Arsip

Posts Tagged ‘Ramadhan’

Sang “PENANTANG ALLAH”

ALI IMRAN-104

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS  ALI IMRAN : 104)

Jelas sudah bahwa setiap perintah Allah merupakan kewajiban bagi hamba-nya yang memiliki akal sehat. Hal ini untuk membuktikan bah Baca selengkapnya…

SHALAT TARAWIH (Qiyamu Ar-romdon)

Blitar, NU Online
Pesantren Mambaul Hikam Mantenan, Udanawu, Blitar, menyelenggarakan sembahyang Tarawih berjamaah. Kegiatan ibadah sebanyak 20 rekaat plus shalat sunah witir 3 rekaat ini, dikerjakan dalam waktu 15 menit.

Durasi yang singkat ini menarik perhatian anak muda di sekitar pesantren untuk mengikuti shalat sunah pada malam puasa itu. Jumlah jamaahnya sangat fantastis, lebih dari 5000 orang, baik tua maupun muda setiap malamnya.

Dari jumlah itu hampir 75 persennya adalah muda dan mudi. Mereka datang dari wilayah Kediri,Blitar, dan Tulungagung.

Pelaksanaan shalat Tarawih secara kilat itu sudah berlangsung secara turun-temurun dari generasi ke generasi, yakni mulai pesantren tersebut didirikan oleh KH Abdul Ghofur sekitar 160 tahun lalu.

“Saya ini hanya mengikuti apa yang sudah dilakukan oleh para sesepuh. Kami tidak berani mengubahnya,” kata KH Diya’uddin Az-Zamzami, salah seorang pengasuh pesantren Mambaul Hikam kepada NU Online pada suatu kesempatan.

Menurut Gus Diya’ yang juga anggota Jamiyah Ahlith thoriqoh Al-Mu’tabaroh Annahdliyah ( Jatman) itu, shalat secepat itu bisa dilakukan karena sang imam Tarawih hanya mengerjakan doa yang wajib-wajib misalnya niat, takbirotul ihram, baca Fatihah plus ayat pendek Al-Qur’an hingga salam.

“Doa ruku’, kita singkat cukup ‘Subhanallah. Lainnya hanya Allah-Allah saja.Tahiyat akhir juga hanya sampai bacaan shalawat untuk nabi Muhammad kemudian salam,” tandas Gus Diya’ yang juga salah seorang Mursyid Thoriqoh Naqshobandiyah Kholidiyah. 

Sementara Wakil Sekretaris PP LDNU H Syaifullah Amin mengatakan, di sini terjadi perbedaan keberkahan waktu. Artinya cepat atau lambat tidak mengurangi kekhusyu’an orang yang ibadah.
:
“Sebagian orang memang diberikan kelebihan oleh Allah dalam melipat waktu,” kata H Amin. (Imam Kusnin Ahmad/Alhafiz K)

Astaghfirullah..
Sumber : Grup WA ODOA

“Sedikit namun sempurna, Lebih baik daripada banyak namun sia-sia”

http://www.elkamilcentre.com

HATI DI BALIK DIRI

Kata QOLBUN (Hati) memiliki dua penggdawah insan muda
unaan dalam bahasa:

  1. Menunjukkan bagian yang paling murni dan paling mulia dari sesuatu.
  2. Bermakna merubah dan membalik sesuatu dari satu posisi ke posisi lain.

Kedua makna ini sesuai dengan makna hati secara istilah, karena hati merupakan bagian yang paling murni dan paling mulia dari seluruh makhluk hidup yang mempunyainya, dan ia (Hati) juga sangat rawan untuk berbolak-balik dan berubah haluan. Nabi SAW bersabda:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agamamu.” (HR. At-Tirmidzi dari Anas bin Malik)
Adapun letaknya, maka Al-Qur’an dan As-Sunnah menunjukkan bahwa dia terletak di dalam dada. Allah berfirman, “Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj: 46) Dan Nabi SAW juga bersabda tentang ketaqwaan:

“Ketakwaan itu di sini, ketakwaan itu di sini,seraya beliau menunjuk ke dada beliau”  (HR. Muslim dari Abu Hurairah). Dan tempat ketakwaan tentunya adalah dalam hati. Bertolak dari hal ini para ulama juga membahas mengenai letak akal. Seluruh kaum muslimin bersepakat -kecuali mereka yang terpengaruh dengan filosof dan ilmu kalam- bahwa akal itu terletak di dalam hati, bukan di otak. Allah SWT berfirman, “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat berakal dengannya.” (QS. Al-Hajj: 46) Baca selengkapnya…

ABDURRAHMAN BIN ‘AUF : Hadist yang diriwayatkannya

dawah insan mudaKebersamaan Abdurrahman bin Auf dengan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam membentang selama masa kenabian. Ia menemani beliau di Mekah dan Madinah, menghadiri mejelis-majelis beliau, dan menyertai hari-hari beliau bersama para shahabat dan kaum muslimin lainnya, sementara beliau mengajarkan syariat kepada mereka, mendidik mereka, dan mengarahkan mereka kepada jalan-jalan hidayah. Ibnu Auf juga berjihad di bawah panji beliau, dan tak pernah sekalipun absen dari seluruh peperangan yang beliau ikuti. Ia belajar langsung dari Al-Qur’an dari beliau saat diturunkannya, mengambil sunnah langsung dari lisan beliau, dan mendengar banyak sekali hadits selama masa yang membentang selama lebih kurang dua puluh tahun tersebut.

Di antara bukti keluasan ilmunya adalah dia merupakan salah seorang yang memberikan fatwa pada masa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan masa tiga khulafaur rasyidin setelah beliau. Umar dengan kadar keilmuan yang dimilikinya dan kedudukannya dalam ilmu juga mendatanginya pada banyak kesempatan, dan mendapatkan ilmu yang ia pelajari sebagiannya pada seorang alim umat ini yaitu Abdullah bin Abbas.

Namun riwayat yang dapat ditemukan dari Ibnu Auf tidak lebih dari 65 hadits saja. Ini sangat sedikit jika dibandingkan dengan rentang waktu kebersamaannya dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Namun keadaan ini juga dijumpai pada banyak shahabat yang seperti Abdurrahman Radhiyallahu Anhu.

Dan penjelasan tentang hal ini mudah sebagaimana yang dapat dilihat oleh penulis. Pada masa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, Abdurrahman adalah salah seorang pembantu dan pembela beliau, yang sibuk dalam menyampaikan dakwah dan risalah. Dan pada masa tiga khalifah, ia adalah salah satu pondasi dalam tegaknya negara Islam, serta salah seorang penasehat terdekat dan terpercaya pada masa para khalifah. Dan ini dikuatkan dengan pencalonannya untuk jabatan kepemimpinan tertinggi serta pemilihan Utsman setelah Umar. Juga kedudukannya sebagai pemimpin haji pada lebih dari satu kesempatan, hajinya bersama ummahatul mukminin, dan semua itu tentnya mengambil banyak sekali waktunya. Baca selengkapnya…

MENYAMBUT BULAN SUCI RAMADLON


dakwah insan mudaSegala puji bagi  Allah yang menjadika
n Ramadhan sebagai penghulu bulan-bulan dan melipatgandakan pahala kebaikan di dalamnya. Shalawat beserta salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Saw. yang telah diturunkan Al-Qur’an kepadanya sebagai petunjuk, rahmat, nasehat, dan penyembuh bagi manusia.

Alangkah bahagianya kaum muslimin dengan kedatangan bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan, bulan Al-Qur’an, bulan ampunan, bulan kasih sayang, bulan doa, bulan taubat, bulan kesabaran, dan bulan pembebasan dari api neraka. Bulan yang ditunggu-tunggu kedatangannya oleh segenap kaum muslimin. Bulan yang sebelum kedatangannya Rasulullah Saw. berdoa kepada Allah: “Ya Allah berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadan.” Bulan dimana orang-orang saleh dan para generasi salaf berdoa kepada Allah agar mereka disampaikan ke bulan Ramadhan enam bulan sebelum kedatangannya, Mualla bin al-Fadhl berkata: “Mereka (salaf) selama enam bulan  berdoa kepada Allah supaya disampaikan ke bulan Ramadhan, dan berdoa enam bulan selanjutnya agar amalan mereka pada bulan Ramadhan diterima.” Kenapa mereka begitu bersungguh-sungguh memohon kepada Allah agar disampaikan ke bulan Ramadhan? Mari kita dengarkan sabda Rasulullah Saw. Baca selengkapnya…

BEBERAPA PRODUK UNGGULAN

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

PEMBUKAAN CABANG DIM DI SELURUH KOTA INDONESIA

CABANG DIM BROSUR

 

 

FORMULIR PENDAFTARAN ANGGOTA DIM

UNTUK CABANG

 

Nama                                             :

Tempat & tanggal lahir            :

Alamat                                          :

Status                                            :                      Lajang                                               Menikah

Alamat email                              :

No HP                                          :

Saran untuk DIM                      :

Foto                                               :

Tanda tanga

Catatan :

  • Semua data akan disimpan oleh pengurus DIM Pusat, guna Dokumentasi bila suatu saat di butuhkan

KEUTAMAAN BULAN ROMADLON

1. KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN

1. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu :

Adalah Rasulullah SAW memberi khabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda, “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa didalamnya, pada bulan ini pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat, juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i)

2. Dari Ubadah bin AshShamit, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan, Allah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan do’a. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan membanggakanmu kepada para malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang yang sengsara ialah yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini.” (HR. Ath Thabrani, dan para periwayatnya terpercaya)., Al-Mundziri berkata: “Diriwayatkan olehAn-Nasa’i dan Al-Baihaqi, keduanya ari Abu Qilabah, dari Abu Hurairah, tetapi setahuku dia tidak pernah mendengar darinya.”

3. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Umatku pada bulan Ramadhan diberi lima keutamaan yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya, yaitu : bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari pada aroma kesturi, para malaikat memohonkan ampunan bagi mereka sampai mereka berbuka, Allah Azza Wa Jalla setiap hari menghiasi Surga-Nya lalu berfirman (kepada Surga), Hampir tiba saatnya para hamba-Ku yang shalih dibebaskan dari beban dan derita serta mereka menuju kepadamu, pada bulan ini para jin yang jahat diikat sehingga mereka tidak bebas bergerak seperti pada bulan lainnya, dan diberikan kepada ummatku ampunan pada akhir malam. “Beliau ditanya, ‘Wahai Rasulullah apakah malam itu Lailatul Qadar’ Jawab beliau, ‘Tidak. Namun orang yang beramal tentu diberi balasannya jika menyelesaikan amalnya.” (HR. Ahmad)” Isnad hadits tersebut dha’if, dan diantara bagiannya ada nash-nash lain yang memperkuatnya.

el-kamil ibnu ishaq

%d blogger menyukai ini: