).” [7]
Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata

ÂãóäúÊõ ÈöÇááåö¡ æóÈöãóÇ ÌóÇÁó Úóäö Çááåö Úóáóì ãõÑóÇÏö Çááåö¡ æóÂãóäúÊõ ÈöÑóÓõæúáö Çááåö æóÈöãóÇ ÌóÇÁó Úóäú ÑóÓõæúáö Çááåö Úóáóì ãõÑóÇÏö ÑóÓõæúáö Çááåö.

“Aku beriman kepada Allah dan kepada apa-apa yang datang dari Allah sesuai dengan apa yang dimaksud oleh Allah, dan aku beriman kepada Rasulullah dan kepada apa-apa yang datang dari beliau, sesuai dengan apa yang dimaksud oleh Rasulullah.” [8]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Manhaj Salaf dan para Imam Ahlus Sunnah adalah mengimani Tauhid al-Asma’ wash Shifat dengan menetapkan apa-apa yang Allah telah tetapkan atas diri-Nya dan apa-apa yang telah ditetapkan oleh Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk diri-Nya, tanpa tahrif[9] dan ta’thil[10] serta tanpa takyif[11] dan tamtsil[12]. Menetap-kan tanpa tamtsil, menyucikan tanpa ta’thil, menetapkan semua Sifat-Sifat Allah dan menafikan persamaan Sifat-Sifat Allah dengan makhluk-Nya.”

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [Asy-Syuuraa: 11]

Lafazh ayat: áóíúÓó ßóãöËúáöåö ÔóìúÁñ “Tidak ada yang sesuatu pun yang serupa dengan-Nya,” merupakan bantahan terhadap golongan yang menyamakan Sifat-Sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sifat makhluk-Nya.

Sedangkan lafazh ayat: æóåõæó ÇáÓøóãöíÚõ ÇáúÈóÕöí “Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat,” adalah bantahan terhadap orang-orang yang menafikan atau mengingkari Sifat-Sifat Allah.

[Disalin dari buku Prinsip Dasar Islam Menutut Al-Qur’an dan As-Sunnah yang Shahih, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan ke 2]

Kategori:Uncategorized
%d blogger menyukai ini: